Waspada Buah Olahan: Sulfit Bisa Picu Gangguan Pernapasan pada Orang Sensitif - Go Parlement | Portal Berita

Waspada Buah Olahan: Sulfit Bisa Picu Gangguan Pernapasan pada Orang Sensitif

Rabu, September 30, 2026

 


PADANG (SUMBAR).GP — Di balik warna menarik dan masa simpan yang lebih panjang, sejumlah produk buah olahan ternyata dapat mengandung bahan tambahan pangan berupa pengawet. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah sulfit, terutama bagi konsumen yang memiliki sensitivitas terhadap bahan tersebut.


Sulfit, termasuk sulfur dioksida (SO₂), natrium sulfit, dan natrium metabisulfit, digunakan dalam pengolahan sejumlah produk buah untuk membantu mencegah pencokelatan sekaligus menghambat pertumbuhan mikroorganisme.


Namun, penggunaannya bukan berarti tanpa batas. Risiko kesehatan sangat bergantung pada jenis bahan, jumlah yang dikonsumsi, frekuensi konsumsi, serta sensitivitas masing-masing individu.


Guru Besar Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Padang, Prof. Dr. Khairuddin, M.Kes., AIFO, menjelaskan bahwa produk seperti aprikot kering, kismis, mangga kering, manisan pepaya, apel olahan, hingga minuman buah kemasan dapat menggunakan bahan pengawet tertentu sesuai formulasi dan ketentuan yang berlaku.


Sulfit dan Risiko Gangguan Pernapasan


Menurut kajian yang dirujuk dalam materi tersebut, dampak sulfit yang paling jelas terdokumentasi berkaitan dengan individu yang sensitif, terutama sebagian penderita asma.


BACA INI:

Bahaya Pengawet Buah-buahan bagi Kesehatan


Pada kelompok sensitif, konsumsi sulfit dapat memicu bronkokonstriksi atau memperburuk gejala asma. Reaksinya dapat berupa sesak atau rasa berat di dada, batuk, mengi, kesulitan bernapas, hingga bronkospasme serius pada kasus berat.


Karena itu, konsumen yang mengetahui dirinya sensitif terhadap sulfit disarankan lebih cermat membaca label sebelum membeli atau mengonsumsi produk buah olahan.


Ada Batas Konsumsi yang Harus Diperhatikan


JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) menetapkan acceptable daily intake (ADI) sulfit sebesar 0–0,7 miligram per kilogram berat badan, dinyatakan sebagai sulfur dioksida.


Dengan ketentuan tersebut, seseorang dengan berat badan 60 kilogram memiliki kisaran ADI sekitar 0–42 miligram SO₂ ekuivalen per hari.


Namun, angka tersebut tidak berarti setiap produk boleh mengandung sulfit sebanyak itu. Batas penggunaan dalam makanan ditentukan berdasarkan kategori pangan dan regulasi yang berlaku.


Codex GSFA yang diperbarui hingga 2025 juga mencantumkan ketentuan penggunaan sulfit pada kategori buah kering, termasuk batas maksimum tertentu dengan catatan dan pengecualian berdasarkan jenis produknya.


Artinya, konsumen tidak bisa serta-merta menyimpulkan bahwa seluruh buah kering mengandung sulfit pada kadar maksimum tersebut.


Bukan Berarti Semua Pengawet Berbahaya


Di tengah kekhawatiran terhadap bahan pengawet, satu hal penting perlu dipahami: pengawet pangan yang diizinkan tidak otomatis berbahaya.


Bahan pengawet digunakan karena memiliki fungsi teknologi, antara lain memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu produk. Persoalan muncul ketika penggunaannya tidak sesuai ketentuan, dikonsumsi secara berlebihan, atau dikonsumsi oleh individu yang memiliki sensitivitas tertentu.


Hal serupa berlaku pada natrium benzoat. Sejumlah penelitian membahas kemungkinan efek biologis bahan tersebut, terutama pada paparan tinggi. Namun, bukti dari penelitian pada sel atau hewan perlu dibedakan dari bukti mengenai dampaknya pada manusia.


Dengan kata lain, dosis menjadi faktor penting dalam menilai risiko.


Konsumen Diminta Lebih Cermat


Untuk mengurangi paparan yang tidak diperlukan, konsumen dianjurkan mengutamakan buah segar yang dicuci dengan baik serta tidak terlalu sering mengonsumsi buah kering atau manisan.


Membaca label komposisi juga menjadi langkah penting. Beberapa istilah yang perlu diperhatikan antara lain sulfur dioxide, sulfit, sodium metabisulfite, benzoate, dan sorbate.


Khusus individu yang diketahui sensitif terhadap sulfit, produk yang memicu gejala sebaiknya dihindari dan dapat dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.


Pesan yang lebih tepat bukan bahwa “semua pengawet berbahaya”, melainkan konsumen perlu memahami jenis bahan, memperhatikan jumlah, membaca label, dan mengonsumsi produk secara bijak.


Kenali Bahan, Jangan Berlebihan


Buah segar dan buah olahan perlu dibedakan. Buah segar umumnya tidak memerlukan pengawet kimia untuk segera dikonsumsi. Sementara itu, buah kering, manisan, jus, selai, dan berbagai produk olahan buah lainnya dapat menggunakan bahan tambahan pangan tertentu.


Karena itu, kewaspadaan konsumen tidak harus berubah menjadi ketakutan berlebihan.


Prinsip sederhananya: kenali bahan, perhatikan jumlah, baca label, dan konsumsi secara bijak.


Buah segar tetap menjadi salah satu pilihan yang baik untuk meningkatkan konsumsi buah sehari-hari.


#GP | Redaksi | Sumber: Prof. Dr. Khairuddin, M.Kes., AIFO Guru Besar Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Padang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS