DI BALIK KACA MOBIL YANG BERGOYANG - Go Parlement | Portal Berita

DI BALIK KACA MOBIL YANG BERGOYANG

Kamis, Agustus 13, 2026

 

Cerbung— Episode 1: Jumat Siang di Kota Berkabut.


GOPARLEMENT.COM- Pagi dan sore hari, kabut tipis sering turun menyelimuti lereng di kota kecil yang selalu tampak tenang dari kejauhan.


Udaranya juga terasa dingin, tetapi kehidupan masyarakatnya hangat. Kota itu tidak terlalu besar. Orang-orang mudah mengenal satu sama lain.


Di salah satu sudut kota itu berdiri sebuah rumah sakit yang cukup megah.


Pelayanannya dikenal baik. Dokter dan perawatnya bekerja hingga larut demi melayani pasien.


Di tempat itulah seorang dokter umum bernama Petruk bekerja.


Petruk dikenal sebagai dokter yang ramah.


Ia mudah menyapa.


Mudah tersenyum.


Dan, kata teman-temannya, Petruk juga termasuk orang yang ringan tangan membantu rekan sejawat.


Kalau ada perawat membutuhkan bantuan, Petruk sering datang.


Kalau ada teman dokter yang sedang kesulitan, ia juga tidak segan membantu.


Tetapi Petruk mempunyai satu kelemahan yang kadang membuat teman-temannya khawatir.


Kepalanya sering tiba-tiba pusing.


Tidak jarang ia harus berhenti sejenak dari aktivitas.


Untungnya, di rumah sakit itu ada banyak tenaga kesehatan yang siap membantu.


Salah satunya seorang perawat bernama Melati.


Perempuan itu dikenal cantik, ramah, dan cukup dekat dengan banyak rekan kerjanya.


Termasuk Petruk.


Kedekatan mereka, bagi sebagian orang, tidak lebih dari hubungan antara dokter dan perawat.


Namun seperti biasa...


di tempat kerja, sesuatu yang sederhana kadang bisa dilihat dengan cara berbeda.


Jumat siang itu, aktivitas rumah sakit cukup padat.


Orang keluar masuk.


Kendaraan silih berganti.


Sebagian pegawai bersiap menunaikan salat Jumat.


Petruk baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


Ia berjalan menuju mobil.


Membuka pintu.


Masuk.


Mesin dinyalakan.


Namun beberapa detik kemudian Petruk memegang kepalanya.


Pusing.


Ia memejamkan mata.


Mencoba mengatur napas.


Tetapi kondisi tubuhnya belum juga membaik.


Dari kejauhan, seseorang memperhatikan.


Namanya Jaka.


Jaka bukan orang yang bekerja di ruang pelayanan medis.


Ia hanya berada di sekitar halaman rumah sakit.


Di tempat yang tidak terlalu jauh, Sapan juga sedang berada di sana.


Jaka menunjuk ke arah mobil.


"Pan."


Sapan menoleh.


"Kenapa?"


"Itu Petruk, kan?"


"Iya."


"Kayaknya dia sakit."


Sapan memperhatikan.


Benar.


Petruk masih berada di dalam mobil.


Tidak lama kemudian Melati terlihat datang.


Ia membuka pintu mobil.


Masuk.


Jaka dan Sapan saling berpandangan.


"Melati masuk," kata Sapan.


Jaka mengangguk.


Tidak ada yang aneh.


Seorang dokter sedang tidak sehat.


Seorang perawat datang memberikan pertolongan.


Semuanya sebenarnya masuk akal.


Sampai beberapa saat kemudian...


mobil itu bergerak.


Tidak keras.


Hanya bergoyang sedikit.


Jaka memperhatikan.


Sapan juga.


Mereka kembali saling berpandangan.


"Pan..."


"Iya."


"Kok mobilnya goyang?"


Sapan tidak menjawab.


Keduanya kemudian berjalan mendekat.


Semakin dekat, suara dari dalam mobil mulai terdengar.


Samar.


Tidak jelas.


Seperti seseorang sedang mengaduh.


Jaka berhenti.


Sapan juga.


Mereka saling memandang.


"Ada suara?" tanya Jaka.


Sapan mengangguk.


"Ada."


Mereka mendekat lagi.


Suara itu terdengar kembali.


Pendek.


Seperti suara keluhan.


Namun mereka tidak bisa memastikan dari siapa suara tersebut berasal.


Jaka mulai merasa tidak nyaman.


Sebab apa yang dilihat dan didengarnya mulai menciptakan dugaan di kepalanya.


Padahal ia belum melihat apa pun.


Sapan kemudian berkata.


"Kita cek."


Mereka berjalan menuju mobil.


Jaka berada sedikit di belakang.


Sapan mendekati pintu.


Kaca mobil tertutup.


Dari luar, bagian dalam tidak terlihat jelas.

Sapan mengetuk kaca.


Tok... tok... tok...


Tidak ada jawaban.


Jaka mendekat.


Suara dari dalam terdengar lagi.


Kali ini lebih jelas.


Keduanya kembali saling berpandangan.


Sapan mengetuk kaca sekali lagi.


"Dok?"


Hening.


Beberapa detik kemudian terdengar suara dari dalam.


Jaka tidak mengerti apa yang dikatakan.


Sapan juga tidak.


Mereka hanya tahu ada sepasang insan di dalam mobil.


Dan mobil itu beberapa kali bergerak.


Jaka mulai gelisah.


Di satu sisi, ia merasa mungkin memang ada sesuatu yang tidak beres.


Di sisi lain, ia belum melihat apa pun.


Namun rasa penasaran sudah terlanjur menguasai pikirannya.


Ia memandang Sapan.


Sapan memandangnya kembali.


Tidak ada kata yang terucap.


Tetapi keduanya seolah memiliki pertanyaan yang sama.


Apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam mobil itu?


Dan sebelum mereka mengetahui jawabannya...


Sebuah langkah kecil yang dilakukan Jaka akan mengubah cerita itu menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.


Sebab beberapa menit kemudian...


Pintu mobil tersebut akhirnya terbuka.


Dan apa yang mereka lihat di balik pintu itu justru membuat mereka semakin bingung.


Bersambung...


#GP | Gores Penulis| Red


Disclaimer: Cerbung ini adalah karya fiksi. Nama tokoh, tempat, karakter, dialog, dan sejumlah peristiwa merupakan rekaan serta telah disamarkan. Kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap pihak tertentu. 


Cerita ini dibuat sebagai refleksi moral tentang prasangka, kecemburuan, etika, dan dampak sebuah dugaan yang berkembang menjadi cerita.


Di sebuah kota kecil yang sejuk, perbukitan mengelilingi hampir seluruh penjuru mata.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS