PADANG PANJANG (SUMBAR).GP— Terpilihnya Dr. Yandri sebagai Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang menandai dimulainya babak baru bagi salah satu perguruan tinggi seni negeri penting di Indonesia tersebut.
Kini, perhatian tidak lagi semata tertuju pada proses pemilihan rektor, tetapi pada pekerjaan besar yang menanti setelah kepemimpinan baru terbentuk.
Ekspektasi terhadap Dr. Yandri cukup besar. Kepemimpinan baru diharapkan mampu menyatukan seluruh potensi sivitas akademika, membenahi tata kelola, memperkuat ruang kreativitas, serta memastikan pembangunan dan pemanfaatan fasilitas pendidikan berjalan sesuai kebutuhan akademik.
Di antara sejumlah agenda tersebut, Kampus II ISI Padang Panjang menjadi salah satu pekerjaan penting yang membutuhkan kejelasan arah dan langkah penyelesaian.
Keberadaan Kampus II diharapkan dapat menjawab kebutuhan ruang kuliah, studio, laboratorium, ruang pertunjukan, serta berbagai fasilitas pendukung yang terus berkembang.
Namun, sebelum berbicara tentang pemanfaatan, kepemimpinan baru perlu memiliki gambaran utuh mengenai kondisi pembangunan, status pekerjaan, persoalan kontrak, kebutuhan pembiayaan, hingga langkah penyelesaian yang memungkinkan dilakukan bersama kementerian dan pihak terkait.
Kampus II Bukan Sekadar Bangunan
Persoalan Kampus II tidak semestinya dilihat hanya sebagai proyek pembangunan fisik.
Di balik bangunan tersebut terdapat kebutuhan mahasiswa untuk mendapatkan ruang belajar dan berkarya yang layak. Ada kepentingan dosen dalam menjalankan proses akademik. Ada pula kepentingan negara dalam memastikan aset dan anggaran publik memberikan manfaat maksimal.
Karena itu, penyelesaian Kampus II memiliki dimensi yang lebih luas: pendidikan, tata kelola, penggunaan aset negara, pelayanan mahasiswa, dan kepercayaan publik.
Langkah awal kepemimpinan Dr. Yandri diharapkan dapat dimulai dengan pemetaan menyeluruh dan terbuka.
Apa yang sudah dikerjakan, apa yang belum selesai, kendala apa yang dihadapi, bagaimana posisi kontrak, berapa kebutuhan anggaran, dan opsi penyelesaian seperti apa yang dapat ditempuh.
Kejelasan atas persoalan tersebut akan menjadi dasar penting bagi pengambilan keputusan berikutnya.
Mengembalikan Kampus sebagai Ruang Kreativitas
Bagi perguruan tinggi seni, kampus bukan sekadar tempat berlangsungnya kuliah.
Kampus adalah ruang penciptaan.
Di dalamnya mahasiswa berlatih, bereksperimen, berdiskusi, menciptakan karya, melakukan produksi, melakukan pertunjukan, sekaligus membangun keberanian untuk menghadirkan gagasan baru.
Karena itu, studio, laboratorium, galeri, ruang latihan, ruang produksi, dan gedung pertunjukan merupakan bagian integral dari proses pendidikan.
Kepemimpinan baru diharapkan mampu memastikan fasilitas tersebut tidak hanya tersedia secara administratif, tetapi benar-benar hidup dan digunakan secara optimal.
Aturan penggunaan fasilitas tentu tetap diperlukan demi keamanan, ketertiban, dan perlindungan aset. Namun, tata kelola fasilitas idealnya berjalan seiring dengan kebutuhan kreativitas mahasiswa.
Jangan sampai birokrasi fasilitas justru menjadi tembok yang membatasi proses penciptaan.
Sebaliknya, kampus harus menjadi ruang yang memungkinkan mahasiswa dan dosen melahirkan karya sebanyak-banyaknya.
Festival seni, produksi musik, film, tari, teater, seni rupa, desain, kriya, hingga karya berbasis teknologi perlu mendapat dukungan sebagai bagian dari ekosistem akademik.
Tata Kelola Menjadi Fondasi Perubahan
Perubahan besar tidak mungkin hanya dibangun melalui gedung dan fasilitas.
Fondasi utamanya tetap tata kelola.
Kepemimpinan Dr. Yandri diharapkan membawa penguatan terhadap prinsip transparansi, akuntabilitas, profesionalitas, dan keadilan dalam pengelolaan institusi.
Perencanaan program dan penggunaan anggaran harus memiliki indikator yang jelas. Setiap kebijakan idealnya dapat dijelaskan dasar, tujuan, serta manfaatnya bagi institusi.
Demikian pula dengan penempatan pejabat dan pengelola unit kerja.
Kompetensi, rekam jejak, integritas, dan kemampuan manajerial perlu menjadi bagian penting dalam menentukan siapa yang dipercaya menjalankan roda organisasi.
Keadilan juga harus hadir dalam pengembangan karier, pembagian tanggung jawab, pemberian kesempatan, serta penghargaan terhadap kinerja.
Dengan demikian, perubahan tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan, tetapi berkembang menjadi perubahan budaya organisasi.
Mahasiswa Jangan Hanya Menjadi Penonton
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah perguruan tinggi bukan hanya berapa banyak program yang dilaksanakan atau berapa banyak gedung yang berdiri.
Ukuran yang paling dekat adalah apa yang dirasakan mahasiswa.
Apakah mereka mendapatkan ruang belajar yang layak?
Apakah mereka memiliki ruang untuk berkarya?
Apakah karya mereka mendapatkan dukungan?
Apakah proses akademik berlangsung secara sehat?
Apakah mereka memperoleh pelayanan yang cepat, adil, dan profesional?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting dalam merumuskan agenda kepemimpinan baru.
Mahasiswa harus ditempatkan sebagai subjek utama pendidikan, bukan sekadar penerima layanan administratif.
Dari Padangpanjang Menuju Panggung Dunia
ISI Padang Panjang memiliki modal budaya yang kuat.
Minangkabau, Melayu, dan berbagai kekayaan seni Nusantara dapat menjadi sumber pengetahuan, penelitian, penciptaan, dan inovasi yang memiliki nilai bukan hanya secara lokal, tetapi juga nasional dan internasional.
Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut diterjemahkan menjadi kekuatan akademik dan karya yang mampu berbicara di tingkat global.
Kerja sama dengan pemerintah daerah, kementerian, perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, dunia usaha dan industri, komunitas seni, serta mitra internasional perlu terus diperluas.
Pada saat yang sama, transformasi digital tidak boleh diabaikan.
Ekonomi kreatif, hilirisasi karya seni, perlindungan kekayaan intelektual, produksi konten digital, teknologi kreatif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan merupakan bagian dari perubahan ekosistem seni yang harus direspons secara akademik.
Namun, modernisasi tersebut tidak berarti meninggalkan identitas.
Justru, kekuatan budaya lokal harus menjadi fondasi untuk membangun reputasi global.
Kepemimpinan Baru Harus Merangkul Semua
Setelah kontestasi berakhir, tidak boleh ada lagi sekat kemenangan dan kekalahan.
Seluruh elemen kampus memiliki posisi penting dalam membangun ISI Padang Panjang.
Karena itu, kepemimpinan Dr. Yandri diharapkan mampu merangkul seluruh kelompok, membuka ruang dialog, mendengar kritik, dan membangun komunikasi yang sehat dengan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta seluruh pemangku kepentingan.
Kampus membutuhkan persatuan energi.
Perbedaan pandangan dalam sebuah institusi akademik merupakan hal yang wajar. Yang lebih penting adalah bagaimana perbedaan tersebut dikelola menjadi kekuatan untuk memperbaiki institusi.
Kemenangan Adalah Awal Pengabdian
Terpilihnya Dr. Yandri bukan garis akhir.
Justru di sinilah ujian sesungguhnya dimulai.
Publik kampus akan menunggu apakah harapan yang muncul setelah pemilihan rektor dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan kerja nyata.
Kampus II membutuhkan kejelasan.
Ruang berkarya membutuhkan penguatan.
Tata kelola membutuhkan transparansi.
Mahasiswa membutuhkan pelayanan.
Dosen dan tenaga kependidikan membutuhkan dukungan.
Dan ISI Padang Panjang membutuhkan visi yang mampu membawa kekuatan seni dan budaya lokal menuju panggung yang lebih luas.
Karena itu, kepemimpinan baru tidak cukup hanya menghadirkan slogan perubahan.
Perubahan harus terlihat dalam keputusan, terasa dalam pelayanan, terbaca dalam tata kelola, dan menghasilkan karya yang dapat dibanggakan.
Pada akhirnya, kemenangan dalam sebuah kontestasi kepemimpinan bukanlah tiket untuk berkuasa.
Kemenangan adalah amanah untuk bekerja, merangkul semua, membuka ruang kreativitas, membenahi yang perlu dibenahi, dan memastikan ISI Padangpanjang memiliki masa depan yang lebih kuat.
Dari Padang Panjang, seni dan budaya Minangkabau harus mampu berbicara kepada Indonesia—bahkan kepada dunia.
Pertegas fokus Kampus II
Tambahkan subjudul yang lebih tajam
Tambahkan tuntutan konkret kepada rektor
#GP | Ce






Tidak ada komentar:
Posting Komentar