DI BALIK KACA MOBIL YANG BERGOYANG - Go Parlement | Portal Berita

DI BALIK KACA MOBIL YANG BERGOYANG

Minggu, Agustus 30, 2026

Episode 6 — Apa yang Dilihat Nara




Catatan: Cerbung ini sepenuhnya karya fiksi. Nama tokoh, tempat, karakter, dialog, dan rangkaian peristiwa merupakan rekaan. Kemiripan dengan orang atau kejadian nyata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap pihak tertentu.


Sejak menerima pesan misterius malam itu, Nara sulit memejamkan mata.


Telepon genggam masih berada di tangannya.


Satu kalimat terus terbayang:


"Jangan sampai mereka tahu bahwa kamu juga melihat mobil itu."


Nara mematikan layar.


Beberapa detik kemudian menyalakannya lagi.


Pesan itu masih ada.


Ia membaca kembali.


Lalu bertanya dalam hati:


Siapa yang mengirim pesan itu?


Dan yang lebih membuatnya gelisah...


dari mana orang itu tahu bahwa dirinya melihat mobil Petruk dan Melati?


Jumat siang itu sebenarnya Nara tidak berniat memperhatikan siapa pun.


Ia sedang menyelesaikan pekerjaannya.


Namun ketika melewati salah satu sisi gedung, pandangannya tanpa sengaja tertuju ke halaman parkir.


Dari kejauhan terlihat sebuah mobil.


Nara mengenal kendaraan itu.


Mobil Petruk.


Awalnya ia hendak terus berjalan.


Tetapi kemudian ia melihat Melati datang.


Perempuan itu membuka pintu mobil dan masuk.


Nara berhenti.


Bukan karena curiga.


Setidaknya begitu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.


Mungkin Petruk sedang membutuhkan bantuan.


Mungkin Melati sedang memberikan pertolongan.


Semuanya bisa saja normal.


Tetapi beberapa saat kemudian...


Nara melihat seseorang berdiri tidak jauh dari kendaraan.


Seseorang yang tidak dikenalnya.


Orang itu seperti sedang memperhatikan mobil.


Nara merasa aneh.


Ia hendak mendekat.


Namun sebelum sempat bergerak, seseorang memanggilnya dari belakang.


"Nar!"


Nara menoleh.


Seorang rekan kerja meminta bantuannya.


Nara terpaksa pergi.


Ketika beberapa menit kemudian ia kembali melihat ke arah parkir...


orang tersebut sudah tidak ada.


Mobil Petruk juga sudah kosong.


Nara tidak memikirkan kejadian itu lagi.


Sampai foto tersebut muncul.


"Jadi kamu memang melihatnya?"


Suara itu membuat Nara tersentak.


Ia menoleh.


Tidak ada siapa-siapa.


Nara berada sendirian di ruang perawat.


Ia menarik napas.


Ternyata hanya pikirannya sendiri.


Namun pertanyaan itu terus menghantui.


Apa sebenarnya yang ia lihat?


Sementara itu, Jaka dan Sapan sedang melakukan "penyelidikan".


Menurut Jaka, mereka sedang serius.


Menurut Sapan, mereka sedang mencari masalah.


Keduanya duduk di sebuah warung kopi tidak jauh dari rumah sakit.


Jaka membuka foto.


Sapan memegang kaca pembesar kecil.


Jaka menatapnya.


"Pan."


"Apa?"


"Kamu bawa itu dari mana?"


Sapan melihat kaca pembesar di tangannya.


"Dari rumah."


"Memangnya kamu detektif?"


"Enggak."


"Terus?"


"Karena kamu bilang mau penyelidikan."


Jaka tertawa.


"Kita mau cari bayangan, bukan mencari semut."


Sapan mengangkat bahu.


"Siapa tahu bayangannya kecil."


Jaka menggeleng.


"Kadang saya menyesal mengajak kamu."


"Tenang. Saya juga menyesal ikut."


Jaka kembali memperhatikan foto.


"Pan, coba lihat ini."


Sapan mendekat.


"Yang mana?"


"Bayangan."


Sapan mengambil telepon.


"Ini bukan bayangan."


"Terus?"


"Pantulan."


Jaka diam.


"Bayangan dan pantulan beda."


Jaka mengangguk.


"Ya sudah. Jangan diperdebatkan."


Sapan tersenyum.


"Yang penting kamu sekarang sudah naik kelas."


"Naik kelas?"


"Dari detektif mobil menjadi ahli optik."


Jaka tertawa.


Namun setelah tawa mereka reda, Jaka kembali serius.


"Kalau Nara bukan orang yang ada di foto..."


Sapan melanjutkan:


"Berarti ada orang lain."


"Iya."


"Dan orang itu kemungkinan melihat Petruk dan Melati sebelum foto diambil."


Jaka mengangguk.


"Berarti dia tahu sesuatu."


"Belum tentu."


"Kenapa?"


"Karena melihat tidak sama dengan mengetahui."


Jaka terdiam.


Lagi-lagi Sapan benar.


Seseorang bisa melihat kejadian tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Di rumah sakit, Nara akhirnya memberanikan diri menemui Petruk.


"Dok."


Petruk menoleh.


"Ya, Nara?"


"Dokter..."


Nara ragu.


"Ada apa?"


Nara menarik napas.


"Jumat lalu, dokter merasa ada orang yang memperhatikan mobil?"


Petruk mengernyit.


"Memangnya kenapa?"


"Enggak."


Nara menunduk.


"Saya cuma bertanya."


Petruk kemudian berkata:


"Saya tidak tahu."


Nara terdiam.


"Tapi memang ada apa?"


Nara menggeleng.


"Enggak ada, Dok."


Ia kemudian pergi.


Petruk memperhatikannya.


Ada sesuatu yang berbeda dari sikap Nara.


Seolah-olah perempuan itu sedang menyimpan sesuatu.


Sementara itu, seseorang berdiri di ujung lorong.


Ia melihat Nara keluar dari ruangan Petruk.


Orang itu kemudian mengambil telepon.


Mengetik sebuah pesan.


"Nara sudah menemui Petruk."


Pesan terkirim.


Beberapa detik kemudian balasan masuk.


"Jangan biarkan dia bicara."


Orang tersebut menatap layar.


Kemudian menghapus percakapan.


Di luar gedung, Jaka dan Sapan masih sibuk dengan foto.


Tiba-tiba Jaka berkata:


"Pan."


"Hmm?"


"Kalau ada dua foto..."


"Iya."


"Dan ada orang yang berbeda di belakang..."


"Iya."


"Berarti kita harus mencari dua orang."


Sapan mengangguk.


"Betul."


Jaka tersenyum.


"Ini sudah seperti film."


Sapan menatapnya.


"Bedanya..."


"Apa?"


"Kalau film ada sutradaranya."


"Terus?"


"Kalau ini..."


Sapan menunjuk rumah sakit.


"...kita belum tahu siapa yang mengatur ceritanya."


Jaka terdiam.


Malam kembali turun.


Nara duduk sendirian.


Ia membuka telepon.


Ada satu foto lama.


Foto yang ia ambil sendiri pada Jumat siang.


Bukan foto Petruk dan Melati.


Melainkan foto halaman parkir.


Foto itu sebenarnya tidak penting.


Namun ketika diperbesar...


terlihat seseorang berdiri di dekat sebuah tiang.


Nara memperhatikan wajahnya.


Kemudian memperbesar lagi.


Kali ini wajah orang itu terlihat sedikit lebih jelas.


Nara langsung membeku.


Karena ia mengenalnya.


Bukan Petruk.


Bukan Melati.


Bukan Jaka.


Bukan pula Sapan.


Nara menutup mulutnya.


"Astaga..."


Ia kemudian berbisik:


"Jadi kamu..."


Teleponnya tiba-tiba berdering.


Nomor tidak dikenal.


Nara menatap layar.


Tidak mengangkat.


Telepon berhenti.


Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk.


"Sekarang kamu sudah tahu siapa yang berada di sana."


Nara gemetar.


Pesan kedua masuk.


"Tapi kamu belum tahu siapa yang mengambil foto."


Nara menatap layar.


Lalu pesan ketiga muncul.


"Dan kalau kamu memberitahu Jaka..."


Nara berhenti bernapas sejenak.


Pesan terakhir:


"...foto berikutnya bukan lagi tentang Petruk dan Melati."


Nara mematikan telepon.


Untuk pertama kalinya ia merasa ketakutan.


Karena ia mulai sadar...


kejadian Jumat itu bukan sekadar salah paham antara dua orang di dalam mobil.


Ada seseorang di luar sana yang sejak awal memperhatikan.


Ada seseorang yang mengambil gambar.


Dan ada seseorang yang tampaknya sudah menyiapkan cerita jauh sebelum Jaka dan Sapan mengetuk kaca mobil.


Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS