Tanah Datar(SUMBAR).GP— Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membedakan fakta, opini, dan informasi yang belum terverifikasi menjadi tantangan baru bagi generasi muda. Pelajar tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memeriksa dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.
Hal itu disampaikan Ketua Perkumpulan Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (PJKIP) Tanah Datar, Rezki Aryendi, SH, saat menjadi narasumber Podcast Oase SMK 1 Batusangkar, Kamis (6/8/2026).
Podcast yang berlangsung di Studio Podcast Oase SMK 1 Batusangkar itu mengangkat tema “Seni Bicara Fakta, Mengemas Transparansi Lewat Jurnalistik Visual.”
Menurut Rezki, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh sekaligus menyebarkan informasi. Informasi kini dapat beredar dalam hitungan detik melalui media sosial dan berbagai platform digital.
Persoalannya, kecepatan tersebut tidak selalu diikuti dengan ketepatan informasi.
Karena itu, literasi jurnalistik menjadi penting, terutama bagi generasi muda yang sehari-hari bersentuhan dengan media sosial.
“Anak-anak muda harus mampu membedakan mana fakta, opini, dan informasi yang belum terverifikasi. Jangan sampai menjadi bagian dari penyebaran hoaks. Jadilah generasi yang mampu menyampaikan informasi berdasarkan data dan fakta,” ujar Rezki.
Ia menjelaskan, jurnalistik modern tidak lagi sebatas kemampuan menulis berita. Perkembangan platform digital membuat informasi dapat dikemas melalui teks, foto, video, audio, maupun kombinasi berbagai format visual.
Namun, kemasan yang menarik tidak boleh mengorbankan substansi.
“Jurnalistik modern bukan hanya soal bagaimana sebuah berita ditulis, tetapi juga bagaimana fakta dikemas secara menarik melalui visual, video, audio, dan berbagai platform digital tanpa menghilangkan prinsip akurasi dan keberimbangan,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Rezki menilai generasi muda memiliki posisi strategis. Kedekatan pelajar dengan teknologi, fotografi, videografi, media sosial, dan berbagai platform digital dapat menjadi modal untuk membangun ekosistem informasi yang lebih sehat.
Pelajar, kata dia, perlu didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen informasi yang memahami tanggung jawab di balik setiap konten yang dibuat dan disebarkan.
Di sisi lain, keterbukaan informasi publik juga tidak dapat dipisahkan dari kerja jurnalistik. Informasi publik yang terbuka dan dapat diakses masyarakat menjadi salah satu fondasi penting untuk mendorong pemerintahan yang transparan dan akuntabel.
Bagi jurnalis, keterbukaan informasi menjadi salah satu sumber penting untuk memperoleh data dalam menjalankan fungsi kontrol sosial. Sementara bagi masyarakat, akses terhadap informasi publik dapat menjadi sarana untuk mengetahui sekaligus mengawasi penyelenggaraan pemerintahan.
“Informasi yang terbuka dan dapat diakses masyarakat menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan dapat dipercaya,” kata Rezki.
Ia berharap ruang-ruang edukasi seperti Podcast Oase SMK 1 Batusangkar dapat terus dikembangkan. Sekolah dinilai tidak hanya menjadi tempat pembelajaran akademik, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran kritis siswa dalam menghadapi banjir informasi.
Kehadiran PJKIP Tanah Datar dalam podcast tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan jurnalistik modern dan keterbukaan informasi publik kepada pelajar.
PJKIP Tanah Datar menyatakan akan terus mendorong edukasi jurnalistik dan keterbukaan informasi melalui kolaborasi dengan sekolah, organisasi kepemudaan, serta komunitas masyarakat.
Tujuannya bukan sekadar melahirkan generasi yang piawai menggunakan teknologi, melainkan generasi yang mampu memeriksa sebelum membagikan, memahami sebelum menyimpulkan, dan menyampaikan informasi berdasarkan fakta.
#GP | | ****






Tidak ada komentar:
Posting Komentar