PADANG (SUMBAR).GP — Tantangan dunia pendidikan tidak lagi sebatas persoalan ruang kelas, kurikulum, maupun sarana prasarana. Di tengah perubahan teknologi dan tuntutan kualitas sumber daya manusia yang semakin tinggi, posisi guru justru menjadi semakin strategis.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Konferensi Kerja Provinsi (Konkerprov) I Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2026 yang dihadiri Wali Kota Padang Fadly Amran di Hotel Truntum Padang, Jumat (4/9/2026) malam.
Konkerprov yang berlangsung 4–6 September 2026 tersebut menjadi forum penting bagi PGRI untuk melakukan konsolidasi organisasi sekaligus menyusun arah gerak dalam menghadapi berbagai persoalan pendidikan di Sumatera Barat.
Forum tersebut diikuti jajaran pengurus PGRI kabupaten dan kota se-Sumbar. Tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, Konkerprov diharapkan mampu melahirkan gagasan dan rekomendasi yang lebih konkret untuk memperkuat kualitas pendidikan sekaligus meningkatkan profesionalisme dan kapasitas guru.
Bagi pemerintah daerah, keberadaan PGRI memiliki posisi strategis sebagai mitra dalam membangun ekosistem pendidikan. Sebab, berbagai kebijakan pendidikan pada akhirnya akan bermuara di ruang kelas, tempat guru berhadapan langsung dengan peserta didik.
Dalam konteks itu, guru tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai pelaksana kebijakan. Guru juga harus diberi ruang untuk menyampaikan gagasan, kebutuhan, sekaligus persoalan yang mereka hadapi di lapangan.
Fadly Amran menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dimulai dari penguatan sektor pendidikan. Dan di dalamnya, guru merupakan salah satu faktor paling menentukan.
Perubahan zaman juga menuntut guru untuk terus beradaptasi. Perkembangan teknologi digital, hadirnya kecerdasan buatan, perubahan karakter peserta didik, hingga tuntutan kompetensi abad ke-21 membuat profesi guru tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama.
Karena itu, penguatan organisasi profesi seperti PGRI menjadi penting. Organisasi tidak hanya berfungsi sebagai wadah perjuangan dan perlindungan profesi, tetapi juga dapat menjadi ruang bertukar gagasan, meningkatkan kompetensi, serta membangun jejaring antarguru dan pemerintah.
Konkerprov I PGRI Sumbar 2026 pun diharapkan mampu memperkuat sinergi tersebut.
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga diwarnai agenda pengukuhan Ketua TP-PKK Provinsi Sumatera Barat, Ny. Harneli Mahyeldi, sebagai Ibunda Guru PGRI Provinsi Sumbar Masa Bakti XXIII Tahun 2024–2029.
Pengukuhan dilakukan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PGRI Unifah Rosyidi.
Predikat tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap sosok yang dinilai memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan dan keberadaan para guru di Sumatera Barat.
Namun, di balik seremoni tersebut, tantangan yang dihadapi dunia pendidikan Sumbar tetap membutuhkan jawaban yang lebih substantif.
PGRI dituntut tidak berhenti pada penguatan organisasi, tetapi mampu mengawal berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan guru dan peserta didik. Mulai dari peningkatan kompetensi, kesejahteraan dan perlindungan profesi, hingga kemampuan guru beradaptasi dengan transformasi pendidikan.
Konkerprov I PGRI Sumbar menjadi momentum untuk menyatukan kembali langkah tersebut.
Dengan melibatkan pengurus PGRI dari seluruh kabupaten dan kota, forum ini diharapkan menghasilkan arah kebijakan organisasi yang mampu menjembatani kepentingan guru dengan kebutuhan pembangunan pendidikan daerah.
Sebab, membangun pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar membangun sekolah atau menyusun program. Yang jauh lebih penting adalah memastikan guru memiliki kapasitas, ruang, dan dukungan yang cukup untuk menyiapkan generasi yang akan menentukan wajah Sumatera Barat di masa depan.
Di titik itulah PGRI dituntut memainkan peran yang lebih besar: bukan hanya sebagai organisasi profesi, tetapi sebagai kekuatan strategis dalam menjaga kualitas pendidikan dan masa depan sumber daya manusia Sumatera Barat.
#GP | Ce






Tidak ada komentar:
Posting Komentar