Sijunjung (SUMBAR).GP- Ungkapan puitis ini adalah doa yang lembut, sebuah pengakuan tentang kefanaan waktu sekaligus harapan akan keabadian hubungan dengan Tuhan.
“Jika bulan ini harus pergi” yang dimaksud adalah bulan Ramadhan yang akan berlalu. Ramadhan adalah bulan yang menghadirkan suasana berbeda: hati lebih lembut, ibadah lebih hidup, dan hubungan dengan Allah terasa lebih dekat. Ketika Ramadhan akan pergi, yang terasa bukan hanya berlalunya waktu, tetapi juga kekhawatiran: apakah kedekatan ini akan ikut memudar?
Namun kalimat “jangan biarkan Engkau ikut pergi” adalah inti dari harapan: agar kedekatan dengan Allah yang dirasakan selama Ramadhan tidak ikut hilang setelahnya.
“Tinggallah di hatiku” menjadi doa agar iman, ketenangan, dan kebiasaan baik yang tumbuh selama Ramadhan tetap menetap. Meski manusia sadar akan kelemahannya, “meski aku sering lupa”, penulis tetap memohon agar Allah tidak menjauh, bahkan ketika dirinya lalai.
Makna terdalam dari ungkapan ini adalah tentang menjaga ruh Ramadhan setelah Ramadhan berlalu. Bahwa yang paling penting bukan hanya bagaimana kita menjalani bulan itu, tetapi bagaimana kita mempertahankan cahaya yang ditinggalkannya.
Pada akhirnya, ini adalah doa sederhana namun sangat jujur:
agar Ramadhan boleh pergi, tetapi kedekatan dengan Allah tidak ikut pergi bersamanya.
#GP | Red.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar