Padang Panjang (SUMBAR).GP— Panitia Forum Group Discussion (FGD) “Bulan Mitigasi” yang digagas PJKIP terus mematangkan berbagai persiapan menjelang pelaksanaan kegiatan pada 6 Juni 2026 mendatang. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggelar dialog bersama tokoh agama, pakar kebencanaan, dan tokoh masyarakat di Kota Padang Panjang.
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Munafri, Sekretaris Eko Susilo, Ketua DMI Kota Padang Panjang Ustad Ade Sehabudin, pakar geologi Sumatera Barat Ir. Ade Edwar, serta tokoh masyarakat Kota Serambi Mekah, Alfendei Dt. R. Bachtiar Datuk Suleman.
Dialog berlangsung hangat dengan membahas penguatan mitigasi bencana berbasis masyarakat dan rumah ibadah, mengingat Kota Padang Panjang merupakan salah satu daerah di Sumatera Barat yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi karena berada di kawasan patahan dan wilayah vulkanik.
Padang Panjang sendiri dikenal sebagai Kota Serambi Mekah dengan udara sejuk dan sejarah panjang sebagai pusat pendidikan Islam serta tempat lahirnya tokoh-tokoh nasional. Kota ini melahirkan sejumlah tokoh besar bangsa seperti Sutan Sjahrir, Rahmah El Yunusiyyah, Mahmud Yunus, Buya Hamka, hingga Abdul Karim Amrullah. Karena itu, Padang Panjang juga dikenal luas sebagai kota pendidikan dan pusat lahirnya ulama serta cendekiawan Minangkabau.
Dalam dialog tersebut, Ketua DMI Kota Padang Panjang, Ustad Ade Sehabudin, menyatakan dukungan penuh terhadap program mitigasi bencana berbasis masjid dan mushalla yang akan menjadi salah satu fokus pembahasan pada FGD PJKIP ke-II Bulan Mitigasi Padang Panjang.
Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai pusat informasi, edukasi, hingga penguatan solidaritas sosial ketika terjadi bencana.
“Masjid dan mushalla sangat dekat dengan masyarakat sehingga memiliki peran penting dalam membangun budaya siaga bencana. Edukasi mitigasi harus dimulai dari lingkungan terdekat masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, pakar geologi Sumatera Barat Ir. Ade Edwar menilai pentingnya membangun sistem kesiapsiagaan berbasis komunitas dan kearifan lokal. Ia berharap FGD “Bulan Mitigasi” nantinya mampu melahirkan rekomendasi konkret dan kesepakatan bersama dalam membentuk kepengurusan Masjid Siaga Bencana di Kota Padang Panjang.
Menurut Ade Edwar, keberadaan Masjid Siaga Bencana akan menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi, longsor, maupun bencana alam lainnya.
“Masjid bisa menjadi pusat koordinasi masyarakat ketika situasi darurat terjadi. Karena itu, perlu ada sistem, pengurus, dan edukasi yang terstruktur agar mitigasi berjalan efektif,” katanya.
FGD PJKIP ke-II Bulan Mitigasi Padang Panjang sendiri direncanakan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, tokoh agama, komunitas kebencanaan, dan masyarakat dalam memperkuat budaya sadar mitigasi di Sumatera Barat, khususnya di Kota Padang Panjang.
#GP | Res






Tidak ada komentar:
Posting Komentar