Jakarta(DKI). GP- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono angkat bicara mengenai kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai bentuk kelalaian yang seharusnya dapat dicegah.
Kasus tersebut terjadi setelah ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, menyantap makanan dari program MBG. BGN sebelumnya mencatat sedikitnya 512 orang terdampak dalam kejadian tersebut.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan jumlah korban terus bertambah. Laporan CNN Indonesia menyebut total korban dugaan keracunan MBG di Ponpes Manbaul Hikam telah mencapai 664 orang.
Sudaryono menegaskan bahwa kejadian keracunan makanan dalam program MBG tidak boleh dianggap sebagai hal biasa. Menurutnya, setiap makanan yang diberikan kepada penerima manfaat harus melalui proses pengolahan dan distribusi sesuai standar keamanan pangan.
Ia menyebut adanya unsur kelalaian dalam kasus Sidoarjo. Pernyataan tersebut disampaikan setelah BGN melakukan pemeriksaan terhadap proses penyediaan hingga distribusi makanan yang dikonsumsi para santri.
Sebelumnya, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengungkap adanya pelanggaran terhadap standar operasional prosedur (SOP) dalam pendistribusian makanan. Kondisi tersebut diduga membuat makanan mengalami penurunan kualitas sebelum dikonsumsi.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah waktu distribusi makanan. MBG merupakan makanan yang tidak menggunakan bahan pengawet sehingga membutuhkan penanganan dan pengiriman yang tepat agar kualitasnya tetap terjaga.
BGN kemudian memberikan sanksi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan tersebut. SPPG Talang Angin, Sidoarjo, dikenai suspensi berat selama 30 hari sebagai bagian dari tindakan terhadap pelanggaran yang terjadi.
Selain memberikan sanksi, pemerintah juga melakukan investigasi untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Pemeriksaan dilakukan bersama pihak terkait, termasuk dinas kesehatan, untuk mengetahui sumber masalah dan memastikan keamanan makanan yang diberikan kepada masyarakat.
Kasus Sidoarjo menjadi perhatian karena jumlah penerima manfaat yang terdampak cukup besar. Penanganan korban juga menjadi prioritas agar seluruh santri yang mengalami gangguan kesehatan memperoleh perawatan hingga dinyatakan pulih.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya penerapan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG. Pengawasan tidak hanya diperlukan di dapur penyedia makanan, tetapi juga pada proses pengemasan, penyimpanan, pengangkutan, hingga makanan diterima oleh penerima manfaat.
BGN menyatakan evaluasi akan dilakukan untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi. Setiap SPPG diminta menjalankan prosedur yang telah ditetapkan dan memastikan makanan didistribusikan dalam kondisi aman untuk dikonsumsi.
Pemerintah juga perlu memastikan adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap pelaksanaan MBG di berbagai daerah. Dengan cakupan program yang besar, kesalahan dalam satu tahapan saja dapat berdampak terhadap banyak penerima manfaat.
Kasus dugaan keracunan di Sidoarjo menjadi pengingat bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dibagikan. Kualitas, kebersihan, keamanan, dan ketepatan distribusi juga menjadi bagian penting agar tujuan program pemenuhan gizi masyarakat dapat tercapai.
#GP | DF






Tidak ada komentar:
Posting Komentar