Sijunjung (SUMBAR).GP — Hasil Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional tingkat Provinsi Sumatera Barat 2025 yang menempatkan Kabupaten Sijunjung di posisi ke-19 dari 19 kabupaten/kota harus menjadi catatan serius bagi pemerintah daerah dan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ).
Kondisi tersebut dinilai tidak boleh kembali terjadi. Perlu pembenahan menyeluruh, mulai dari penguatan anggaran, pola pembinaan, Training Center (TC), hingga penjaringan calon kafilah potensial secara berkelanjutan.
Hal itu diutarakan oleh tokoh masyarakat yang juga Ketua KAN Palangki Drs Asriben Dt Rajo Polowan ketika apresiasi terkait gerakan turunnya Kabag Kesra Hendri Nurka, Ketua Harian dan Sekretaris LPTQ ke pondok Al Quran dan Pondok Pesantren dalam menginventarisir calon qori dan qoriah.
H. Asriben menegaskan bahwa prestasi tidak mungkin diraih secara instan. Para qari dan qariah (Qori-Qoriah) yang memiliki kemampuan khusus harus mendapatkan perhatian dan fasilitas pembinaan yang memadai.
Oleh sebab itu, anggaran perlu menjadi catatan khusus pemerintah daerah. Para qori dan qoriah itu memiliki kemampuan khusus, sehingga harus kita hargai dengan memberikan fasilitas untuk mereka berbenah, pembinaan, TC dan lain sebagainya,” tegas Dt Rajo Polowan.
Menurutnya, MTQ bukan sekadar kegiatan seremonial. Ajang tersebut merupakan kompetisi bergengsi antarkabupaten/kota se-Sumatera Barat yang membutuhkan persiapan matang.
“Mustahil sesuatu bisa berhasil tanpa persiapan yang bagus. Apalagi ini lomba atau persaingan antar kabupaten/kota se-Sumatera Barat,” ujarnya.
Posisi terakhir Sijunjung yang berada di peringkat ke-19, menurut Asriben menjadi pukulan sekaligus beban moral bagi daerah yang selama ini dikenal memiliki tradisi keagamaan yang kuat.
“Ini sebetulnya pukulan untuk Sijunjung. Saya secara pribadi sangat merasakan ini sebagai bagian dari beban bagi kita di sini. Beberapa tahun sebelumnya belum ada catatan seperti ini,” katanya.
Karena itu, ia meminta setiap bidang dalam kepengurusan LPTQ bekerja sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Bidang penelitian, evaluasi, maupun pembinaan harus benar-benar menjalankan perannya sebagai bagian dari sistem pembenahan prestasi.
“Sesuaikan dengan job description di mana posisinya, sehingga memang masing-masing bidang berbenah,” katanya.
Jangan Instan, Potensi Lokal Harus Dibina Sejak Dini
Langkah LPTQ bersama Bagian Kesra Pemerintah Kabupaten Sijunjung yang mulai turun langsung ke pondok pesantren untuk mencari bibit-bibit potensial dinilai sebagai langkah strategis untuk jangka panjang.
Penjaringan tersebut diharapkan mampu menemukan calon qori dan qoriah dari berbagai wilayah di Sijunjung yang nantinya dapat dibina secara berkelanjutan.
Asriben menyebut langkah itu memang tidak serta-merta menghasilkan prestasi dalam waktu singkat. Namun, justru dari sinilah fondasi pembinaan harus dimulai.
“Itu bagian untuk jangka panjang. Memang sudah disiapkan dari hari ini, tidak masalah. Seluruh nagari relatif harus berbenah untuk itu,” jelasnya.
Ia menekankan, untuk menghadapi sebuah perlombaan, pembinaan harus dilakukan jauh-jauh hari. Tidak mungkin kafilah baru dikumpulkan menjelang keberangkatan kemudian langsung ditargetkan meraih prestasi.
“Tidak mungkin instan. Besok mau berangkat, hari ini dikumpulkan. Itu sesuatu yang tidak ada dalam rumus keberhasilan,” tegasnya.
Karena itu, LPTQ harusnya mendorong perubahan pola pembinaan MTQ Sijunjung dari yang bersifat jangka pendek menjadi sistem pembinaan berjenjang dan berkelanjutan.
Potensi qori dan qoriah dari nagari, sekolah, madrasah, hingga pondok pesantren harus dipetakan sejak dini. Mereka kemudian diberikan pembinaan sesuai cabang dan kemampuan masing-masing, disiapkan melalui TC yang terukur, serta dievaluasi secara berkala.
Dengan pola tersebut, target “membangkik batang tarandam” prestasi MTQ Sijunjung diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi gerakan bersama yang ditopang kebijakan anggaran dan pembinaan yang serius," tutupnya.
#GP | Herman.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar