Mahasiswa ISI Padang Panjang Desak Komitmen Hitam di Atas Putih, Tolak Aspirasi Hanya Diwakili HMJ - Go Parlement | Portal Berita

Mahasiswa ISI Padang Panjang Desak Komitmen Hitam di Atas Putih, Tolak Aspirasi Hanya Diwakili HMJ

Jumat, September 04, 2026

 


Padang Panjang (SUMBAR).GP — Penjelasan pimpinan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang terkait tuntutan mahasiswa belum sepenuhnya mengakhiri persoalan. 



Setelah mendapatkan jawaban mengenai anggaran, pembangunan fasilitas dan aturan jam malam, mahasiswa kini mendesak agar setiap komitmen pimpinan dituangkan secara hitam di atas putih, Jum'at (04/09/2026).



Mahasiswa juga meminta pertemuan lanjutan tidak dilakukan secara tertutup di dalam ruangan dan hanya melibatkan perwakilan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).



Mereka menginginkan forum terbuka yang digelar di depan lapangan Gedung Rektorat ISI Padang Panjang, sehingga seluruh mahasiswa dapat menyaksikan langsung pembahasan dan mengetahui keputusan yang dihasilkan.



Permintaan itu mengemuka setelah pimpinan kampus menyatakan bersedia melibatkan mahasiswa dalam merumuskan kembali kebijakan terkait jam malam serta mencari solusi atas persoalan keterbatasan fasilitas.



Bagi mahasiswa, pernyataan tersebut dinilai perlu memiliki kepastian waktu dan bentuk tindak lanjut yang kongkrit dan jelas.



“Kalau memang Bapak mengundang mahasiswa untuk merumuskan dan menyelesaikan persoalan jam malam, tentunya kami meminta hitam di atas putih. Kapan tuntutan kedua dan ketiga ini akan ditindaklanjuti?” ujar salah seorang mahasiswa dalam forum tersebut.



Mahasiswa juga mempertanyakan sampai kapan aturan jam malam akan diberlakukan dalam kondisi fasilitas kampus yang masih terbatas.



Menurut mereka, keterbatasan ruang membuat aktivitas latihan, produksi dan proses berkarya mahasiswa terpaksa berlangsung hingga malam hari.



Dalam kondisi seperti itu, mahasiswa menilai pelonggaran jam malam setidaknya dapat menjadi opsi jangka pendek sembari kampus membenahi keterbatasan fasilitas.



“Dengan kondisi ruangan yang terbatas seperti sekarang, jam malam bisa menjadi opsi pelonggaran. Untuk efektivitas belajar, latihan dan produksi, fasilitas yang ada belum mampu menampung seluruh mahasiswa,” kata mahasiswa.



Mahasiswa Pertanyakan Kreativitas yang Berhadapan dengan Jam Malam



Persoalan jam malam kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai bagaimana kampus menempatkan keamanan mahasiswa di satu sisi dan kebutuhan proses kreatif di sisi lain.



Sejumlah mahasiswa mempertanyakan apakah aktivitas latihan seni harus dihentikan hanya karena pimpinan kampus berada atau beristirahat di mess kampus.



“Kalau Bapak tidur di mess sementara teman-teman sedang latihan musik atau karawitan, apakah layak teman-teman yang sedang berproses dan berkarya harus menghentikan kreativitas hanya karena persoalan itu?” tanya mahasiswa.



Pertanyaan tersebut langsung mendapat respons dari pimpinan ISI Padang Panjang.



Ia membantah apabila penghentian aktivitas mahasiswa pada malam hari disebut selalu atas perintah langsung dirinya.



Pimpinan kampus bahkan meminta mahasiswa memastikan kembali apakah petugas keamanan memang mendapatkan instruksi untuk membubarkan kegiatan mahasiswa atas perintah rektor.



Ia menjelaskan, apabila dirinya mengetahui masih ada mahasiswa yang beraktivitas hingga dini hari, konteks yang disampaikan kepada mahasiswa lebih kepada pengingat mengenai waktu istirahat dan kewajiban kuliah keesokan harinya.



“Kalau saya menyampaikan kepada satpam, tolong dilihat kenapa sampai jam segitu masih ada adik-adik berproses, itu lebih kepada mengingatkan. Besok mereka juga kuliah pagi,” ujar Rektor ISI Padang Panjang Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum dihadapan mahasiswa. 



Namun, dalam forum tersebut mahasiswa kembali menyampaikan bahwa praktik di lapangan tidak selalu sama dengan aturan yang tertulis.



Mereka menilai terdapat persoalan ketika aturan jam malam disebut masih memberi ruang hingga tengah malam, tetapi dalam praktiknya aktivitas mahasiswa bahkan sudah dihentikan sekitar pukul 22.00.



Pimpinan kampus kemudian membuka ruang untuk melakukan koreksi terhadap aturan dan penerapannya.



“Kalau memang kenyataannya jam 10 sudah ditutup, ini harus kita dengarkan. Kita koreksi dan kita perbaiki,” ujar Rektor.



Pimpinan Akui Aturan Bisa Dikaji Ulang



Pernyataan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam dialog.



Sebelumnya pimpinan ISI Padang Panjang menyatakan bahwa peraturan rektor bukan sesuatu yang tidak dapat diubah. Aturan tersebut dapat didiskusikan kembali dengan mahasiswa sepanjang tetap mempertimbangkan aspek keamanan.



Kampus juga membuka kemungkinan pelibatan mahasiswa dalam menyusun kembali mekanisme aktivitas malam.


Pimpinan kemudian mengundang para ketua HMJ untuk melakukan pembahasan lanjutan melalui konferensi video pada pukul 14.00 dengan menyiapkan draf tuntutan "fakta integritas"


Namun, tawaran tersebut kembali dipersoalkan mahasiswa.


Mahasiswa menilai forum dengan hanya melibatkan ketua-ketua HMJ belum cukup untuk menjawab tuntutan transparansi.


Mereka menginginkan pembahasan dilakukan secara terbuka dan dapat disaksikan mahasiswa lainnya, bahkan melalui siaran langsung.



“Kami Butuh Hitam di Atas Putih”



Tuntutan mahasiswa tidak berhenti pada persoalan jam malam.



Mereka meminta setiap komitmen terkait tuntutan fasilitas dan kebijakan kampus dituangkan secara tertulis agar dapat menjadi pegangan bersama.



Khusus terkait keterbatasan ruang, mahasiswa meminta kampus membuat pemetaan yang jelas mengenai ruangan mana saja yang dapat digunakan, bagaimana distribusinya, serta bagaimana akses penggunaannya bagi masing-masing program studi.



Menurut mahasiswa, persoalan tersebut tidak cukup dijawab dengan pernyataan bahwa kampus akan mengupayakan penambahan fasilitas pada tahun berikutnya.



Mereka membutuhkan langkah yang dapat segera dirasakan dalam jangka pendek.



“Kalau ada pernyataan bahwa akan dilakukan pemetaan dan pelonggaran jam malam, kami membutuhkan pegangan. Kami ingin semuanya jelas dan tertulis,” tegas mahasiswa.



Forum Terbuka Jadi Titik Tegang



Ketegangan kemudian muncul ketika pembahasan mengarah pada lokasi pertemuan lanjutan.



Mahasiswa meminta pertemuan setelah salat Jumat dilanjutkan di depan lapangan Gedung Rektorat.



Mereka menolak apabila seluruh pembahasan hanya dilakukan di dalam ruangan dengan sejumlah perwakilan mahasiswa.



Alasannya, aspirasi yang disampaikan merupakan aspirasi mahasiswa secara luas, bukan hanya milik organisasi mahasiswa tertentu.



“Kami masih sepakat pertemuan dilanjutkan, tetapi tempatnya di depan. Jangan hanya beberapa orang yang masuk ke ruangan,” ujar mahasiswa.



Mahasiswa bahkan menawarkan agar apabila pimpinan tetap menghendaki pertemuan di dalam ruangan, prosesnya dapat dilakukan secara terbuka melalui live streaming, sehingga mahasiswa yang berada di luar dapat menyaksikan langsung jalannya pembahasan.



Bagi mahasiswa, transparansi bukan sekadar menghadirkan perwakilan mereka dalam ruangan, tetapi memastikan seluruh mahasiswa dapat mengetahui apa yang dibicarakan dan apa yang disepakati. Singgah tidak ada dusta diantara kita.



Kekhawatiran mereka sederhana. Aspirasi yang disampaikan di luar ruangan jangan sampai berbeda dengan hasil pembahasan ketika hanya sebagian perwakilan masuk ke dalam.



“Kalau teman-teman HMJ menjadi perwakilan di dalam, bagaimana mahasiswa lain bisa mengetahui apa yang disampaikan? Kami membutuhkan transparansi,” kata mahasiswa.



Ribuan Mahasiswa Menunggu Jawaban



Desakan tersebut muncul dengan latar jumlah mahasiswa ISI Padang Panjang yang mencapai ribuan orang.



Karena itu, mahasiswa menilai persoalan yang dibahas tidak layak berhenti pada forum terbatas.



Mereka menginginkan adanya mekanisme yang memungkinkan mahasiswa mengetahui secara langsung perkembangan penyelesaian tuntutan, termasuk persoalan fasilitas, pembangunan gedung dan aturan jam malam.



Forum tersebut akhirnya memperlihatkan satu hal penting: persoalan ISI Padang Panjang tidak lagi hanya mengenai ada atau tidaknya jawaban dari pimpinan kampus, tetapi bagaimana jawaban tersebut dibuktikan melalui komitmen yang terukur, terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.



Mahasiswa Meminta Hitam di Atas Putih



Pimpinan kampus menyatakan bersedia melakukan evaluasi dan melibatkan mahasiswa.



Kini persoalannya tinggal satu. Apakah komitmen tersebut akan berhenti sebagai pernyataan dalam forum, atau benar-benar berubah menjadi keputusan tertulis dan langkah konkret yang dapat diawasi bersama? Kita tunggu episode pukul 14.00 WIB ini.


#GP | Tim Redaksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS