Satu Abad Gempa Padang Panjang 1926: Ketika Tragedi Minangkabau Menggema hingga Eropa dan Melahirkan Solidaritas Kemanusiaan - Go Parlement | Portal Berita

Satu Abad Gempa Padang Panjang 1926: Ketika Tragedi Minangkabau Menggema hingga Eropa dan Melahirkan Solidaritas Kemanusiaan

Selasa, Juni 30, 2026

 


Oleh: Prof. Dr Surya Suryadi, PHD  a Lecturer at the Leiden University Institute for Area Studies


KoTidak semua bencana dikenang oleh sejarah. Sebagian hilang bersama puing-puing bangunan dan ingatan para penyintas. Namun Gempa Padang Panjang 28 Juni 1926 berbeda. Ia tidak hanya mengguncang tanah Minangkabau, tetapi juga mengguncang ruang redaksi surat kabar di Batavia, Semarang, Medan, bahkan Amsterdam dan Groningen. 


Selama berbulan-bulan, dunia mengikuti kabar dari sebuah kota kecil di dataran tinggi Sumatera Barat yang luluh lantak diterjang gempa. Seratus tahun kemudian, jejak-jejak sejarah itu masih tersimpan dalam arsip koran, foto-foto kolonial, syair rakyat, dan ingatan kolektif masyarakat Minangkabau.

GOPARLEMENT.COM- Tanggal 28 Juni 2026 menandai genap satu abad salah satu bencana paling dahsyat dalam sejarah Sumatera Barat, yakni Gempa Padang Panjang 1926. Selama ini, peristiwa tersebut lebih banyak dikenang sebagai tragedi lokal yang menghancurkan Padang Panjang dan kawasan sekitarnya. Namun, berbagai dokumen sejarah memperlihatkan bahwa dampaknya jauh melampaui batas-batas wilayah Minangkabau.

Pertemuan Walikota Hendri Arnis, BSBA dengan Prof. Dr Surya Suryadi, PHD  a Lecturer at the Leiden University Institute for Area Studies pada Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang yang digagass oleh PJKIP Padang Panjang, Sabtu (29/06/2026) di Gedung DPRD setempat. Dok: Goparlement.com


Gempa yang mengguncang pada Senin pagi, 28 Juni 1926 pukul 10.05 itu bukan hanya meruntuhkan ribuan bangunan dan merenggut banyak korban jiwa, tetapi juga menjadi perhatian luas media massa di Hindia Belanda hingga Negeri Belanda. Dalam hitungan jam, kabar mengenai kehancuran Padang Panjang telah menyebar ke berbagai kota di Nusantara, lalu menyeberang ke Eropa melalui jaringan kantor berita kolonial.


Satu abad kemudian, tragedi tersebut tidak hanya layak dikenang sebagai bagian dari sejarah kebencanaan Indonesia, tetapi juga sebagai pelajaran penting mengenai solidaritas kemanusiaan, dokumentasi sejarah, dan pentingnya membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.


Gempa yang Mengubah Wajah Padang Panjang Padang Panjang pada dekade 1920-an merupakan salah satu kota penting di pedalaman Sumatera Barat. 


Kota ini berkembang sebagai pusat pendidikan, perdagangan, serta jalur transportasi yang menghubungkan Padang dengan Fort de Kock (Bukittinggi).


Pada Senin, 28 Juni 1926 pukul 10.05 pagi, bumi berguncang sangat kuat. Guncangan yang terjadi menjadi salah satu gempa terbesar yang pernah dirasakan masyarakat pada masa itu. 


Ucapan terimakasih Walikota Hendri Arnis, BSBA ditandai dengan  memberikan plakat penghargaan kepada Prof. Dr Surya Suryadi, PHD  a Lecturer at the Leiden University Institute for Area Studies pada Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang yang digagass oleh PJKIP Padang Panjang, Sabtu (29/06/2026) di Gedung DPRD setempat. Dok: Goparlement.com

Berbagai bangunan permanen runtuh dalam hitungan detik. Rumah-rumah penduduk, gedung pemerintahan, pertokoan, kantor pos, jalur kereta api hingga fasilitas umum mengalami kerusakan berat.


Bencana tersebut tidak hanya melanda Padang Panjang, tetapi juga dirasakan di Fort de Kock, Solok, Sawahlunto, Agam, hingga kawasan pertambangan Ombilin. Kerusakan yang luas menunjukkan bahwa gempa tersebut memiliki dampak regional yang sangat besar bagi Sumatera Barat.


Yang menarik, pada masa itu belum terdapat sistem peringatan dini maupun teknologi mitigasi modern. Masyarakat hanya dapat menyelamatkan diri secara spontan ketika guncangan terjadi. Banyak korban tertimbun reruntuhan bangunan yang roboh dalam waktu sangat singkat.


Ketika Dunia Menyoroti Padang Panjang

Salah satu temuan menarik dari penelitian sejarah adalah cepatnya penyebaran informasi mengenai gempa tersebut.


Melalui jaringan telegraf dan kantor berita Aneta, kabar mengenai bencana segera dimuat oleh berbagai surat kabar di Hindia Belanda. Harian-harian besar seperti Algemeen Handelsblad, Bataviaasch Nieuwsblad, De Sumatra Post, De Indische Courant, Deli Courant, hingga Sumatra Bode memberitakan perkembangan situasi hampir setiap hari.


Tidak berhenti di Hindia Belanda, informasi tersebut segera sampai ke Negeri Belanda. Berbagai surat kabar di Groningen, Amsterdam, Rotterdam, Utrecht, Haarlem, Eindhoven, dan kota-kota lainnya secara rutin memuat laporan mengenai kondisi Padang Panjang bahkan hingga Agustus 1926.


Ucapan terimakasih Walikota Hendri Arnis, BSBA  ditandai dengan  memberikan cendra mata kepada Prof. Dr Surya Suryadi, PHD  a Lecturer at the Leiden University Institute for Area Studies pada Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang yang digagass oleh PJKIP Padang Panjang, Sabtu (29/06/2026) di Gedung DPRD setempat. Dok.Goparlemen.com

Laporan-laporan tersebut menggambarkan bangunan yang runtuh, korban jiwa yang terus bertambah, kerusakan jalur kereta api, hancurnya kawasan permukiman Tionghoa, hingga terganggunya aktivitas ekonomi di kawasan pertambangan Ombilin. 

Foto-foto kerusakan yang dimuat media Belanda memperlihatkan betapa dahsyatnya dampak gempa terhadap sebuah kota kecil di pedalaman Sumatera Barat.


Fakta ini menunjukkan bahwa bahkan satu abad lalu, sebuah bencana besar telah menjadikannya perhatian internasional melalui jaringan informasi global yang tersedia pada masa kolonial.


Bersambung ke Bagian II yang membahas besarnya kerusakan, solidaritas kemanusiaan lintas bangsa, serta pelajaran penting bagi mitigasi bencana masa kini.


#GP | Editor Redaksi| Rifnaldi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS