PARIAMAN(SUMBAR).GP — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Pariaman mendadak menjadi sorotan setelah sedikitnya 86 siswa MTsN 1 Kota Pariaman mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan yang mereka konsumsi, Senin (14/9/2026).
Para siswa mengalami sejumlah keluhan, mulai dari mual, muntah, pusing, sakit perut, gatal-gatal hingga sesak napas. Sebagian korban kemudian dilarikan untuk mendapatkan penanganan medis di RSUD Prof. H. Muhammad Yamin dan RSUD Dr. Sadikin Kota Pariaman.
Data jumlah korban sempat berubah sepanjang proses pendataan. Pemerintah Kota Pariaman mencatat sedikitnya 86 siswa mengalami gejala setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan di sekolah.
Wali Kota Pariaman Yota Balad mengatakan pemerintah daerah masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab munculnya gejala tersebut.
Dugaan sementara mengarah pada salah satu menu, yakni olahan ayam crispy atau chicken karage dengan saus lada hitam. Namun, pemerintah belum menyimpulkan bahwa menu tersebut merupakan penyebab pasti kejadian.
“Jumlahnya sekitar 86 orang. Namun, beberapa di antaranya sudah dibawa pulang oleh keluarga,” kata Yota dalam keterangan yang dikutip sejumlah media, Senin (14/9/2026).
Untuk memastikan penyebabnya, petugas Dinas Kesehatan bersama pihak terkait telah mengambil sampel makanan. Sampel tersebut kemudian diperiksa melalui laboratorium, termasuk dikirim ke BPOM di Padang.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman Rudy Repenaldi mengatakan pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan atau faktor tertentu pada makanan yang menyebabkan munculnya keluhan pada para siswa.
SPPG Dihentikan Sementara
Sebagai langkah pencegahan, Pemerintah Kota Pariaman mengambil keputusan untuk menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan makanan ke sekolah terdampak.
Penghentian sementara tersebut dilakukan sambil menunggu proses investigasi dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Langkah itu dinilai penting untuk mencegah kemungkinan terulangnya kejadian serupa sekaligus memberikan ruang kepada tim pemeriksa untuk menelusuri seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan hingga distribusi ke sekolah.
Salah satu laporan menyebut SPPG tersebut sebelumnya mendistribusikan MBG ke sejumlah sekolah di wilayah Kota Pariaman. Namun, laporan gangguan kesehatan dalam kejadian Senin tersebut paling banyak ditemukan pada siswa MTsN 1 Kota Pariaman.
Sementara itu, informasi mengenai nama yayasan pengelola SPPG masih belum seragam dalam pemberitaan. Sejumlah sumber menyebut Yayasan Duta Cahaya Bangsa, sementara sumber lainnya menyebut Yayasan Amal Putra Bangsa. Karena itu, identitas badan pengelola belum sebaiknya ditulis sebagai fakta final sebelum ada konfirmasi resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) atau Pemerintah Kota Pariaman.
Penyebab Masih Misteri
Hingga saat ini, belum ada hasil laboratorium yang menyatakan secara pasti penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Artinya, dugaan bahwa ayam crispy atau komponen tertentu dalam menu MBG menjadi sumber masalah masih harus dibuktikan secara ilmiah.
Kondisi ini penting ditegaskan agar kasus tersebut tidak berkembang menjadi kesimpulan sepihak sebelum hasil pemeriksaan keluar.
Di sisi lain, jumlah korban yang mencapai puluhan orang membuat insiden tersebut menjadi alarm serius terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.
Apalagi makanan tersebut dikonsumsi oleh peserta didik yang merupakan kelompok penerima manfaat utama program.
Pemerintah daerah kini menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sekaligus melanjutkan investigasi bersama pihak terkait, termasuk Badan Gizi Nasional.
Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan tidak hanya menjawab apa penyebab siswa mengalami gejala kesehatan, tetapi juga memastikan apakah terdapat persoalan dalam proses pengadaan bahan makanan, pengolahan, standar kebersihan, penyimpanan maupun distribusi makanan.
Bagi program MBG, kasus Pariaman menjadi ujian penting. Program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah tidak cukup hanya memastikan makanan tersedia dan dibagikan tepat waktu.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan makanan tersebut aman dikonsumsi.
#GP | Ce






Tidak ada komentar:
Posting Komentar