Mahasiswa ISI Padang Panjang Bertahan di Depan Rektorat, Tuntut Rektor Hadir dan Jelaskan Persoalan Fasilitas - Go Parlement | Portal Berita

Mahasiswa ISI Padang Panjang Bertahan di Depan Rektorat, Tuntut Rektor Hadir dan Jelaskan Persoalan Fasilitas

Kamis, September 03, 2026

 


Padang Panjang (SUMBAR.GP) — Unjuk rasa mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang memasuki babak baru. Setelah menyampaikan berbagai tuntutan terkait fasilitas dan kondisi lingkungan akademik, mahasiswa akhirnya ditemui jajaran pimpinan kampus di depan Gedung Rektorat ISI Padang Panjang, Kamis (3/9/2026).


Pertemuan tersebut belum sepenuhnya meredakan ketegangan. Mahasiswa tetap meminta Rektor ISI Padang Panjang hadir secara langsung untuk memberikan penjelasan terhadap tuntutan yang mereka sampaikan.


Wakil Rektor III ISI Padang Panjang, Susasrita Loravianti, S.Sn., M.Sn., mengatakan pihak kampus telah membaca sebagian tuntutan yang disampaikan mahasiswa.


Menurutnya, karena Rektor sedang tidak berada di tempat, jajaran wakil rektor siap menerima aspirasi mahasiswa sekaligus memberikan penjelasan sesuai kewenangan masing-masing.


"Kami sebagian kecil sudah membaca tuntutan adik-adik. Karena Rektor tidak ada di tempat, kami siap menjelaskan apa yang menjadi tuntutan adik-adik," ujar Loravianti saat menemui mahasiswa di halaman Gedung Rektorat ISI Padang Panjang.


Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui dialog sehingga tidak berkembang menjadi aksi lanjutan.


"Saya berharap ini bisa selesai hari ini dan tidak ada lanjutannya aksi berikutnya," katanya.


Namun, tawaran tersebut belum sepenuhnya diterima mahasiswa.


Di tengah pertemuan, mahasiswa tetap mendesak agar Rektor hadir secara langsung untuk mendengarkan aspirasi mereka.


BACA BERITA TUNTUTAN INI: 

https://www.goparlement.com/2026/09/mahasiswa-isi-padang-panjang-bergerak.html?m=1


"Kami mau Pak Rektor bisa hadir bersama untuk menjelaskan tuntutan kami ini," ujar salah seorang mahasiswa yang kemudian disambut yel-yel peserta aksi.


Desakan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang dibawa mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan substansi tuntutan, tetapi juga menyangkut siapa yang harus memberikan jawaban atas persoalan tersebut.


Pimpinan Kampus Tawarkan Dialog, Mahasiswa Tetap Bertahan


Wakil Rektor II ISI Padang Panjang, Dr. Iswandi, S.Pd., M.Pd., kemudian meminta mahasiswa mempertimbangkan penyelesaian persoalan melalui diskusi.


Ia mengusulkan agar pembahasan dilakukan segera dengan jajaran pimpinan yang berada di kampus sehingga tidak perlu berlanjut menjadi aksi pada hari berikutnya.


"Bagaimana kalau persoalan ini kita tuntaskan melalui diskusi sekarang? Kira-kira adik-adik setuju atau tidak? Kalau mau selesai sekarang, kita diskusikan, sehingga besok tidak ada lagi aksi," ujar Iswandi.


Namun, ia mengakui bahwa permintaan mahasiswa untuk menghadirkan Rektor tidak dapat diputuskan sepenuhnya oleh wakil rektor.


"Kalau adik-adik ingin bertemu dengan Pak Rektor, orang nomor satu di sini, tentu kami sebagai wakil rektor tidak bisa mengambil alih semua kebijakan yang diambil Pak Rektor," katanya.


Dengan demikian, pilihan penyelesaian yang ditawarkan pihak kampus pada saat itu adalah membuka ruang dialog bersama pimpinan yang tersedia, sementara mahasiswa tetap mempertahankan tuntutan agar Rektor hadir secara langsung.


Kampus Persoalkan Prosedur Penyampaian Aspirasi


Dalam pertemuan tersebut, Wakil Dekan III Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Enrico Alamo, S.Sn., M.Sn., turut menyampaikan persoalan mengenai prosedur kegiatan aksi mahasiswa.


Ia mengatakan, berdasarkan prosedur kegiatan kemahasiswaan, pemberitahuan kegiatan semestinya disampaikan tiga kali 24 jam sebelum pelaksanaan.


"Seharusnya adik-adik memasukkan surat tiga kali 24 jam sebelum kegiatan dilakukan karena itu ada dalam praktik kegiatan kemahasiswaan," ujarnya.


Enrico mengaku baru menerima informasi mengenai rencana aksi tersebut melalui petugas keamanan kampus pada Kamis pagi.


"Saya baru mendapatkan surat ini. Ada 16 orang perwakilan Aliansi Mahasiswa ISI Padang Panjang yang akan menyampaikan aspirasinya. Surat itu saya dapatkan tadi dari satpam pagi hari. Saya belum mendapatkan bagaimana prosedur pelaksanaan ini," katanya.


Pernyataan tersebut kemudian dibenarkan Loravianti.


Menurut Loravianti, sebagai pimpinan yang membidangi kemahasiswaan, dirinya tetap berkewajiban memfasilitasi mahasiswa yang hendak menyampaikan aspirasi, meskipun pemberitahuan aksi diterima dalam waktu yang dinilai mendadak.


"Karena bidang saya yang harus mewadahi dan memfasilitasi kegiatan kemahasiswaan tiba-tiba, tetapi saya melihat ada teman-teman yang ingin berkumpul untuk menyampaikan aspirasi. Maka saya memanggil 16 orang perwakilan Aliansi Mahasiswa tadi," ujarnya.


Pertemuan tersebut juga dihadiri Wakil Dekan III FSRD, Rajudin, S.Pd., M.Sn.


Kampus Minta Pertemuan dengan Rektor Dijadwalkan


Loravianti kemudian menawarkan agar pertemuan mahasiswa dengan Rektor dijadwalkan pada Jumat pagi, mengingat tidak seluruh pimpinan kampus berada di tempat pada saat aksi berlangsung.


"Karena hari ini Rektor tidak ada dan tidak semua pimpinan berada di tempat, bagaimana kalau audiensi kita sepakati besok saja pukul 09.00 pagi," katanya.


Menurut dia, pertemuan dengan Rektor sebaiknya dipersiapkan secara matang agar seluruh tuntutan mahasiswa dapat dibahas secara terstruktur.


"Apabila adik-adik hari ini juga ingin bertemu Pak Rektor, tentu tidak mungkin. Sebaiknya kita persiapkan pertemuan dengan Rektor ini dengan baik kalau memang adik-adik ingin bertemu dengan Rektor," ujarnya.


Di sisi lain, pihak kampus menyatakan tetap siap menerima dan memberikan penjelasan atas tuntutan mahasiswa yang telah disampaikan.


"Kami juga siap menerima dan siap menjelaskan sesuai dengan masing-masing fasilitas yang ada di Fakultas Seni Rupa, Seni Pertunjukan, serta Seni Rupa dan Desain. Kami sudah berbagi tugas dan anggaran untuk menjawab pertanyaan adik-adik semua," kata Loravianti.


Ia memastikan tuntutan mahasiswa akan dibahas berdasarkan poin-poin yang telah diserahkan kepada pihak kampus.


"Semua akan dijelaskan mulai dari poin satu, dua dan tiga yang telah diberikan oleh teman-teman kepada kami," katanya.


Loravianti juga sempat menanyakan kesediaan perwakilan organisasi mahasiswa untuk mengikuti pertemuan dengan pimpinan kampus.


"Apakah perwakilan organisasi ISI mau menjadi perwakilan untuk bertemu dengan pimpinan?" tanyanya.


Mahasiswa Tolak Mundur, Pilih Bertahan di Kampus


Namun, tawaran tersebut belum membuat mahasiswa membubarkan aksi.


Mahasiswa menyatakan tidak sepakat jika persoalan diselesaikan hanya melalui perwakilan organisasi. Mereka memilih tetap bertahan di halaman Gedung Rektorat ISI Padang Panjang sembari menunggu kehadiran Rektor.


Sikap tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa menginginkan jawaban langsung dari pimpinan tertinggi kampus atas berbagai persoalan yang mereka soroti.


"Kami akan menunggu kehadiran Pak Rektor sampai pagi esok di depan Gedung Rektorat," ujar mahasiswa.


Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kemungkinan adanya tindakan pembatasan terhadap aksi mereka.


"Apabila nanti malam kami dicekal, kami tidak menjamin peristiwa 2014 akan terulang kembali," ujar mahasiswa secara serentak.


Pernyataan itu menjadi salah satu titik paling tegang dalam aksi. Mahasiswa tetap bertahan meski pihak kampus telah menawarkan ruang dialog dan menjadwalkan pertemuan dengan Rektor pada Jumat pagi.


Hingga berita ini ditayangkan, mahasiswa ISI Padang Panjang masih bertahan di halaman kampus.


Mereka menegaskan akan menunggu kehadiran Rektor untuk mendengarkan dan memberikan jawaban atas tuntutan yang telah mereka sampaikan.


Sementara itu, pihak kampus menyatakan tetap membuka ruang komunikasi dan menawarkan penyelesaian melalui dialog dengan jajaran pimpinan sesuai kewenangan masing-masing. 


#GP | Ce

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS