Tanah Datar(SUMBAR).GP— Dugaan praktik intimidasi terhadap murid, perlakuan istimewa terhadap anak guru, hingga indikasi manipulasi administrasi mencuat di lingkungan SDN 10 Baringin, Kabupaten Tanah Datar.
Seorang wali murid, Vera Siska, akhirnya angkat bicara setelah anaknya diduga menjadi korban kekerasan berulang oleh seorang siswa yang disebut merupakan anak salah seorang guru di sekolah tersebut.
Kasus ini bermula ketika Gavin Keano Rahensyach, siswa kelas 1 SDN 10 Baringin, mengaku kepada orang tuanya mengalami tendangan di bagian kemaluan oleh seorang siswa bernama Haziq Zhafran Afelin pada 4 Mei 2026 lalu.
Menurut pengakuan Vera, kejadian tersebut bukan pertama kali dialami anaknya. Ia menyebut sebelumnya Gavin juga pernah mengalami luka di bibir dan hidung akibat dugaan tindakan siswa yang sama.
“Kalau hanya anak-anak biasa bertengkar mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi ini sudah berulang kali dan yang paling membuat saya kecewa, anak saya ditendang di bagian vital hingga menangis kesakitan,” ujar Vera.
Tak hanya itu, Vera juga menyoroti proses penyelesaian yang dilakukan pihak sekolah. Saat insiden terjadi, anak sulungnya, Ganapatih Rahensyach yang sedang mengikuti ujian kelas 6, disebut dijemput dari ruang ujian untuk dibawa ke kantor sekolah.
Menurut Vera, tindakan tersebut justru mengganggu psikologis anaknya yang tengah menghadapi ujian penentu kelulusan.
“Saya mempertanyakan kenapa anak saya yang sedang ujian harus dipanggil saat itu juga. Kenapa tidak menunggu selesai ujian? Ini menyangkut mental dan konsentrasi anak,” katanya.
Situasi semakin memanas ketika Vera mendatangi sekolah dan meminta penjelasan langsung dari Kepala SDN 10 Baringin serta guru bernama Reflina Oktaria, yang merupakan orang tua dari siswa terduga pelaku.
Dalam pertemuan tersebut, Vera mengaku kecewa karena pihak sekolah dinilai berupaya menutup persoalan dengan alasan “anak-anak sudah saling memaafkan”.
Ia juga menilai terdapat perbedaan keterangan terkait keberadaan guru tersebut saat proses pemeriksaan siswa di kantor sekolah berlangsung.
“Saya mendapat informasi dari wali kelas bahwa ibu guru itu ada di kantor dan ikut menginterogasi anak saya. Tapi saat saya tanya langsung, justru dibantah,” ungkapnya.
Tak berhenti sampai di sana, Vera mengaku memperoleh cerita lain dari lingkungan sekolah terkait dugaan perilaku agresif siswa tersebut terhadap murid lain sebelumnya. Bahkan disebut-sebut pemasangan CCTV di kelas 1 dilakukan setelah adanya insiden kekerasan terhadap seorang siswa lain beberapa waktu lalu.
Kasus ini kemudian dibawa Vera ke Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar. Ia mengaku telah menyampaikan seluruh kronologi kepada Kepala Bidang SD dan meminta adanya evaluasi serius terhadap lingkungan sekolah.
Selain persoalan dugaan kekerasan dan intimidasi, Vera juga menyinggung adanya dugaan kejanggalan administrasi terkait status salah seorang guru yang disebut sebelumnya merupakan tenaga operator sekolah namun diduga lolos seleksi PPPK jalur prioritas guru.
“Kalau memang dulu operator atau tenaga TU, bagaimana bisa dihitung sebagai pengabdian guru kelas selama belasan tahun? Ini yang saya pertanyakan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Vera yang mengaku sebagai sekretaris komite sekolah juga mempertanyakan transparansi pengelolaan Dana BOS di sekolah tersebut.
“Saya tidak pernah menerima laporan penggunaan dana BOS maupun dilibatkan dalam pembahasan kegiatan sekolah,” katanya lagi.
Sementara itu, pihak sekolah melalui pesan singkat yang diterima Vera menyatakan persoalan tersebut sebenarnya telah diselesaikan secara kekeluargaan dan meminta agar masalah tidak kembali diperpanjang demi kenyamanan proses belajar mengajar.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SDN 10 Baringin maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar terkait dugaan intimidasi, perlakuan khusus terhadap anak guru, serta dugaan kejanggalan administrasi PPPK yang disampaikan wali murid tersebut.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik karena menyangkut keamanan anak di lingkungan sekolah serta profesionalitas tenaga pendidik dalam menangani konflik antar siswa.
#GP | MDS





Tidak ada komentar:
Posting Komentar