Sijunjung (SUMBAR).GP– Prestasi membanggakan diraih Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Maju Bersama Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Lembaga pendidikan nonformal tersebut berhasil masuk dalam tiga besar nasional setelah seluruh program kesetaraan yang dikelolanya, yakni Paket A, Paket B, dan Paket C, memperoleh nilai Akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional (BAN).
Ketua Umum Yayasan Pendidikan Sawahlunto/Sijunjung, ER Dt. Paduko Alam, SH, kepada media, Rabu (10/6/2026), mengatakan bahwa dari sebanyak 156 PKBM yang mengikuti penilaian akreditasi secara nasional, hanya tiga PKBM yang berhasil meraih Akreditasi A untuk seluruh jenjang kesetaraan yang diselenggarakan.
“Dari 156 PKBM yang dinilai tim akreditasi, hanya tiga PKBM yang Paket A, Paket B, dan Paket C-nya memperoleh nilai Akreditasi A,” ujarnya.
Selain PKBM Maju Bersama Kabupaten Sijunjung, dua lembaga lain yang meraih capaian serupa adalah PKBM Sarumaeno di Sulawesi Tenggara dan PKBM Lokomotif di Kota Padang, Sumatera Barat.
Visitasi akreditasi terhadap PKBM Maju Bersama dilaksanakan pada 18–19 Mei 2026 oleh asesor dari Badan Akreditasi Nasional. Dalam proses tersebut, berbagai aspek kelembagaan, pembelajaran, manajemen, hingga capaian peserta didik menjadi fokus penilaian.
PKBM Maju Bersama sendiri saat ini dipimpin oleh Sumbar Warjoyo, S.Pd., MM. Baik pihak yayasan maupun pengelola PKBM mengaku bersyukur atas prestasi yang diraih tersebut.
Menurut ER Dt. Paduko Alam, keberhasilan itu merupakan hasil kerja kolektif seluruh unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan kesetaraan.
“Ini merupakan kinerja kita bersama, mulai dari yayasan, ketua PKBM, para tutor, warga belajar, hingga dukungan dan pembinaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Jika kita ingin berbuat dengan niat yang ikhlas dan kerja sama yang kompak, maka hasil yang baik pasti bisa dicapai,” ungkap mantan Ketua LKAAM Kabupaten Sijunjung dua periode tersebut.
Ia optimistis PKBM Maju Bersama berpeluang menjadi yang terbaik di antara tiga besar nasional tersebut. Keyakinan itu didasarkan pada tingginya partisipasi warga belajar yang saat ini mencapai lebih dari 436 orang.
Salah satu keunggulan PKBM Maju Bersama, lanjutnya, adalah keberhasilannya menjangkau masyarakat yang tidak lagi berada dalam usia sekolah formal. Sekitar 60 persen warga belajar berusia di atas 24 tahun atau sudah melewati rentang usia sekolah.
“Sebagian besar warga belajar kami merupakan masyarakat dewasa yang ingin melanjutkan pendidikan. Bahkan sekitar 60 persen tidak lagi memperoleh dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) karena sudah berada di luar kategori usia sekolah,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat banyak peserta didik mengikuti program secara mandiri. Karena itu, pihak PKBM berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah guna mendukung keberlangsungan pendidikan nonformal yang selama ini menjadi solusi bagi masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan dasar maupun menengah.
Untuk menunjang proses pembelajaran bagi peserta didik dewasa, PKBM Maju Bersama menerapkan metode andragogi, yakni pendekatan pendidikan yang dirancang khusus untuk orang dewasa dengan menyesuaikan pengalaman, kebutuhan, dan kondisi kehidupan mereka.
Prestasi yang diraih PKBM Maju Bersama ini diharapkan menjadi motivasi bagi lembaga pendidikan nonformal lainnya di Indonesia untuk terus meningkatkan mutu layanan pendidikan serta memperluas akses belajar bagi masyarakat dari berbagai kalangan.
#GP | Herman.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar