Oleh: Ny. Maria Feronika Hendri
GOPARLEMENT.COM- Momentum peringatan satu abad Gempa Padang Panjang 1926 menjadi pengingat bahwa bencana bukan sekadar catatan sejarah, tetapi ancaman nyata yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan. Dalam Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang yang digelar pada 29 Juni 2026, Ketua PMI Kota Padang Panjang, Ny. Maria Feronika Hendri, menegaskan bahwa membangun budaya siaga merupakan investasi kemanusiaan yang harus dimulai dari sekarang.
Mengangkat tema "Menuju Masyarakat Tangguh Bencana dan Berbudaya Siaga", PMI menekankan bahwa mitigasi gempa bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.
Padang Panjang Berada di Kawasan Rawan Gempa
Secara geologis, Kota Padang Panjang merupakan salah satu wilayah dengan tingkat ancaman gempa yang tinggi di Sumatera Barat. Kota ini berada di jalur aktif Sistem Sesar Sumatera (Sesar Semangko), tepatnya di antara Segmen Sianok dan Segmen Sumani, serta dipengaruhi aktivitas zona subduksi Mentawai Megathrust.
Kondisi tersebut menjadikan Padang Panjang berpotensi mengalami gempa berkekuatan besar. Berdasarkan kajian BMKG, beberapa segmen patahan di Sumatera Barat mampu menghasilkan gempa hingga magnitudo 7,4.
Risiko yang ditimbulkan bukan hanya kerusakan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga korban jiwa, terganggunya pelayanan publik, kerugian ekonomi, hingga trauma psikologis masyarakat.
Ucapan terimakasih dari Inzuddin Kabid Geologi Dinas ESDM Sumbar dengan ditandai memberikan plakat penghargaan kepada Ny. Maria Feronika Hendri sebagai narasumber pada Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang yang digagas oleh PJKIP Padang Panjang, Sabtu (29/06/2026) di Gedung DPRD setempat. Dok: Goparlement.com
Belajar dari Tragedi Gempa 1926
Sejarah mencatat, pada 28 Juni 1926, gempa dahsyat meluluhlantakkan sebagian besar Kota Padang Panjang. Ribuan rumah roboh, ratusan warga meninggal dunia, serta retakan tanah muncul di berbagai lokasi.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah Sumatera Barat.
Menurut PMI, tragedi itu meninggalkan pelajaran penting bahwa korban gempa umumnya bukan disebabkan oleh guncangan itu sendiri, melainkan oleh bangunan yang tidak mampu menahan getaran.
Karena itu, pembangunan konstruksi tahan gempa, pendidikan kebencanaan, budaya siaga, dan solidaritas kemanusiaan harus menjadi prioritas bersama.
PMI Hadir Sebelum, Saat, dan Setelah Bencana
Dalam paparannya, Ny. Maria Feronika Hendri menjelaskan bahwa PMI tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga aktif melakukan upaya mitigasi sebelum bencana.
Program-program PMI meliputi:
- Pendidikan kebencanaan kepada masyarakat.
- Simulasi evakuasi gempa secara berkala.
- Pelatihan pertolongan pertama.
- Penguatan relawan kemanusiaan.
- Pembentukan keluarga tangguh bencana.
- Peningkatan kapasitas ketua RT, tokoh masyarakat, serta komunitas lokal.
Menurutnya, mitigasi merupakan investasi keselamatan yang manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Budaya Siaga Harus Dimulai dari Rumah
PMI mendorong agar kesiapsiagaan menjadi budaya sehari-hari.
Beberapa indikator masyarakat siaga antara lain setiap rumah memiliki tas siaga bencana, setiap keluarga mempunyai rencana darurat, setiap sekolah memiliki jalur evakuasi yang jelas, serta seluruh warga mengetahui lokasi titik kumpul ketika terjadi gempa.
Budaya siaga juga harus dibangun sejak usia dini melalui pendidikan kebencanaan di sekolah sehingga kesiapsiagaan menjadi bagian dari karakter masyarakat.
Perhatian Khusus bagi Kelompok Rentan
PMI mengingatkan bahwa dalam situasi bencana terdapat kelompok masyarakat yang memerlukan perhatian lebih, seperti anak-anak, balita, lansia, penyandang disabilitas, dan ibu hamil.
Kelompok ini membutuhkan mekanisme evakuasi khusus sehingga perencanaan mitigasi harus memasukkan aspek perlindungan kelompok rentan sebagai prioritas utama.
Ucapan terimakasih dari Inzuddin Kabid Geologi Dinas ESDM Sumbar ditandai dengan memberikan cendra mata kepada Ny. Maria Feronika Hendri sebagai narasumber pada Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang yang digagas oleh PJKIP Padang Panjang, Sabtu (29/06/2026) di Gedung DPRD setempat. Dok: Goparlement.com
Salah satu materi penting yang disampaikan PMI adalah langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa melalui metode internasional Drop – Cover – Hold On.
Masyarakat diimbau untuk segera merunduk, melindungi kepala, berlindung di bawah meja atau benda kokoh, kemudian berpegangan hingga guncangan benar-benar berhenti.
Pemahaman sederhana ini dinilai mampu menyelamatkan banyak nyawa apabila dilakukan dengan benar.
PMI Siap Memberikan Layanan Kemanusiaan
Apabila bencana terjadi, PMI akan mengerahkan berbagai layanan kemanusiaan, mulai dari evakuasi korban, pertolongan pertama, pelayanan ambulans, pos kesehatan darurat, distribusi bantuan logistik, penyediaan air bersih, trauma healing bagi anak-anak, hingga pendampingan psikososial bagi para penyintas.
Semua pelayanan tersebut dijalankan melalui jaringan relawan PMI yang telah mendapatkan pelatihan kebencanaan.
Menuju Masyarakat yang Lebih Siap daripada Tahun 1926
Menjelang peringatan 100 tahun Gempa Padang Panjang, PMI mengajak seluruh pemangku kepentingan melakukan refleksi bersama.
Pertanyaan besarnya adalah, "Apakah masyarakat Padang Panjang saat ini sudah lebih siap menghadapi gempa dibandingkan masyarakat tahun 1926?"
Menurut PMI, kesiapan tersebut harus diwujudkan melalui sekolah dan rumah yang aman gempa, gedung publik yang memenuhi standar keselamatan, simulasi kebencanaan yang dilakukan secara rutin, relawan yang aktif, sistem peringatan dini yang efektif, serta pendidikan kebencanaan sejak usia dini.
Kolaborasi Menjadi Kunci
PMI menegaskan bahwa membangun kota tangguh bencana memerlukan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, BPBD, BMKG, TNI, Polri, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan hingga masyarakat.
Sebagai rekomendasi, PMI mendorong penguatan kerja sama lintas sektor, pembentukan RT dan Kampung Siaga Bencana, pemetaan jalur evakuasi di seluruh kelurahan, pelaksanaan simulasi gempa minimal dua kali setiap tahun, serta penguatan pendidikan kebencanaan di sekolah.
Dengan semangat kemanusiaan dan gotong royong, PMI optimistis Padang Panjang dapat menjadi kota yang semakin tangguh dalam menghadapi ancaman bencana.
"Mitigasi bencana harus menjadi budaya hidup masyarakat. Bersama kita siap, bersama kita selamat."
#GP | Editor Redaksi | Rifnaldi








Tidak ada komentar:
Posting Komentar