Sijunjung (SUMBAR).GP- Wakil Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sijunjung Bidang Zakat dan Infaq Drs.Sumardi, M.Pd bertindak sebagai Khatib Idul Fitri dalam shalat Idul Fitri di Masjid Istiqomah Sungai Tambang, Kecamatan Kamang Baru, Jumat (20/3/2026).
Shalat Idul Fitri 1447 H/ 20 Maret 2026 ini merupakan yang pertama dilaksanakan oleh PRM Sungai Tambang dan simpatisan Muhammadiyah sekitar Kamang Baru secara khusus di hadiri lebih kurang 350 kaum muslimin dan muslimat juga dihadiri seluruh Pengurus Ranting Muhammadiyah (PRM) Sungai Tambang.
Khatib Sumardi dalam khotbahnya berjudul" Menuju Jiwa Yang Suci" mengupas soal ketaatan kepada orang tua untuk menuju kebahagiaan dan durhaka pada orang membuat kehidupan manusia menjadi sengsara dunia dan akhirat.
Disampaikan oleh Sumardi, mantan Pengawas Sekolah Kantor Kemenag Sijunjung itu, saat ini kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, tetesan air mata mengalir, karena rasa sedih melepas kepergian Ramadhan, telah bercampur rasa haru bahagia karena telah diberi kesempatan berkumpul bersama keluarga.
Bahagia suka cita karena diberi kesempatan merayakan hari lebaran bersama-sama dengan orang yang terkasih dan yang tercinta.
Di lain sisi pula, ada mata yang menangis sedih, tertunduk sambil mengingat merenung, dimana sosok yang terkasih pada lebaran-lebaran sebelumnya masih berjabat erat, dan memeluk tubuh dengan hangat namun kini tak lagi bersama dengannya karena telah lebih dahulu menghadap kepada Tuhan.
Terngiang dan terekam dengan jelas canda tawa dan kebersamaan dengan sanak saudara, suami, isteri atau anak, dan cucu, namun kini sudah tak ada lagi.
Rasa sesal telah membuat orang durhaka ingin kembali untuk mengerjakan amal shaleh di dunia. Tapi apalah daya penyesalan tinggallah penyesalan. Jatuh tetes air matanya, sembari merengek memohon agar diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, tetesan air mata membasahi pipi, penyesalannya tak henti. Namun semua itu tidak ada artinya, kesempatan itu telah putus sejak nyawa telah dicabut dari raganya.
Maka justeru itu menyesal lah sekarang, sebelum penyesalan kemudian itu tidak ada lagi artinya, menangislah sebelum pada akhirnya tangisan itu tak memberi manfaat, dan bertaubatlah sebelum pada akhirnya pintu taubat itu ditutup.
Bertaubatlah kepada Allah SWT sebab Allah maha penerima taubat, walau dosa besar memenuhi langit dan bumi, ampunan Allah jauh lebih luas, seperti yang tertera dalam QS. Az-Zumar ayat 53.
Untuk itulah di hari berkumpulnya kita di tempat ini, di hari yang fitri, hari yang suci, marilah kita mensucikan diri dengan bertaubat seraya merenung, menyesali, dan menangisi khilaf yang telah diperbuat.
Ada pesan orang terdahulu, "Seorang ibu mampu merawat sepuluh anak, tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat seorang ibu".
Sungguh, jasa orang tua apalagi seorang ibu begitu besar. Mulai saat mengandung, tak ada tidur yang dia nikmati. Dia mesti menanggung berbagai macam penderitaan, Baru sekejap tertutup matanya, tangisan kita pun membangunkannya.
Puncak penderitaan seorang ibu
Tatkala dia melahirkan. Satu kakinya berada di dunia. Dan satunya lagi berada di kuburan.
Kematian siap dia hadapi agar anaknya bisa hidup. Begitu pula saat menyusui, yang
sebenarnya waktu istirahat baginya, namun dia rela lembur di saat si bayi kecil kehausan dan
membutuhkan air susunya.
Teramat besar jasa ibu bapak kita, sehingga jasanya sangat sulit sekali untuk dibalas, walaupun dengan menggendongnya untuk berhaji dan memutari Ka'bah.
Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu 'Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka'bah sambil menggendong ibunya di punggungnya.
Jika orang durhaka kepada ibu bapak, maka setiap yang dibangun akan runtuh, setiap yang ditanam akan gagal, setiap usaha yang dia lakukan akan rugi.
Banyak orang yang jauh mencari kebahagiaan, mengejar surga hingga ke mana-mana, namun lupa bahwa ada surga di rumahnya. Yaitu ibu bapak kita. Siapa yang berbakti kepada ibu bapak. Maka itulah sumber kebahagiaan, mengabdi kepada ibu bapak adalah cara kita memperoleh surga.
Akan ada suatu saat, orang tua akan berpisah dengan kita, andai malaikat maut menjemput, andai orang tua telah menjadi mayat, kita tak lagi mendengar suaranya, gurauannya, nasihatnya, dan doa restunya.
Andai orang tua kita sudah dibungkus kain kafan, kita tak bisa lagi membawa oleh-oleh kesukaannya, tidak bisa lagi memijat kakinya, tidak bisa lagi mencium tangannya, memeluk hangat tubuhnya.
Andaikata orang tua sudah diusung ke pekuburan, dimasukkan ke liang lahat, ketika tanah mulai menimbun.Itulah saat terakhir kita melihat jasadnya.
Sesudah itu hanya tinggal nisan yang bisa kita raba. yang tersisa hanya penyesalan, mengapa selagi ada disia-siakan.
Ketika sampai ke rumah, kamarnya telah kosong, hanya tinggal foto dan pakaian yang tergantung di dinding serta kepedihan, mengapa ketika ada disia-siakan. Di saat itu penyesalan akan muncul, mengapa kita tak memiliki waktu untuk membahagiakannya ???
Jadi selagi mereka masih ada, jangan sia-siakan mereka, berbaktilah sebaik-baiknya. Sepulang dari rumah, temui mereka, duduk di hadapannya, ambil tangannya, cium, raba tangan kulit yang kasar karena kerja keras membanting tulang peluh keringat agar kita dapat hidup terjamin, bersekolah, dan meraih cita-cita yang kita dambakan.
Peluk tubuhnya dengan penuh kehangatan, rasakan tubuh yang lagi tak kekar itu, tubuh yang sudah semakin melemah, pundaknya yang tak lagi kekar akibat terbakar panas terik matahari mencari nafkah untuk anak-anaknya.
Tatap wajahnya yang sudah mengerut karena menyimpan rasa sakit dan kepedihan dari umur yang semakin menua.
"Berbaktilah kepada ibu bapak selagi mereka masih hidup," pesannya.
#GP | Herman.

.jpg)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar