Sijunjung (SUMBAR).GP– Suasana penuh khidmat dan semangat mewarnai Tausiyah Ramadhan yang disampaikan oleh Jondri,M.Sy Senin (2/3/2026) di Masjid Baitul Makmur.
Mengangkat tema “Membentuk Keluarga Samara”, kegiatan tersebut diikuti jamaah dengan antusias dan penuh perhatian.
Dalam ceramahnya, Ustadz H. Jondri, M.Sy yang juga menjabat sebagai Kepala KUA Sijunjung menjelaskan bahwa keluarga samara merupakan akronim dari sakinah, mawaddah, warahmah. Ia memaparkan bahwa sakinah bermakna ketenangan, rasa aman, dan ketentraman dalam keluarga. Sementara mawaddah berarti cinta, dan warahmah dimaknai sebagai kasih sayang yang tumbuh di antara pasangan.
“Cinta dan kasih sayang dalam rumah tangga harus dilandasi niat karena Allah SWT, bukan semata-mata karena ketertarikan fisik,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Tiga Kunci Membentuk Keluarga Samara
Dalam tausiyahnya, Ustadz Jondri menegaskan bahwa untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah diperlukan beberapa prinsip utama, di antaranya:
Keadilan dalam bertindak dan mengambil keputusan, tanpa pilih kasih di antara anggota keluarga serta senantiasa berbuat baik kepada istri.
Keseimbangan antara urusan keluarga dan pekerjaan, sehingga tercipta suasana rumah tangga yang harmonis dan penuh ketenangan.
Saling menghormati, membantu, dan menghargai, agar tumbuh rasa kebersamaan dan kekuatan dalam keluarga.
Menurutnya, ketiga hal tersebut menjadi fondasi awal dalam membangun rumah tangga yang kokoh dan harmonis.
Pilar Kokoh Keluarga Samara
Lebih lanjut, Ustadz Jondri menekankan pentingnya memegang teguh pilar atau tonggak utama keluarga samara, yaitu:
Terbentuknya pasangan suami istri karena Allah SWT.
Adanya janji kokoh dalam menjalani bahtera rumah tangga.
Saling berbuat baik kepada pasangan, bahkan ketika pasangan melakukan kesalahan.
Mengedepankan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan keluarga demi mencapai mufakat.
Mengutamakan kerelaan dan saling memaafkan, bukan menghitung-hitung kebaikan yang telah dilakukan.
“Dalam keluarga, jangan kita hitung berapa banyak kita telah berbuat baik kepada pasangan, tetapi hitunglah berapa banyak kita telah memaafkan pasangan kita,” tegasnya.
Di akhir tausiyah, ia berharap seluruh jamaah mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Bila kita kokoh memegang pilar keluarga ini, Insya Allah suami, istri dan anak-anak dapat berkumpul di surga Allah SWT,” pungkasnya.
Tausiyah Ramadhan ini menjadi momentum refleksi bagi para jamaah untuk memperkuat ketahanan keluarga sebagai pondasi utama membangun masyarakat yang harmonis dan religius.
#GP | Herman | RH







Tidak ada komentar:
Posting Komentar