Jakarta(DKI). GP– Krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mendapat peringatan serius dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Lembaga meteorologi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu memperingatkan asap lintas negara berpotensi bertahan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Kombinasi musim kemarau dan fenomena El Niño yang kuat membuat kondisi semakin berbahaya, sementara dampaknya telah meluas hingga negara-negara tetangga.
Direktur Kantor Regional WMO untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill, menyampaikan peringatan tersebut setelah kualitas udara di sejumlah wilayah Asia Tenggara memburuk akibat kebakaran yang terus berlangsung. Menurut dia, kondisi panas dan kering menciptakan lingkungan yang mendukung api bertahan dan menyebar. Situasi ini membuat krisis asap tidak bisa dipandang sebagai persoalan lokal Indonesia semata.
Churchill menyoroti peningkatan jumlah hari dan jam dengan kualitas udara tidak sehat. Ia memperkirakan kondisi tersebut masih dapat berlanjut selama faktor cuaca belum berubah secara signifikan. Ancaman ini semakin mengkhawatirkan karena asap dari karhutla bukan hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan.
Data yang dikutip Churchill menunjukkan sekitar separuh emisi asap global yang terpantau selama tujuh hari sejak 8 Oktober 2026 berasal dari Indonesia. Angka tersebut bersumber dari layanan Fire Emissions Watch dalam program Copernicus Uni Eropa yang memantau emisi kebakaran menggunakan data satelit dan sumber lainnya. Temuan ini memperlihatkan besarnya kontribusi karhutla Indonesia terhadap persoalan asap yang sedang dihadapi kawasan.
Dampak kabut asap juga dirasakan negara tetangga. Singapura mengalami periode panjang dengan kualitas udara kategori tidak sehat, sementara Malaysia dan negara lain di kawasan ikut menghadapi gangguan akibat asap lintas batas. Kondisi ini meningkatkan urgensi kerja sama regional, sebab pergerakan asap mengikuti arah angin dan tidak berhenti di perbatasan suatu negara.
WMO mendorong negara-negara ASEAN memperkuat koordinasi dalam menghadapi kebakaran hutan. Kerja sama itu dapat mencakup berbagi peralatan pemadam, pertukaran keahlian teknis, sistem peringatan dini, serta pengerahan personel lintas negara ketika terjadi keadaan darurat. Menurut Churchill, penggabungan sumber daya secara cepat dapat membantu negara-negara di kawasan merespons kebakaran secara lebih efektif.
Hujan monsun menjadi salah satu harapan utama untuk membantu memadamkan kebakaran yang masih berlangsung. Namun, waktu kedatangannya tidak selalu dapat dipastikan karena El Niño kuat berpotensi mengganggu pola cuaca. Selama hujan belum turun secara memadai di wilayah terdampak, api di lahan kering dan gambut berisiko terus menyala serta menghasilkan asap.
Di luar pemadaman, Churchill menekankan pentingnya pencegahan sejak awal. Pengelolaan lahan yang lebih baik, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, serta edukasi bagi petani dan perusahaan perlu diperkuat. Tanpa pembenahan praktik pembukaan lahan dan pengawasan yang konsisten, krisis serupa berpotensi kembali terjadi ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran api.
Peringatan WMO menjadi sinyal bahwa penanganan karhutla Indonesia membutuhkan langkah cepat sekaligus strategi jangka panjang. Pemadaman memang mendesak, tetapi perlindungan masyarakat juga harus menjadi prioritas melalui pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi risiko, dan langkah pencegahan paparan asap. Pemerintah bersama negara-negara ASEAN dituntut memastikan krisis ini tidak terus berulang setiap kali musim kering mencapai puncaknya.
#GP | DEF






Tidak ada komentar:
Posting Komentar