Narkoba Mengintai Generasi Muda: Dampaknya Terhadap Prestasi, Kesehatan, dan Masa Depan Anak Sekolah - Go Parlement | Portal Berita

Narkoba Mengintai Generasi Muda: Dampaknya Terhadap Prestasi, Kesehatan, dan Masa Depan Anak Sekolah

Sabtu, September 05, 2026

Guru besar  Bidang  Ilmu Pendidikan Olahraga dan Kesehatan 



PENDAHULUAN

Anak sekolah adalah kelompok yang sangat penting dalam menentukan masa depan bangsa. Mereka berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan yang ditandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi, pencarian identitas diri, keinginan untuk diterima oleh kelompok sebaya, serta mulai mengambil keputusan secara lebih mandiri.


Kondisi tersebut merupakan bagian normal dari perkembangan remaja, tetapi sekaligus dapat menjadi kerentanan apabila anak mendapatkan pengaruh negatif dari lingkungan, termasuk penyalahgunaan narkoba.


Narkoba bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan kesehatan, pendidikan, keluarga, sosial, dan masa depan generasi muda. Penyalahgunaan narkoba pada usia sekolah dapat mengganggu proses perkembangan fisik dan psikologis, mengurangi kemampuan belajar, merusak hubungan sosial, dan dalam jangka panjang meningkatkan risiko ketergantungan. 


WHO menegaskan bahwa penggunaan zat pada usia dini berkaitan dengan risiko lebih tinggi mengalami ketergantungan dan berbagai masalah pada masa dewasa.  


Persoalan ini perlu mendapat perhatian serius karena sekolah merupakan salah satu lingkungan utama tempat anak menghabiskan waktunya. Pencegahan tidak cukup dilakukan dengan memberikan ceramah tentang bahaya narkoba, tetapi harus dilakukan melalui pendidikan yang berkelanjutan, penguatan karakter, keterampilan hidup, dukungan keluarga, lingkungan sekolah yang sehat, serta akses terhadap layanan kesehatan dan konseling.




Pembahasan 

Narkoba dan Ancaman bagi Generasi Muda

Narkotika dan zat psikoaktif dapat memengaruhi sistem saraf pusat sehingga mengubah fungsi otak, suasana hati, perilaku, persepsi, dan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan. Bagi anak dan remaja, persoalannya menjadi lebih serius karena otak masih berada dalam proses perkembangan.

WHO menjelaskan bahwa penggunaan alkohol dan obat/zat pada anak dan remaja berhubungan dengan perubahan neurokognitif yang dapat berkontribusi terhadap masalah perilaku, emosional, sosial, dan akademik pada kemudian hari.  

Dengan demikian, ketika seorang siswa mulai menggunakan narkoba, dampaknya tidak berhenti pada persoalan “menggunakan zat”. Dampaknya dapat merambat ke berbagai aspek kehidupan: kesehatan → konsentrasi → prestasi belajar → hubungan sosial → keluarga → masa depan.

Bagaimana Kondisi Narkoba di Indonesia?

Data nasional menunjukkan bahwa persoalan narkoba masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan hasil pengukuran prevalensi penyalahgunaan narkoba yang dilakukan BNN bersama BRIN dan BPS, prevalensi penyalahgunaan narkoba setahun terakhir turun dari 1,95% pada 2021 menjadi 1,73% pada 2023. Angka tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam upaya pencegahan, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa persoalan narkoba masih membutuhkan perhatian berkelanjutan.  

Yang menarik perhatian adalah kondisi pada kelompok pelajar. Berdasarkan Profil Tematik Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus Tahun 2025, yang mengutip hasil Survei Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2023, prevalensi setahun pakai pada pelajar di wilayah perkotaan meningkat dari 1,15% pada 2021 menjadi 1,35% pada 2023. Data ini menjadi sinyal bahwa kelompok pelajar di perkotaan memerlukan strategi pencegahan yang lebih tepat sasaran.  

Data tersebut harus dipahami secara proporsional. Peningkatan pada kelompok pelajar perkotaan tidak berarti seluruh pelajar berada dalam kondisi berisiko. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa sekolah perlu menjadi salah satu pusat utama strategi pencegahan narkoba.






Dampak Narkoba terhadap Kesehatan Anak Sekolah

1. Mengganggu perkembangan otak

Masa remaja merupakan periode penting perkembangan otak. Penggunaan zat psikoaktif pada periode ini dapat mengganggu fungsi kognitif dan pengendalian perilaku.

Dampaknya dapat terlihat dalam bentuk menurunnya kemampuan berkonsentrasi, kesulitan mengendalikan emosi, gangguan pengambilan keputusan, serta perubahan perilaku.

WHO menekankan bahwa penggunaan zat pada usia dini berkaitan dengan risiko ketergantungan dan masalah kesehatan lainnya di kemudian hari.  

2. Menurunkan kesehatan fisik

Penyalahgunaan narkoba dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, tergantung jenis zat, dosis, pola penggunaan, dan kondisi individu. Gangguan dapat berkaitan dengan sistem saraf, jantung dan pembuluh darah, pernapasan, kesehatan mental, serta organ tubuh lainnya.

Dalam konteks anak sekolah, kondisi kesehatan yang menurun tentu akan mengganggu kehadiran, aktivitas belajar, aktivitas olahraga, dan produktivitas sehari-hari.

3. Mengganggu kesehatan mental

Masalah penyalahgunaan zat dan kesehatan mental dapat saling berhubungan. Anak yang mengalami tekanan psikologis dapat menjadi lebih rentan terhadap perilaku penggunaan zat, sementara penggunaan zat juga dapat memperburuk masalah psikologis.

WHO menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan remaja dan bahwa penggunaan zat pada masa remaja dapat berkaitan dengan berbagai persoalan perilaku, emosional, sosial, dan akademik.  


Dampak Narkoba Terhadap Prestasi Belajar

Sekolah seharusnya menjadi tempat anak mengembangkan kemampuan intelektual, sosial, emosional, dan fisiknya. Namun, penggunaan narkoba dapat mengganggu proses tersebut.

Siswa yang menyalahgunakan narkoba dapat mengalami:

sulit berkonsentrasi;

mudah mengantuk atau mengalami perubahan pola tidur;

kehilangan motivasi belajar;

sering tidak masuk sekolah;

menurunnya kemampuan menyelesaikan tugas;

perubahan perilaku;

konflik dengan teman atau guru;

menurunnya prestasi akademik; dan

dalam kondisi tertentu, berisiko putus sekolah.

WHO mencatat bahwa penggunaan zat pada anak muda berkaitan dengan konsekuensi pendidikan negatif, termasuk rendahnya keterlibatan dan prestasi di sekolah serta putus sekolah.  

Dengan demikian, narkoba dapat menjadi “jalan pendek” menuju kehancuran prestasi. Anak yang sebelumnya aktif, berprestasi, dan memiliki cita-cita dapat mengalami perubahan perilaku apabila penyalahgunaan zat tidak segera dikenali dan ditangani.

Narkoba Dan Kehancuran Masa Depan

Dampak narkoba tidak hanya dirasakan saat seorang anak berada di bangku sekolah. Masalah yang muncul pada masa remaja dapat terbawa hingga dewasa.

Anak yang mengalami penyalahgunaan zat berisiko mengalami gangguan pendidikan, masalah kesehatan, konflik keluarga, masalah sosial, dan ketergantungan. Akibatnya, peluang untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan karier dapat terganggu.

Padahal, generasi muda merupakan sumber daya manusia yang sangat penting bagi pembangunan bangsa. Karena itu, pencegahan narkoba pada anak sekolah sesungguhnya bukan sekadar melindungi seorang siswa, tetapi juga merupakan investasi terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Mengapa Anak Sekolah Bisa Terjerumus Narkoba?

Tidak ada satu penyebab tunggal. Faktor risiko dapat berasal dari berbagai lingkungan.

Pertama, faktor individu

Rasa ingin tahu, keinginan mencoba sesuatu yang baru, kemampuan mengendalikan diri yang belum matang, dan kesulitan menghadapi tekanan dapat meningkatkan kerentanan.

Kedua, faktor teman sebaya

Remaja sangat membutuhkan penerimaan kelompok. Tekanan teman sebaya dapat membuat anak mencoba sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dilakukannya.


Ketiga, faktor keluarga

Kurangnya komunikasi, pengawasan, perhatian, atau hubungan yang harmonis dalam keluarga dapat menjadi salah satu faktor risiko.

Keempat, faktor lingkungan

Lingkungan sosial yang permisif terhadap penggunaan zat atau mudahnya akses terhadap narkoba dapat meningkatkan risiko.

Karena faktor risikonya beragam, maka pencegahannya juga harus dilakukan secara multisektor. UNODC dan WHO menekankan pentingnya sistem pencegahan yang berbasis bukti serta melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, dan berbagai sektor terkait.  

Solusi Pencegahan Narkoba pada Anak Sekolah

1. Pendidikan pencegahan sejak dini

Pendidikan tentang narkoba sebaiknya diberikan sesuai tahap perkembangan anak. Materinya tidak hanya berisi daftar jenis narkoba dan ancaman hukuman, tetapi juga membahas keterampilan mengambil keputusan, mengelola emosi, menghadapi tekanan teman sebaya, dan kemampuan mengatakan “tidak”.

UNODC dan WHO merekomendasikan pendekatan pencegahan berbasis keterampilan personal dan sosial karena siswa tidak hanya perlu mengetahui bahaya narkoba, tetapi juga perlu memiliki kemampuan menghadapi tekanan sosial.  

2. Memperkuat Peran Keluarga

Orang tua harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk berbicara. Komunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi memungkinkan orang tua mengetahui perubahan perilaku anak lebih awal.

Orang tua perlu memperhatikan perubahan seperti:

perubahan pergaulan secara drastis;

penurunan prestasi;

sering tidak masuk sekolah;

perubahan emosi yang ekstrem;

menarik diri dari keluarga; atau

perubahan kebiasaan yang tidak biasa.

Namun, tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti anak menggunakan narkoba. Perubahan perilaku perlu dipahami secara menyeluruh dan, bila diperlukan, dikonsultasikan kepada tenaga profesional.


3. Membangun Sekolah Yang Aman Dan Sehat

Sekolah perlu memiliki kebijakan pencegahan narkoba yang jelas. Guru, wali kelas, guru BK, tenaga kesehatan sekolah, kepala sekolah, dan orang tua perlu bekerja sebagai satu sistem.

WHO merekomendasikan respons sektor pendidikan yang komprehensif, antara lain melalui kebijakan sekolah, kurikulum, pelatihan tenaga pendidikan, program berbasis bukti, serta layanan kesehatan sekolah.  

4. Memperkuat Kegiatan Olahraga Dan Aktivitas Positif

Olahraga dapat menjadi salah satu sarana membangun gaya hidup sehat, disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan pengendalian diri. Kegiatan seperti sepak bola, bola voli, atletik, renang, bela diri, senam, dan aktivitas fisik lainnya dapat menjadi alternatif positif bagi siswa untuk mengembangkan potensi.

Dalam konteks PJOK, guru tidak hanya mengajarkan keterampilan olahraga, tetapi juga dapat memasukkan pendidikan tentang gaya hidup sehat, pengambilan keputusan, pengendalian diri, kesehatan mental, dan pencegahan perilaku berisiko.

Dengan demikian, pembelajaran PJOK dapat berkontribusi terhadap pembentukan siswa yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan berkarakter.

5. Membangun Keterampilan Hidup Siswa

Pencegahan narkoba yang efektif tidak cukup dengan kalimat “jangan menggunakan narkoba”. Anak harus dibekali kemampuan untuk menghadapi situasi nyata.

Beberapa keterampilan yang penting adalah:

Kenali → Pertimbangkan → Tolak → Tinggalkan → Cari bantuan.

Misalnya, ketika seorang teman menawarkan zat terlarang, siswa harus mampu mengatakan dengan tegas:

“Tidak, saya tidak mau. Saya ingin tetap sehat dan mengejar cita-cita saya.”

Keterampilan sederhana seperti ini perlu dilatih melalui diskusi, simulasi, bermain peran, dan pembelajaran berbasis situasi.


6. Deteksi Dan Intervensi Lebih Awal

Sekolah perlu memiliki mekanisme untuk mendeteksi siswa yang membutuhkan bantuan. Pendekatan yang digunakan sebaiknya bukan semata-mata menghukum, tetapi juga mencegah, mendampingi, merujuk, dan memulihkan.

WHO menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi antara kesehatan mental, kesehatan otak, penggunaan zat, promosi kesehatan, pencegahan, dan layanan perawatan.  

Siswa yang membutuhkan pertolongan harus mendapatkan akses kepada guru BK, tenaga kesehatan, psikolog, dokter, atau layanan rehabilitasi yang sesuai

Peran Guru dalam Mencegah Narkoba

Guru merupakan figur penting dalam kehidupan siswa. Guru tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membantu membangun karakter dan lingkungan belajar yang sehat.

Guru dapat berperan dengan cara:

memberikan edukasi tentang bahaya narkoba;

membangun komunikasi positif dengan siswa;

mengenali perubahan perilaku siswa;

mengembangkan pembelajaran yang menarik dan bermakna;

mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler positif;

bekerja sama dengan orang tua;

berkoordinasi dengan guru BK;

menghindari stigma terhadap siswa yang membutuhkan pertolongan; dan

melakukan rujukan kepada tenaga profesional jika diperlukan.

Pencegahan yang efektif bukanlah tugas satu guru atau satu sekolah saja. Dibutuhkan kolaborasi sekolah–keluarga–masyarakat–tenaga kesehatan–pemerintah.

Peran Orang Tua: Jangan Hanya Bertanya “Sudah Belajar?”

Orang tua sering bertanya kepada anak, “Sudah belajar?” atau “Sudah mengerjakan tugas?” Pertanyaan tersebut penting, tetapi ada pertanyaan yang tidak kalah penting:

“Bagaimana perasaanmu hari ini?”

“Ada masalah dengan temanmu?”

“Apa yang membuat kamu khawatir?”

“Apakah ada seseorang yang memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan?”

Pertanyaan sederhana dapat membuka komunikasi yang lebih dalam. Anak yang merasa didengar dan diterima akan lebih mudah menceritakan masalahnya.

Karena itu, keluarga harus menjadi tempat paling aman bagi anak untuk meminta bantuan.

Sekolah sebagai Benteng Perlindungan Generasi Muda

Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat untuk mengejar nilai akademik. Sekolah harus menjadi lingkungan yang membantu anak tumbuh menjadi manusia sehat, percaya diri, berkarakter, dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

UNODC dan WHO melalui International Standards on Drug Use Prevention menekankan bahwa program pencegahan yang efektif perlu didasarkan pada bukti ilmiah dan mempertimbangkan faktor risiko serta faktor pelindung pada individu, keluarga, sekolah, teman sebaya, dan masyarakat.  

Artinya, pencegahan narkoba sebaiknya tidak dilakukan hanya ketika sudah terjadi kasus. Pencegahan harus dilakukan sebelum masalah muncul.

Kesimpulan

Narkoba merupakan ancaman serius bagi anak sekolah karena dampaknya dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan fisik dan mental, perkembangan kognitif, prestasi belajar, hubungan sosial, hingga masa depan. Data BNN menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba nasional setahun terakhir memang menurun dari 1,95% pada 2021 menjadi 1,73% pada 2023, tetapi data pada pelajar perkotaan yang meningkat dari 1,15% menjadi 1,35% menunjukkan bahwa kelompok usia sekolah tetap membutuhkan perhatian khusus.  

Oleh karena itu, perang melawan narkoba tidak cukup dilakukan melalui penegakan hukum. Dibutuhkan pendekatan preventif, edukatif, kesehatan, sosial, dan rehabilitatif. Keluarga harus menjadi tempat perlindungan pertama, sekolah menjadi lingkungan yang aman dan sehat, guru menjadi pendamping, dan masyarakat menjadi lingkungan sosial yang mendukung perkembangan anak.

Pada akhirnya, melindungi anak dari narkoba berarti melindungi cita-cita mereka. Setiap anak memiliki kesempatan untuk menjadi dokter, guru, atlet, peneliti, pengusaha, pemimpin, atau profesi lainnya. Jangan sampai masa depan tersebut berhenti hanya karena keputusan yang dibuat pada masa remaja.

Daftar Rujukan

Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN). (2023). Hasil Pengukuran Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba Tahun 2023. Jakarta: BNN. Data prevalensi 2021–2023 dilaporkan dalam publikasi BNN.  

Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN). (2023). Tindak Tanpa Pandang Bulu, Terus Melaju untuk Indonesia Bersinar. Jakarta: BNN. Memuat hasil pengukuran BNN–BRIN–BPS tentang prevalensi penyalahgunaan narkoba tahun 2023.  

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2025). Profil Tematik Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) Tahun 2025. p. 162. Memuat data prevalensi penyalahgunaan narkoba pada pelajar berdasarkan Survei Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2023.  

United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) & World Health Organization (WHO). (2018). International Standards on Drug Use Prevention: Second Updated Edition. Vienna: United Nations. Dokumen ini memberikan dasar ilmiah mengenai intervensi pencegahan penggunaan narkoba berbasis keluarga, sekolah, komunitas, dan kebijakan.  

World Health Organization (WHO). (2017). Good Policy and Practice in Health Education: Education Sector Responses to the Use of Alcohol, Tobacco and Drugs. Paris: UNESCO/WHO. 69 halaman. Sumber ini menegaskan hubungan penggunaan zat dengan kesehatan, keterlibatan sekolah, prestasi, dan risiko putus sekolah.  

World Health Organization (WHO). (2024). Adolescent and Young Adult Health: Health Risks and Solutions. Geneva: WHO. WHO menegaskan bahwa penggunaan zat sejak usia dini berhubungan dengan peningkatan risiko ketergantungan dan masalah kesehatan pada masa dewasa.  

World Health Organization (WHO). (2024). Global Status Report on Alcohol and Health and Treatment of Substance Use Disorders. Geneva: WHO. Laporan ini membahas beban penggunaan zat dan pendekatan pencegahan serta penanganannya secara global.  

World Health Organization (WHO). (2024). Integrated Operational Framework for Mental Health, Brain Health and Substance Use. Geneva: WHO, 44 halaman. Sumber ini menekankan integrasi promosi kesehatan, pencegahan, layanan, serta sistem informasi dalam menangani masalah penggunaan zat.  

United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). (2024). World Drug Report 2024: Key Findings and Conclusions. Vienna: United Nations.  


#GP | Padang | 5 September 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS