Padang Panjang (SUMBAR), GP --- Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang mewisuda 441 lulusan program sarjana, sarjana terapan, magister dan doktor, Selasa,(15/9/2026) di Gedung Hoeridjah Adam Kampus ISI Padang Panjang.
Dalam kesempatan itu, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Yos Sunitiyoso menyampaikan Orasi Ilmiahnya, yang diawali dengan pertanyaan reflektif tentang tanggung jawab setelah ijazah diterima, yang menjadi kunci pembeda antara kelulusan akademik dan pembuktian di masyarakat.
Prof. Yos menegaskan, setiap wisudawan sesungguhnya menerima dua hal pada hari wisuda, yakni ijazah sebagai dokumen formal dan tanggung jawab moral yang jauh lebih penting.
“Mulai hari ini, Anda tidak lagi hanya dinilai dari hasil ujian, tetapi dari apa yang Anda lakukan dengan ilmu, karier, dan karakter Anda,” kata Prof. Yos dalam orasinya.
Menurutnya, paradigma pendidikan tinggi harus bergeser, wisuda bukan titik akhir melainkan pintu awal untuk membuktikan jati diri di dunia nyata yang menuntut kompetensi dan kredibilitas.
Dalam konteks kebijakan hilirisasi pendidikan tinggi, ia menekankan pentingnya jejaring berbasis kepercayaan, bukan sekadar kuantitas relasi.
Jejaring dibangun melalui tahapan mengenali ekosistem yang relevan, memberikan nilai tambah, berkolaborasi dalam penciptaan karya dan riset, serta merawat keberlanjutan hubungan.
Ekosistem alumni, industri kreatif, komunitas, dan jejaring internasional harus dioptimalkan sebagai jembatan antara kampus dan pasar kerja.
“Suatu hari nanti, orang tidak lagi hanya bertanya Anda lulus dari mana. Mereka akan bertanya: apa yang telah Anda lakukan?” ujarnya mengingatkan.
Dari sisi karier, lulusan diminta tidak terjebak pada orientasi jabatan, melainkan fokus pada eksplorasi, penguatan keterampilan, kemitraan strategis, hingga pada akhirnya menjadi pembina dan pemimpin.
Ia menegaskan keberhasilan tidak diukur dari kecepatan memperoleh posisi, melainkan dari kualitas proses, karya, dan manfaat yang dihasilkan secara berkelanjutan.
“Karya Anda akan tetap berbicara meskipun Anda tidak berada di dalam ruangan tersebut,” tegas Prof. Yos.
Indikator kualitas lulusan, menurutnya, dapat dilihat dari empat aspek, yakni karya sebagai portofolio nyata, dampak sosial yang dipecahkan, reputasi yang dibangun, dan konsistensi menjaga mutu.
Sebagai perguruan tinggi seni, ISI Padang Panjang memiliki modal utama berupa kemampuan berpikir kreatif yang harus disinergikan dengan teknologi, literasi digital, dan kecerdasan buatan.
Namun penguasaan teknologi tetap harus diimbangi empati, karakter, adaptabilitas, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial agar seni benar-benar menjadi penggerak perubahan di bidang budaya, ekonomi kreatif, dan masyarakat.
Di akhir orasinya, Prof. Yos mengajak wisudawan mengubah orientasi dari apa yang akan diperoleh menjadi apa yang dapat diberikan untuk diri sendiri, almamater, dan bangsa Indonesia melalui karya terbaik.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar