BATAM (KEPRI).GP — Ketika demokrasi menyempit dan kekuasaan semakin tidak nyaman terhadap kritik, jurnalis dituntut tetap berani menjalankan fungsi kontrol sosial dan memastikan publik tidak kehilangan kebenaran.
Pesan tegas itu disampaikan Ketua Umum AJI Indonesia Nany Afrida dalam orasinya pada Festival Media Selat Malaka 2026 di Batam, Minggu (20/9/2026) kemaren.
Nany menegaskan, jurnalisme sejak awal tidak pernah dirancang untuk menyenangkan penguasa. Justru, salah satu fungsi penting pers adalah mengawasi kekuasaan dan menghadirkan informasi yang dibutuhkan publik.
“Ketika demokrasi menyempit, ketika kekuasaan semakin tidak nyaman dengan kritik, ketika pemerintah ikut menjadi sumber disinformasi, maka pertanyaan selanjutnya adalah: apakah kita masih berani menjalankan jurnalisme ketika kebenaran memiliki risiko?” ujar Nany.
Menurutnya, tantangan terhadap jurnalisme tidak hanya datang dari tekanan kekuasaan, tetapi juga dari praktik buruk yang dilakukan oleh pihak-pihak yang menggunakan label pers untuk kepentingan pribadi.
Nany menyoroti praktik ancaman pemberitaan hingga pemerasan yang mengatasnamakan profesi jurnalistik. Ia mengingatkan, jurnalis profesional tidak boleh menjadikan berita sebagai alat transaksi.
“Jurnalis yang profesional tidak menjadikan ancaman pemberitaan sebagai alat tawar-menawar dan transaksional. Tidak meminta uang agar sebuah berita tidak diterbitkan. Dan tidak menggunakan penderitaan rakyat sebagai komoditas untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.
Ia menekankan, praktik pemerasan dengan mengatasnamakan pers harus diproses sesuai hukum. Perilaku tersebut, kata Nany, tidak boleh dibiarkan karena berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap pers dan mencoreng kerja jurnalistik yang dijalankan secara profesional.
Di sisi lain, Nany mengingatkan bahwa keberanian pers dalam mengungkap kebenaran harus berjalan beriringan dengan integritas. Kebebasan pers bukan ruang untuk melakukan tekanan, ancaman, ataupun transaksi pemberitaan.
Festival Media Selat Malaka 2026 berlangsung pada 19–21 September 2026 di Batam dan Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Festival tersebut menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan insan pers, media, masyarakat sipil, aktivis, akademisi, komunitas lokal, mahasiswa hingga berbagai pemangku kepentingan.
Dari forum tersebut, pesan yang mengemuka bukan sekadar tentang kebebasan pers, tetapi juga tentang tanggung jawab menjaga integritas jurnalistik di tengah tantangan demokrasi dan derasnya arus disinformasi.
Simak orasi lengkap Ketua Umum AJI Indonesia Nany Afrida melalui video berikut.
#GP | Ce | Red






Tidak ada komentar:
Posting Komentar