Ditulis oleh : Hj.Kasmawati, S.Pd
Guru SDN 14 Tanjung Gadang
Sijunjung (SUMBAR).GP- Dahulu kala kerajaan Minangkabau yaitu Pagaruyuang, terdapat seorang raja yang sangat gagah berani dan dicintai oleh rakyatnya, yaitu Rajo Daulat Yang Dipertuan Agung Sultan Alam Bagagarsah.
Pada umumnya masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai petani pada saat itu, kemudian raja mengutus 11 orang untuk melakukan perjalan memperluas wilayah kekuasaan dan mencari tanah untuk diolah oleh kerajaan.
Disebutkanlah wilayah kekuasaannya yang baru 4 Koto.
Lalu 11 orang itu memulai perjalanannya dari Pagaruyung. Yang kemudian 11 orang inilah yang menjadi nenek moyang di daerah 4 Koto tersebut.
Mereka berpencar ke beberapa daerah, diantaranya 2 orang ke daerah yang sekarang kita kenal dengan Solok Amba disebut dengan (Koto Tuo).
3 orang pergi ke daerah yang sekarang kita kenal dengan Nagari Aie Angek.
4 orang lainnya pergi ke daerah yang kini dikenal dengan Congkieng atau Timbulun. Dan utusan yang masih muda yaitu ada 2 orang pergi ke daerah yang sekarang kita kenal Tanjung Gadang (Koto Nan Bungsu).
Kedua pemuda itu melalui hutan belantara dan medan yang terjal bukit yang besar dan berbatu, semak belukar dan berbagai hewan buas mereka temui baik itu harimau, gajah, ular dan lain-lain, namun tidak menyurutkan tekadnya untuk mencari wilayah sesuai yang di perintahkan raja.
3 Batu Monumen Tempat Duduk Pimpinan dari suku Malayu, Piliang dan Caniago Dalam Musyawarah di Balai-balai Koto Ranah.
Kedua pemuda ini bernama Datuak Paduko Rajo bersuku Malayu, dan Datuak Itam Bandaro Putiah bersuku Piliang. Mereka melakukan perjalanan hingga sampai ke suatu bukit yang sangat besar, daerah ini sekarang kita kenal dengan nama Jorong Koto Baru dan Jorong Koto Ranah adapun bukitnya bernama Koto Tuo. Di sinilah kedua pemuda tadi membuat pemukiman untuk sementara, pemuda itu juga melakukan perjalanan menyusuri perbukitan dan mereka juga melihat sungai Batang Kulampi dan mereka juga sampai ke daerah Mudik Malieh (mudik nan beralih).
Ke esokan harinya, kedua pemuda itu (Datuak Paduko Rajo, dan Datuak Itam Bandaro Putiah) melakukan pertemuan dengan para utusan yang lain dari Solok Amba, Aie Angek dan Timbulun yang bertempat di bukit Koto Nan Tuo.
Kata utusan yang dari Solok Amba dan Timbulun “Sudah besar kamu, dimana kamu tinggal” besar dalam bahasa minang yaitu gadang, kemudian dijawab oleh kedua pemuda tadi ”aku tinggal di bukit besar (Tanjung) itu” yang kemudian inilah yang menjadi asal usul dari nama Tanjung Gadang.
Kemudian pendapat lain juga menyebutkan adanya bunga besar yang tumbuh di bukit nan tuo yang bernama bunga tanjung yang kemudian juga menjadi asal usul nama Tanjung Gadang.
Kemudian datang untuk menyusul 2 pemuda tadi, seorang pria yang bernama "Olang Putiah" dia bersuku Caniago disaat perjalanan menelusuri hutan dia merasa bukit yang sangat terjal dan sulit dilalui yang pada akhirnya dia sebut daerah itu bukit sonsai atau bukit penderitaan yang sekarang ada di Padang Bio.
Kemudian saat berada di balai-balai yang ada di daerah Koto Tuo, awalnya hanya ada 2 batu yang menjadi tempat duduk Datuak Paduko Rajo dari suku Melayu, dan Datuak Itam Bandaro Putiah dari suku Piliang, namun kemudian datanglah Olang Putiah dari suku Caniago yang kemudian, dia mengambil batu untuk tempat duduk juga, akhirnya ada 3 batu di balai-balai yang hingga saat ini monumen batu tersebut masih bisa kita lihat di balai-balai di koto tuo atau lebih dikenal dengan Koto Ranah, saat dibalai-balai tersebut mereka bertiga musyawarah untuk penentuan wilayah. Dimana musyawarahnya itu menghasilkan yaitu daerah Koto Tuo menjadi daerah untuk suku Malayu, kemudian Koto Baru menjadi daerah untuk suku Piliang, dan Koto Tinggi untuk suku Caniago.
Setelah menghasilkan kesepakatan daerah itu, kemudian datanglah rombongan dari suku Patopang yang ingin memiliki daerah juga, kemudian salah satu utusan patopang bernama Lenggang lalu bertanya; "Apakah ada wilayah untuk suku Patopang ? kemudian dijawablah oleh 3 orang ketua suku tadi. "Kamu bisa memiliki daerah yang diluar 3 daerah kami tadi”, akhir suku Patopang memiliki daerah di Koto Ranah dan ketua suku patopang waktu itu bernama Lenggang Sapado karena wilayah suku patopang di masuk-masukan atau “di pado-padokan” saja kewilayah Koto Ranah pada saat itu.
Seiring bertambahnya waktu umat manusia juga semakin banyak dan bertambah, adapun batas wilayah nagari Tanjung Gadang waktu itu yaitu bukit sandaran bodie di Taratak Baru sampai ke Siaur di Talago Bonai.
Pada saat itu 4 Koto yang terdiri dari Solok Amba Koto Nan Tuo, Aie Angek, Cong kieng atau Timbulun, dan Tanjung Gadang di pimpin oleh seorang raja bernama Takkim Sri Rajo Tuo.
Pada suatu hari saat raja atau pemimpin 4 Koto yang bernama Takkim Sri Rajo Tuo mangkat atau meninggal terjadilah keributan yang besar antara 4 Koto, dimana orang Solok Amba sebagai Koto Nan Tuo lah yang menjadi tempat dimakamkannya Takkim Sri Rajo Tuo, orang Aie Angek tidak mau kalah mereka merasa berhak menjadi daerah tempat di makamkannya Takkim Sri Rajo Tuo, begitupun Congkieng (Timbulun) merasa berhak menjadi tempat dimakamkannya Takkim Sri Rajo Tuo, orang Tanjung Gadang meskipun sebagai Koto Nan Bungsu merasa paling berhak menjadi tempat dimakamkannya Takkim Sri Rajo Tuo karena menjadi tempat meninggalnya atau peristirahatan terkahir sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Seorang perempuan bernama Intan Bonieh dari suku piliang tidak tinggal diam dia berkata; “dahulu pas raja sakit kami lah yang mengurusnya, lapar kami kasih makan, sakit kami yang obati dan tempat akhir hayat beliau di Tanjung Gadang, jika kalian tetap menginginkan raja di daerah kalian bagaimana jika kita potong-potong saja tubuh raja lalu bisa kita makamkan di daerah kita masing masing. Kalian bisa melihat liang lahat sudah kami buat. Apakah kalian masing-masing perwakilan Koto mau mengisi liang lahat tersebut ?
Mendengar ucapan Intan Bonieh tadi akhirnya warga dari Solok Amba, Aie Angek, dan Timbulunpun setuju jika raja di makamkan di Tanjung Gadang saja, yaitu dekat rumah gadang Malayu Mandalam yang sampai saat ini masih bisa kita lihat di daerah Koto Ranah.
Semenjak peristiwa pemakanan Raja Takkim Sri Rajo Tuo nama Tanjung Gadang semakin dikenal masyarakat luas, sebagai daerah yang memiliki tanjung yang besar dan tempat dimakamkannya raja 4 Koto yaitu Raja Takkim Sri Rajo Tuo.
Sumber Informasi Hasil Wawancara dengan Tokoh Masyatakat Tanjung Gadang.
1. Dengan Sudirman, Mantan Penilik Kebudayaan Kabupaten Sijunjung.
2. Dengan Mak Umar seorang Budayawan Tanjung Gadang.
#GP | Sijunjung | 3 Juni 2026.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar