Padang Panjang (SUMBAR).GP — Persoalan fasilitas di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang perlahan bergeser dari sekadar keluhan mahasiswa menjadi pertanyaan mengenai arah prioritas pembangunan kampus.
Sejumlah mahasiswa mengungkapkan, persoalan ruang belajar, fasilitas praktik, peralatan hingga kondisi sejumlah gedung bukan masalah baru. Usulan perbaikan disebut telah disampaikan berulang kali dalam beberapa tahun terakhir. Namun, hingga kini masih terdapat fasilitas yang dinilai belum mendapatkan penanganan sebagaimana yang mereka harapkan.
Bahkan beberapa pembangunan fisik di lingkungan kampus saat ini tampak terbengkalai.
Kontras antara pembangunan fisik dan kondisi fasilitas yang digunakan mahasiswa inilah yang kemudian menjadi sorotan.
Mahasiswa tidak mempersoalkan pembanguna, mikipun itu nankrak. Yang mereka persoalkan adalah skala prioritasnya.
Ketika pembangunan fisik berlangsung, mahasiswa mempertanyakan mengapa sejumlah kebutuhan dasar yang bersentuhan langsung dengan proses belajar dan praktik masih belum sepenuhnya teratasi.
“Pembangunan kami dukung karena memang dibutuhkan. Tetapi kalau pembangunan tidak selesai dan tidak ada kejelasan, mahasiswa juga yang merasakan dampaknya,” ujar seorang mahasiswa saat menyampaikan orasinya di lapangan basket kampus, Kamis (3/09/2026)
Pertanyaan mahasiswa menjadi relevan karena karakter pendidikan di ISI Padang Panjang sangat bergantung pada fasilitas praktik. Ruang studio, ruang latihan, perangkat teknologi, peralatan produksi hingga fasilitas pendukung bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari proses akademik.
Artinya, ketika fasilitas tersebut terbatas, dampaknya tidak berhenti pada persoalan kenyamanan.
Ia dapat berpengaruh langsung terhadap proses pembelajaran.
Fotografi: Ketika Ruang Belajar Harus Dicari
Persoalan tersebut juga dialami oleh mahasiswa Program Studi Fotografi.
Mahasiswa mengaku keterbatasan ruang membuat mereka tidak selalu memiliki tempat yang dapat digunakan secara konsisten untuk menjalankan kegiatan pembelajaran dan praktik.
Dalam situasi tertentu, mahasiswa bahkan harus mencari ruang kelas yang kosong untuk dapat melaksanakan aktivitas akademik.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan, "Apakah kebutuhan ruang setiap program studi telah dihitung berdasarkan karakter pendidikan yang dijalankan?"
Fotografi bukan bidang studi yang seluruh proses belajarnya dapat dilakukan di dalam kelas konvensional.
Kegiatan praktik membutuhkan ruang, studio, perangkat fotografi dan fasilitas pendukung yang memungkinkan mahasiswa bereksperimen sekaligus menghasilkan karya.
Karena itu, ketika mahasiswa harus berpindah-pindah atau menumpang ruang yang tersedia, persoalannya bukan lagi semata tentang kenyamanan. Tetapi ada persoalan mengenai kepastian ruang belajar
“Di Fotografi kami sering menumpang dan mencari kelas kosong. Apakah itu namanya adil dan merata?” ujar mahasiswa.
Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya persoalan lain yang lebih mendasar, yakni pemerataan fasilitas antarprogram studi.
Setiap program studi memiliki kebutuhan berbeda. Karena itu, ukuran pemerataan semestinya tidak hanya dilihat dari jumlah ruangan atau bangunan yang tersedia, tetapi juga dari kesesuaian fasilitas dengan kebutuhan akademik masing-masing program studi.
Seni Musik: Ruang Latihan Berhadapan dengan Jam Operasional
Persoalan lain muncul di Program Studi Seni Musik.
Bagi mahasiswa musik, kegiatan akademik tidak otomatis selesai ketika jadwal perkuliahan berakhir.
Latihan ansambel, persiapan ujian, latihan kelompok hingga orkestra membutuhkan waktu tambahan. Bahkan, bagi sebagian mahasiswa, malam hari menjadi waktu yang paling memungkinkan untuk berlatih secara bersama-sama.
Namun, mahasiswa mengaku penggunaan ruang pada malam hari menghadapi pembatasan.
Di sinilah muncul persoalan yang menurut mereka belum menemukan titik temu.
BACA BERITA INI: https://www.goparlement.com/2026/09/mahasiswa-isi-padang-panjang-bergerak.html?m=1
Jika kegiatan perkuliahan berlangsung pada pagi hingga sore, sementara ruang latihan dibatasi pada malam hari, mahasiswa mempertanyakan kapan mereka dapat memperoleh waktu yang cukup untuk melakukan latihan.
“Waktu yang bisa kami gunakan untuk latihan justru malam. Tetapi ketika kami latihan, kami diminta keluar,” ujar mahasiswa.
Persoalan ini memperlihatkan adanya kemungkinan ketidaksinkronan antara tata kelola fasilitas dengan karakter pembelajaran seni.
Ruang latihan bagi mahasiswa musik bukan ruang berkumpul biasa.
Ia merupakan bagian dari laboratorium akademik tempat mahasiswa membangun kemampuan musikal, melakukan latihan berulang, mempersiapkan pertunjukan dan memenuhi tuntutan akademiknya.
Karena itu, pembatasan penggunaan ruang perlu dilihat tidak hanya dari aspek ketertiban dan operasional kampus, tetapi juga dari kebutuhan akademik mahasiswa.
Televisi dan Film: Belajar dengan Teknologi yang Terus Bergerak
Persoalan fasilitas juga disuarakan mahasiswa Program Studi Televisi dan Film.
Mereka menyoroti kondisi sebagian peralatan praktik yang dinilai telah lama digunakan dan membutuhkan pembaruan.
Masalah ini menjadi penting karena teknologi produksi televisi dan film berkembang sangat cepat.
Perangkat kamera, audio, pencahayaan, editing hingga teknologi produksi lainnya terus mengalami perubahan. Mahasiswa yang dipersiapkan masuk ke industri kreatif tentu membutuhkan pengalaman menggunakan perangkat yang relevan dengan perkembangan teknologi tersebut.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah peralatan lama masih dapat berfungsi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: sejauh mana peralatan praktik yang tersedia mampu mendukung kompetensi mahasiswa sesuai kebutuhan industri saat ini?
Kesenjangan teknologi antara kampus dan industri berpotensi menjadi persoalan serius bagi pendidikan vokasional dan berbasis praktik.
Mahasiswa juga menyoroti kondisi sejumlah fasilitas gedung.
Keluhan yang disampaikan antara lain menyangkut kebocoran, lantai yang terkena tetesan air serta fasilitas toilet yang dinilai belum memadai.
Jika persoalan tersebut benar terjadi secara berulang, maka pemeliharaan bangunan menjadi bagian yang tidak kalah penting dibandingkan pembangunan fisik baru.
Sebab, gedung yang dibangun tanpa pemeliharaan yang memadai pada akhirnya tetap berpotensi menghadirkan persoalan yang sama.
Pertanyaan Besarnya Bukan Soal Ada atau Tidak Ada Pembangunan
Rangkaian keluhan mahasiswa tersebut pada akhirnya membawa persoalan pada pertanyaan yang lebih besar.
Apa sebenarnya prioritas pembangunan fasilitas di ISI Padang Panjang?
Apakah pembangunan diarahkan terutama pada pembangunan fisik baru, atau berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan ruang, peralatan praktik, pemeliharaan gedung dan fasilitas akademik yang telah digunakan mahasiswa?
Pertanyaan ini penting karena pembangunan kampus seharusnya tidak berhenti pada ukuran fisik.
Gedung yang berdiri memang mudah terlihat.
Namun, kualitas ruang belajar, kelayakan fasilitas praktik dan ketersediaan peralatan yang relevan justru menjadi bagian yang langsung dirasakan mahasiswa setiap hari.
Mahasiswa pun tidak sedang mempertentangkan pembangunan dengan fasilitas dasar.
Mereka meminta agar keduanya berjalan beriringan.
Pembangunan fisik tetap diperlukan. Tetapi pada saat yang sama, fasilitas yang menjadi urat nadi kegiatan akademik juga harus mendapatkan perhatian.
Sebab, kampus seni bukan hanya membutuhkan gedung.
Kampus seni membutuhkan ruang untuk mencipta, alat untuk berkarya dan waktu yang cukup untuk berlatih.
Ketika salah satu dari tiga unsur tersebut terbatas, proses pendidikan ikut terdampak.
Kini, bola berada di tangan pengelola ISI Padang Panjang untuk menjelaskan bagaimana persoalan tersebut dipetakan, apa yang menjadi prioritas, serta kapan berbagai keluhan mahasiswa itu akan mendapatkan penyelesaian.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya berapa banyak bangunan yang dibangun.
Tetapi juga seberapa besar perubahan yang dirasakan mahasiswa ketika mereka masuk ke ruang kelas, studio, ruang latihan dan ruang praktik setiap hari.
#GP | Ce






Tidak ada komentar:
Posting Komentar