Bahaya Abu Hasil Pembakaran Lahan Hutan Terhadap Kesehatan Dan Pernapasan Manusia - Go Parlement | Portal Berita

Bahaya Abu Hasil Pembakaran Lahan Hutan Terhadap Kesehatan Dan Pernapasan Manusia

Selasa, September 08, 2026

 



OlehProf.Dr. Khairuddin.,M.Kes.,AIFO.,CIRR.,CIIQA.,CIT,

Guru besar Bidang Ilmu “ Pendidikan Olahraga dan Kesehatan” Universitas Negeri Padang



Kebakaran Hutan di Indonesia Tahun 2026
Daerah Kalimantan dan Sumatera

A. PENDAHULUAN

Pembakaran lahan dan hutan merupakan salah satu persoalan lingkungan yang dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan manusia. Ketika vegetasi, gambut, kayu, dan bahan organik lainnya terbakar, proses pembakaran menghasilkan asap, abu, gas, dan berbagai partikel pencemar udara. Bahan pencemar tersebut dapat terbawa angin dalam jarak yang jauh sehingga masyarakat yang berada jauh dari lokasi kebakaran pun dapat mengalami penurunan kualitas udara. World Health Organization (WHO, 2026) menyatakan bahwa asap kebakaran merupakan sumber utama pencemaran udara partikulat dan dapat menimbulkan beban kesehatan yang besar bagi masyarakat. (⁠World Health Organization)

Abu dan asap hasil pembakaran lahan hutan tidak dapat dianggap sebagai debu biasa. Asap kebakaran mengandung partikulat berukuran sangat kecil, terutama PM2.5, yaitu partikel dengan diameter aerodinamis ≤2,5 mikrometer. WHO (2026) melaporkan bahwa sekitar 90% massa partikulat yang dilepaskan dari kebakaran hutan terdiri atas partikulat berukuran PM2.5 atau lebih kecil. Partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga bagian paru-paru yang lebih dalam. (⁠World Health Organization)

Bahaya semakin besar ketika masyarakat melakukan aktivitas di luar ruangan pada saat konsentrasi asap dan abu tinggi. Aktivitas fisik seperti berjalan cepat, bekerja di luar ruangan, berolahraga, atau membersihkan sisa pembakaran dapat meningkatkan frekuensi dan volume pernapasan. Akibatnya, jumlah udara dan partikulat yang masuk ke paru-paru juga dapat meningkat.

Menurut WHO, dampak paparan asap kebakaran dapat berupa iritasi mata dan saluran pernapasan, batuk, mengi, sesak napas, serangan asma, nyeri dada, dan pada kondisi tertentu dapat meningkatkan risiko rawat inap serta kematian dini. (⁠World Health Organization).

Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami bahaya abu dan asap hasil pembakaran lahan hutan serta mengetahui langkah perlindungan yang tepat. Salah satu bentuk perlindungan adalah mengurangi paparan dengan tetap berada di dalam ruangan ketika kualitas udara buruk dan menggunakan respirator yang sesuai apabila harus berada di luar ruangan.

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Abu dan Asap Hasil Pembakaran Lahan Hutan
Abu hasil pembakaran lahan hutan merupakan sisa material padat yang terbentuk setelah bahan organik seperti daun, ranting, kayu, semak, dan vegetasi lainnya mengalami proses pembakaran. Abu tersebut dapat bercampur dengan partikel tanah, mineral, arang, serta material lain yang terbawa oleh angin.
Sementara itu, asap merupakan campuran kompleks antara gas dan partikulat yang dilepaskan selama proses pembakaran. CDC menjelaskan bahwa asap kebakaran terdiri atas campuran gas dan partikel halus yang berasal dari pembakaran pohon, tumbuhan, bangunan, dan material lainnya. (⁠CDC)
Dengan demikian, bahaya kesehatan bukan hanya berasal dari abu yang terlihat secara kasatmata, tetapi juga dari partikel sangat kecil yang terdapat dalam asap dan tidak selalu dapat dilihat oleh mata.

2. Kandungan Berbahaya dalam Asap dan Abu

Asap hasil pembakaran lahan hutan dapat mengandung berbagai bahan pencemar, antara lain:
PM2.5.
PM10.
Karbon monoksida (CO).
Nitrogen oksida (NOx).
Senyawa organik volatil.
Hidrokarbon aromatik polisiklik atau PAHs.
Partikel ultrahalus.
Senyawa kimia lainnya.
WHO (2026) menjelaskan bahwa asap kebakaran dapat mengandung PM10, PM2.5, partikel ultrahalus, ozon, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, hidrokarbon aromatik polisiklik, dan bahkan logam beracun tergantung pada bahan yang terbakar. (⁠World Health Organization)
EPA juga menjelaskan bahwa PM2.5 merupakan salah satu komponen utama asap kebakaran yang dapat dengan mudah terhirup dan mencapai saluran pernapasan bagian bawah, termasuk wilayah alveolus paru-paru. (⁠US EPA)

3. Mengapa PM2.5 Berbahaya?

PM2.5 menjadi perhatian utama karena ukurannya sangat kecil. Partikel berukuran lebih besar cenderung tertahan pada hidung atau saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikel PM2.5 dapat masuk lebih jauh ke saluran pernapasan.
EPA menjelaskan bahwa partikel yang lebih kecil dapat mencapai saluran pernapasan bagian bawah hingga daerah alveolus. (⁠US EPA)
Jika paparan terjadi berulang atau dalam konsentrasi tinggi, sistem pertahanan alami saluran pernapasan dapat mengalami beban yang besar. Hal tersebut dapat menyebabkan peradangan dan memperburuk kondisi penyakit pernapasan yang sudah ada.

4. Dampak terhadap Sistem Pernapasan

Paparan asap dan abu pembakaran lahan hutan dapat menyebabkan berbagai gangguan pernapasan. CDC mencatat beberapa gejala yang dapat muncul setelah menghirup asap kebakaran, antara lain:
batuk;
tenggorokan terasa gatal atau sakit;
pilek;
iritasi sinus;
mengi;
sesak napas;
nyeri dada;
serangan asma;
sakit kepala;
kelelahan. (⁠CDC)

WHO (2023) juga menjelaskan bahwa paparan asap kebakaran dapat berkaitan dengan iritasi saluran pernapasan, penurunan fungsi paru, bronkitis, memburuknya asma, dan pada paparan tertentu dapat meningkatkan risiko kematian dini. (⁠World Health Organization)
Dengan demikian, asap dan abu pembakaran lahan tidak hanya menyebabkan rasa tidak nyaman sementara, tetapi dapat memberikan dampak yang lebih serius apabila konsentrasi pencemar tinggi dan paparan berlangsung lama.

5. Dampak terhadap Kelompok Rentan

Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama. Kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih tinggi antara lain:
a. Anak-anak
Anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang sehingga lebih sensitif terhadap pencemaran udara. WHO menyebutkan bahwa perkembangan paru, jantung, sistem imun, dan fungsi tubuh lainnya membuat anak-anak lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran. (⁠World Health Organization)
b. Lansia
Lansia lebih rentan terhadap dampak asap karena kemungkinan mempunyai penyakit jantung atau paru yang sudah ada sebelumnya.
c. Penderita asma dan penyakit paru
Orang dengan asma, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis, dan gangguan pernapasan lainnya dapat mengalami perburukan gejala ketika kualitas udara menurun.
d. Penderita penyakit jantung
Paparan partikulat halus tidak hanya berhubungan dengan sistem pernapasan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
e. Pekerja luar ruangan
Petani, pekerja perkebunan, petugas pemadam kebakaran, pekerja konstruksi, dan masyarakat yang harus bekerja di luar ruangan mempunyai waktu paparan lebih lama sehingga perlu perlindungan lebih baik
EPA (2026) mengidentifikasi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit jantung atau paru, serta pekerja dengan paparan tinggi sebagai kelompok yang mempunyai risiko lebih besar terhadap dampak asap kebakaran. (⁠US EPA)
6. Dampak terhadap Aktivitas Fisik dan Olahraga
Paparan asap dan abu juga menjadi persoalan penting dalam kegiatan olahraga dan pendidikan jasmani. Ketika seseorang berolahraga, frekuensi dan volume pernapasan meningkat. Akibatnya, lebih banyak udara masuk ke paru-paru.
Jika udara yang dihirup mengandung konsentrasi PM2.5 tinggi, maka jumlah partikulat yang masuk ke sistem pernapasan juga dapat meningkat.
Oleh karena itu, kegiatan olahraga di luar ruangan sebaiknya ditunda atau dipindahkan ke dalam ruangan ketika kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat akibat asap pembakaran lahan.
Guru PJOK, pelatih olahraga, dan pengelola fasilitas olahraga perlu memperhatikan kualitas udara sebelum melaksanakan kegiatan fisik di luar ruangan. Keselamatan peserta didik dan atlet harus menjadi prioritas.

C. SOLUSI DAN MASKER YANG DIGUNAKAN

1. Perlindungan Utama: Mengurangi Paparan
Masker bukan satu-satunya solusi. Perlindungan yang paling efektif adalah mengurangi paparan terhadap asap dan abu.

WHO merekomendasikan masyarakat untuk mengikuti informasi kualitas udara dan tetap berada di dalam ruangan sebanyak mungkin ketika asap kebakaran tinggi. Pintu dan jendela sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya asap. (⁠World Health Organization)

Langkah utama meliputi:
Mengurangi aktivitas di luar rumah.
Menutup pintu dan jendela.
Menghindari olahraga di luar ruangan.
Menggunakan penyaring udara/air purifier jika tersedia.
Mengurangi aktivitas fisik berat ketika udara berasap.
Mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara.
Segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak berat.

2. Masker yang Dianjurkan: N95
Apabila seseorang harus berada di luar ruangan ketika udara dipenuhi asap, respirator N95 yang terpasang dengan baik merupakan salah satu pilihan yang paling dianjurkan untuk mengurangi paparan partikulat halus.
NIOSH/CDC menjelaskan bahwa respirator seperti N95 dan P100 dirancang untuk membentuk seal yang rapat pada wajah dan menyaring partikel kecil, termasuk PM2.5, asap, dan abu. (⁠CDC)
EPA juga merekomendasikan respirator N95 atau P100 yang disetujui NIOSH bagi orang yang harus berada di luar ruangan dalam kondisi berasap atau berada di area yang tertutup abu. (⁠US EPA)

3. Mengapa Masker Kain Tidak Cukup?
Masker kain, sapu tangan, bandana, atau kain yang hanya menutupi hidung dan mulut tidak dirancang untuk menyaring partikel asap berukuran sangat kecil secara efektif.
NIOSH menjelaskan bahwa masker kain, masker bedah, bandana, dan kain penutup wajah tidak dirancang untuk membentuk seal pada wajah maupun menyediakan sistem filtrasi seperti respirator N95 atau P100. (⁠CDC)
Oleh karena itu, penggunaan masker kain tidak boleh dianggap sebagai perlindungan utama terhadap PM2.5 dari asap pembakaran lahan.

4. Cara Menggunakan N95
Agar N95 memberikan perlindungan maksimal:
Pertama, pilih respirator dengan ukuran yang sesuai.
Kedua, pastikan respirator menutupi hidung, mulut, dan dagu.
Ketiga, tekan bagian nose clip agar mengikuti bentuk hidung.
Keempat, pastikan tidak terdapat celah antara respirator dan wajah.
Kelima, lakukan pemeriksaan kerapatan setiap kali memasang respirator.
CDC/NIOSH menekankan bahwa N95 harus membentuk seal dengan wajah agar dapat bekerja secara efektif. Respirator yang longgar memungkinkan udara masuk melalui celah tanpa melewati bahan penyaring. (⁠CDC)







Kain/sapu tangan
Rendah
Tidak dirancang untuk filtrasi partikel halus

Masker bedah
Terbatas
Tidak membentuk seal rapat

N95
Tinggi jika pas dan digunakan benar
Pilihan yang baik untuk partikulat asap

P100
Sangat tinggi untuk partikulat
Memerlukan penggunaan yang tepat

NIOSH menyebut N95 dan P100 sebagai respirator yang dapat membantu mengurangi paparan terhadap asap, abu, dan partikel sangat kecil. (⁠CDC)

6. Perhatian bagi Anak-anak
Penggunaan respirator pada anak perlu mempertimbangkan ukuran dan kemampuan anak untuk menggunakannya dengan benar. Respirator yang terlalu besar atau tidak membentuk seal dapat mengurangi manfaat perlindungan.
Untuk anak-anak, pilihan paling aman adalah mengurangi paparan terlebih dahulu, yaitu berada di dalam ruangan ketika asap tinggi dan menghentikan kegiatan luar ruangan.

7. Perlindungan Rumah dari Asap
Selain masker, kualitas udara di dalam rumah perlu dijaga. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
menutup pintu dan jendela;
menggunakan air purifier dengan filter HEPA apabila tersedia;
menghindari aktivitas yang menghasilkan asap di dalam rumah;
mengatur sistem AC pada mode resirkulasi jika tersedia;
menghindari membuka jendela ketika konsentrasi asap di luar tinggi.
CDC/NIOSH merekomendasikan penggunaan air cleaner dengan filter HEPA dan menjaga bukaan bangunan tetap tertutup untuk mengurangi masuknya asap. (⁠CDC)

D. LANGKAH DARURAT APABILA TERPAPAR ABU DAN ASAP

Masyarakat perlu segera mencari tempat dengan udara yang lebih bersih apabila muncul:
Sesak napas berat.
Nyeri dada.
Mengi yang semakin berat.
Kesulitan berbicara karena sesak.
Pusing berat.
Penurunan kesadaran.
Gejala asma yang tidak membaik.
Batuk berat dan terus-menerus.
Orang yang mempunyai penyakit jantung atau paru perlu mempunyai perhatian khusus. CDC menyarankan agar orang dengan penyakit kronis mengambil langkah untuk mengurangi paparan dan mencari pertolongan jika mengalami gejala yang memburuk. (⁠CDC)

E. KESIMPULAN

Abu dan asap hasil pembakaran lahan hutan merupakan sumber pencemaran udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Bahaya utamanya bukan hanya abu yang terlihat, tetapi juga partikel halus seperti PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan hingga bagian paru-paru yang lebih dalam. Asap juga mengandung berbagai gas dan senyawa kimia yang dapat mengganggu kesehatan. WHO menempatkan asap kebakaran sebagai masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan penurunan kualitas udara secara cepat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. (⁠World Health Organization)
Dampak terhadap sistem pernapasan dapat berupa batuk, iritasi tenggorokan, hidung berair, mengi, sesak napas, penurunan fungsi paru, bronkitis, serta memburuknya penyakit asma dan penyakit paru lainnya. Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit jantung dan paru, serta pekerja luar ruangan merupakan kelompok yang harus mendapatkan perlindungan lebih tinggi. (⁠World Health Organization)
Solusi terbaik adalah mengurangi paparan dengan tetap berada di dalam ruangan ketika asap tinggi, menutup pintu dan jendela, menggunakan penyaring udara jika tersedia, serta menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan. Apabila harus keluar, respirator N95 yang terpasang rapat dan digunakan dengan benar dapat mengurangi paparan terhadap partikulat halus. Masker kain, sapu tangan, atau bandana tidak dapat menggantikan fungsi respirator untuk perlindungan terhadap PM2.5. (⁠CDC)
Dengan demikian, penanganan dampak pembakaran lahan hutan harus dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pengurangan paparan asap dan abu, serta perlindungan kesehatan masyarakat. Edukasi kepada masyarakat, sekolah, pekerja, dan kelompok rentan sangat diperlukan agar kejadian kebakaran lahan tidak berubah menjadi krisis kesehatan pernapasan.

Daftar Rujukan

World Health Organization (WHO). (2026). Wildfires. Geneva: World Health Organization. Publikasi 31 Juli 2026.  
World Health Organization. (2023). Public health advice during the wildfires: How to protect your health and keep safe. WHO Regional Office for Europe, 16 June 2023.  
World Health Organization. (2024). Personal-level actions. WHO Regional Office for Europe. p. 15. Sumber ini membahas penggunaan respirator FFP2/N95 dalam kondisi polusi udara dan kebakaran.  
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). How Wildfire Smoke Affects Your Body. Atlanta: CDC.  
CDC/NIOSH. (2025). How to Protect Workers and the Public from Wildfire Smoke. National Institute for Occupational Safety and Health.  
CDC/NIOSH. (2025). Community Respirators and Masks. National Institute for Occupational Safety and Health.  
CDC/NIOSH. (2025). How to Use Your N95 Respirator. National Institute for Occupational Safety and Health.  
U.S. Environmental Protection Agency (EPA). (2026). Protect Yourself From Wildfire Smoke and Ash. Washington, DC: U.S. EPA.  
U.S. Environmental Protection Agency (EPA). (2026). Wildfire Smoke: A Guide for Public Health Officials. EPA-452/B-26-001, June 2026.  
U.S. Environmental Protection Agency (EPA). (2026). Wildland Fires and Public Health Effects. Washington, DC: U.S. EPA.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS