Oleh : H Epi Radisman Dt Paduko Alam SH
Sijunjung (SUMBAR).GP- Seketika Penulis (H Epi Radisman Dt Paduko Alam SH) mengikuti perjalanan Penelitian Sejarah Rajo Ibadat Sumpur Kudus, Kamis (20/10-1988) bersama 2 (dua) orang Ahli Peneliti : H Djafri Dt Bandaro Lubuak Sati, Dsn dari Biro Bintal Kantor Gubernur Sumatera Barat dan Abu Yazid Seribu Djaya dari bagian Purbakala Kanwil P dan K Sumatera Barat,
Didampingi oleh Prof Dr Sanusi Latif (Rektor IAIN Imam Bonjol Padang) dan Buya Syamsoe Anwar (Anggota Komisi C DPRD Sumatera Barat),
Berkonsentrasi ketika itu dengan menebarkan tepung tawar kiri-kanan sambil berjalan di pematang sawah berupa pulut hitam dan pecisan karatan logam besi menuju Munggu di tengah sawah yang padinya sedang menguning disebut candi berundak-undak tiga dari lempengan tanah, dikenal dengan nama "Candi Tanah Bato" Koto Tuo Sumpur Kudus.
Keliling Munggu Tim Ahli mencoba memantau secara persendirian mendengar, melihat, merasakan dengan indra ke-enam;
Dijajaki kejelasan bahwa di puncak wara itu berkubur Syekh Brey asal Kudus Jawa Tengah, sembari memberi sinyal pernah di Puncak Lontiak Aur Kuning, beliau (Syekh Brey) dihadang oleh "Raja Jin Sikatimuno" berwajah manusia, berkepala Kecil, rambut panjang pirang kecoklatan serupa rambut jagung, bisa terbang melayang dari gunung ke gunung, dari gunung ke bukit dan dari Bukit ke gunung.
Abu Yazid Seribu Djaya menularkan bahasa pikirannya kepada penulis, bahwa pertarungan antara Raja Jin Sikatimuno dengan Syekh Brey di puncak Bukik Lontiak Aua Kuniang dimenangkan oleh Shekh Brey dengan bantuan tongkat sakti Catra-Carti dan seterusnya
Tengkorak dan rambut panjang Jin itu diserahkan kepada Rajo Ibadat Minangkabau bernama Yang Dipertuan Sulthan Alif Kalifatullah.
Ahli H Djafri Dt Bandaro Lubuak Sati, DSn menuturkan dengan jelas kepada penulis bahwasanya rambut Jin Sikatimuno dibagi tiga ; sepertiga diikatkan ke ujung tombak Gumbalo Rajo Ibadat di Sumpur Kudus, sepertiga diikatkan diujung tombak Gumbalo Rajo Adat di Buo dan sepertiga nya lagi diikatkan diujung tombak Gumbalo Rajo Alam beserta tengkorak Jin Sikatimuno itu, di Balai Janggo Pagaruyung, tepatnya di Rumah Gadang Silinduang Bulan - Batusangkar.
HARI ketiga tanggal 22 Oktober 1988, diambang sore perjalanan pulang dari Ustano Rajo Ibadat Sumpur Kudus tepatnya di Puncak Lontiak Aur Kuning Tim Peneliti berhenti sejenak, Ahli Abu Yazid Seribu Djaya kembali menerangkan kepada penulis bahwa ditempat ini matinya Jin Sikatimuno oleh Syekh Brey, tetapi mereka masih berketurunan 9 (sembilan) Kerajaan besar Jin Sikatimuno, yang bermukim di gunung Singgalang, Gunung Merapi, gunung Sago, gunung Pasaman, Gunung Kerinci, Gunung Tandikek, Bukik Biaro, Bukik Ponggang dan Sitinjau Lawik, Meraka saling berkunjung dan menyatu, beradab dan berbudaya. Bila lamana mereka terganggu, mereka marah, memberontak dan dapat memangsa dengan cara menjilat.
Kembali dalam perjalan pulang ke Padang, tepatnya dipendakian Batu Palano - Tamparungo, terlihat sebelah kirinya jurang ngarai yang amat terjal dan dalam, kedua ahli disapa oleh sebangsa Jin betina terucap bernama Maimun, tiba-tiba mobil comby yang dikendarai Syahril Rauf itu turut berhenti, sembari berupaya mendengarkan pembicaraan dengan makhluk yang tidak semua orang dapat melihatnya. (Bersambung)
#GP | Sijunjung | 6 September 2026






Tidak ada komentar:
Posting Komentar