Mahasiswa ISI Padang Panjang Bergerak, Transparansi Dana dan Gedung Mangkrak Dipersoalkan - Go Parlement | Portal Berita

Mahasiswa ISI Padang Panjang Bergerak, Transparansi Dana dan Gedung Mangkrak Dipersoalkan

Kamis, September 03, 2026

 


Padang Panjang (SUMBAR).GP— Persoalan fasilitas pendidikan, transparansi pengelolaan dana, hingga terbatasnya ruang aktivitas mahasiswa menjadi pemantik gerakan Aliansi Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Kamis (3/9/2026).



Mahasiswa menggelar aksi penyampaian aspirasi di lingkungan Rektorat ISI Padang Panjang. Mereka membawa tiga tuntutan utama yang dinilai menyangkut langsung kepentingan mahasiswa. Keterbukaan pengelolaan dana kampus, penyelesaian persoalan fasilitas dan gedung yang belum tuntas, serta pelonggaran jam operasional kampus.



Aksi tersebut memperlihatkan adanya persoalan yang ingin dibawa mahasiswa ke ruang terbuka. Bagi mereka, kampus bukan semata tempat berlangsungnya proses perkuliahan, tetapi juga ruang untuk belajar, berkarya, berdiskusi, berorganisasi, dan mengembangkan pemikiran kritis.



Karena itu, mahasiswa mempertanyakan sejauh mana lingkungan akademik di kampus seni tersebut mampu menyediakan fasilitas dan ruang yang mereka anggap layak untuk menunjang proses pendidikan.



Tiga Persoalan yang Disorot



Dalam seruan aksi bertajuk "Serentak Bergerak. "Kembalikan Hak dan Ruang Aman Kita", mahasiswa merumuskan tiga tuntutan.



Pertama, transparansi dana kampus.



Mahasiswa mendorong keterbukaan pengelolaan anggaran agar penggunaan dana kampus dapat diketahui dan dipertanggungjawabkan secara terbuka.



Tuntutan ini menempatkan persoalan tata kelola anggaran sebagai salah satu isu utama dalam aksi. Mahasiswa menginginkan adanya keterbukaan sehingga sivitas akademika dapat memahami bagaimana sumber daya kampus dikelola dan diarahkan untuk mendukung kepentingan pendidikan.



Kedua, penyelesaian krisis fasilitas dan gedung yang belum tuntas.



Mahasiswa mendesak pimpinan kampus segera menyelesaikan persoalan sarana dan prasarana pendidikan, termasuk pembangunan gedung yang belum selesai dan dinilai berdampak terhadap aktivitas akademik.



Bagi mahasiswa, fasilitas pendidikan bukan sekadar persoalan fisik. Ketersediaan ruang yang memadai berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, aktivitas berkesenian, kegiatan organisasi, hingga ruang mahasiswa untuk berinteraksi dan menghasilkan karya.



Ketiga, pelonggaran jam operasional kampus.


Mahasiswa meminta kebijakan jam operasional yang lebih fleksibel. Mereka menilai mahasiswa membutuhkan akses ruang kampus untuk belajar, berlatih, berkarya, berdiskusi, maupun menjalankan kegiatan organisasi.



Persoalan jam operasional ini kemudian dikaitkan mahasiswa dengan kebutuhan terhadap ruang aman dan ruang kreatif.



Kampus Seni dan Ruang Aman


Dalam orasinya, Felisa, mahasiswa Jurusan Seni Musik, mengatakan kampus seni seharusnya menjadi lingkungan yang mampu mendorong kreativitas, kebebasan berekspresi dan pemikiran kritis.



Menurut dia, mahasiswa membutuhkan ruang yang aman dan nyaman untuk menjalani proses akademik maupun mengembangkan karya.



"Kampus seharusnya menjadi tempat yang paling kondusif untuk memantik kreativitas dan pemikiran kritis," ujar Felisa dalam orasinya.



Ia mengatakan mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan persoalan yang mereka rasakan selama berada di lingkungan kampus.



Felisa juga menyerukan agar mahasiswa memahami substansi tuntutan yang telah dirumuskan bersama sehingga penyampaian aspirasi kepada pimpinan kampus dapat dilakukan secara terarah.



"Teman-teman semua berhak menyuarakan apa yang seharusnya didapatkan selama berada di kampus ISI Padang Panjang," katanya.



Bukan Sekadar Fasilitas



Dalam narasi aksi, mahasiswa menegaskan bahwa persoalan yang mereka bawa tidak berhenti pada fasilitas fisik.



Kampus seni, menurut mereka, harus menjadi ruang yang kondusif bagi tumbuhnya kreativitas, kebebasan berekspresi, dialog intelektual, serta pemikiran kritis.



Mahasiswa juga menilai kebijakan kampus seharusnya tidak menghambat ruang gerak mahasiswa ketika persoalan fasilitas, kenyamanan, dan keamanan belum sepenuhnya terselesaikan.



"Mahasiswa bukan sekadar pengguna fasilitas kampus. Mereka adalah bagian penting dari ekosistem akademik yang berhak didengar, dihargai, dan dilibatkan dalam setiap kebijakan yang menyangkut kehidupan kampus," demikian narasi yang disampaikan dalam seruan aksi.



Aksi mahasiswa tersebut sekaligus membuka ruang pertanyaan yang lebih besar bagi pengelola ISI Padang Panjang: bagaimana memastikan fasilitas pendidikan tersedia secara layak, bagaimana pengelolaan anggaran dapat dipertanggungjawabkan secara transparan, dan bagaimana kampus memberikan ruang yang cukup bagi mahasiswa untuk belajar serta berkarya.



Namun, seluruh tuntutan tersebut tetap merupakan aspirasi mahasiswa yang perlu dijawab pihak kampus. Penjelasan dari pimpinan ISI Padang Panjang menjadi penting untuk memberikan gambaran mengenai kondisi fasilitas, status pembangunan gedung, kebijakan jam operasional, serta mekanisme transparansi pengelolaan anggaran yang dipersoalkan mahasiswa.



Dengan demikian, aksi tidak berhenti sebagai penyampaian tuntutan, tetapi dapat menjadi momentum evaluasi terbuka mengenai tata kelola dan kualitas lingkungan akademik di ISI Padang Panjang.



Orasi ini disuarakan oleh Amat, Haikel dengak yel..yel Hidup mahasiswa.

ISI Padang Panjang bersuara.

Kembalikan hak mahasiswa.


#GP | Ce

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS