Menunggu Beduk Magrib: Menggapai Manisnya Iman - Go Parlement | Portal Berita

Menunggu Beduk Magrib: Menggapai Manisnya Iman

Sabtu, Maret 07, 2026

 


Oleh Ajral Muhsinin, S.Pd.I.M.Pd.



Sijunjung(SUMBAR).GP- Menjelang beduk Magrib, saat kita menanti waktu berbuka puasa, ada suasana yang begitu menenangkan. Setelah seharian menahan lapar, dahaga, serta menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, hati terasa lebih lembut dan dekat kepada Allah SWT. Inilah saat yang tepat untuk merenungkan tentang manisnya iman.


Rasulullah SAW bersabda bahwa ada tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman. Tiga perkara itu menjadi jalan bagi setiap muslim untuk merasakan kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan dalam beribadah kepada Allah SWT.


1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya di Atas Segalanya


Cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya haruslah menjadi cinta yang paling utama dalam kehidupan seorang mukmin. Cinta ini tercermin dari ketaatan kepada perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Ketika seseorang benar-benar mencintai Allah, ia akan berusaha menjalankan perintah-Nya dengan penuh keikhlasan, seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, dan berbuat kebaikan kepada sesama.


Begitu pula kecintaannya kepada Rasulullah SAW diwujudkan dengan meneladani akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Di bulan Ramadhan ini, rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya semakin terasa ketika kita menjalankan ibadah dengan penuh kesungguhan. Menahan lapar dan dahaga bukan sekadar kewajiban, tetapi wujud kecintaan kepada Allah SWT.


2. Mencintai Seseorang Hanya Karena Allah SWT


Manisnya iman juga dapat dirasakan ketika kita mencintai sesama bukan karena kepentingan dunia, melainkan semata-mata karena Allah SWT. Persaudaraan yang dibangun atas dasar iman akan melahirkan kasih sayang, kepedulian, dan saling menolong dalam kebaikan.

Di bulan Ramadhan, hal ini tampak dalam berbagai bentuk kebaikan, seperti berbagi takjil, membantu orang yang membutuhkan, serta mempererat silaturahmi. Ketika seseorang menolong saudaranya dengan niat ikhlas karena Allah, maka Allah pun akan mencintainya.

Cinta karena Allah adalah cinta yang suci dan tidak mudah pudar, karena dasarnya adalah keimanan dan harapan akan ridha Allah SWT.


3. Benci Kembali kepada Maksiat


Tanda lain dari manisnya iman adalah munculnya rasa benci untuk kembali kepada perbuatan maksiat. Seorang mukmin yang telah merasakan keindahan iman akan merasa takut dan enggan melakukan dosa.

Ia menyadari bahwa maksiat hanya akan menjauhkan dirinya dari rahmat Allah. Bahkan ia merasa seolah-olah dilemparkan ke dalam api apabila harus kembali melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Ramadhan menjadi momentum yang sangat baik untuk melatih diri meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki akhlak, serta memperbanyak amal kebaikan. Semoga setelah Ramadhan berlalu, kita tetap istiqamah dalam ketaatan dan menjauhi segala bentuk maksiat.

Menjelang beduk Magrib ini, mari kita jadikan waktu yang penuh berkah ini sebagai momen untuk memperkuat iman dan memperdalam kecintaan kepada Allah SWT. Semoga dengan menjalankan tiga perkara tersebut, kita semua dapat menggapai manisnya iman yang membawa kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.


Semoga Ramadhan yang kita jalani penuh dengan keberkahan dan diterima segala amal ibadah kita oleh Allah SWT. Aamiin.


#GP | Sijunjung | 8 Maret 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS