Tanah Datar (SUMBAR).GP - Pemerintah Kabupaten Tanah Datar mulai mempercepat pemerataan sekolah inklusif di tingkat sekolah dasar. Langkah ini dimatangkan melalui kolaborasi dengan UIN Mahmud Yunus Batusangkar.
Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Bunda Literasi Tanah Datar, Ny. Lise Eka Putra, di Gedung Indo Jalito Batusangkar, Senin 10 Agustus 2026.
Hadir dalam pertemuan itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Datar, Dr. Alfi Hidayati, M.Pd, serta dua akademisi dari UIN Mahmud Yunus Batusangkar yakni Dr. Fadriati, M.Ag dan psikolog Dani Yoselisa, M.Psi.
Dalam arahannya, Lise menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi anak yang tertinggal hanya karena keterbatasan fisik atau kebutuhan khusus. Menurutnya, sekolah reguler harus menjadi rumah yang aman bagi semua anak.
Ia menjelaskan, prinsip utama sekolah inklusi adalah menyatukan anak berkebutuhan khusus (ABK) dan anak reguler dalam satu kelas yang sama di sekolah terdekat dari tempat tinggal, tanpa ada sekat diskriminasi.
"Ini bukan sekadar soal akses pendidikan, tapi soal keadilan. Kita ingin semua sekolah di Tanah Datar ramah, aman, dan siap menerima keberagaman peserta didik," tegas Lise.
Fokus Latih Guru Fase A Deteksi Dini
Sebagai tindak lanjut, UIN Mahmud Yunus Batusangkar akan terjun langsung memberikan psikoedukasi kepada para guru.
Sasarannya adalah guru kelas fase A atau kelas awal SD. Para guru akan dibekali kemampuan untuk melakukan deteksi atau identifikasi dini terhadap siswa yang diduga memiliki kebutuhan khusus.
Psikolog UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Dani Yoselisa mengatakan, secara regulasi SD memang sudah diwajibkan menerima siswa ABK. Namun di lapangan, banyak guru yang belum percaya diri karena keterbatasan kompetensi.
"Selama ini sekolah menerima, tapi bingung bagaimana penanganannya. Pendidikan inklusi ini hadir untuk memastikan anak disabilitas dan anak dengan hambatan belajar tetap dapat hak yang sama," kata Dani.
Ia menambahkan, manfaat inklusi jauh lebih luas. Anak sejak dini belajar tentang empati, toleransi, dan menghargai perbedaan, yang sangat penting bagi perkembangan sosial emosional mereka.
Sementara itu, Dr. Fadriati memastikan program ini tidak bersifat seremonial. Setelah pelatihan identifikasi, guru akan terus didampingi.
Pendampingan itu berupa penerapan metode pembelajaran berdiferensiasi, yakni metode di mana guru menyesuaikan cara mengajar, materi, dan proses evaluasi sesuai dengan kemampuan dan karakter masing-masing anak.
"Guru tidak dilepas begitu saja. Akan ada pendampingan berkelanjutan agar pembelajaran berdiferensiasi ini benar-benar berjalan di kelas," ujarnya.
Kolaborasi Pemkab Tanah Datar dan UIN Mahmud Yunus ini diharapkan menjadi fondasi ekosistem pendidikan yang lebih berkeadilan, di mana setiap anak di Tanah Datar punya kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berprestasi. (Kim)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar