Ironi Beasiswa Negara! Lulusan LPDP Kampus Eropa Turun ke Jalan, Sulit Mendapat Pekerjaan di Indonesia - Go Parlement | Portal Berita

Ironi Beasiswa Negara! Lulusan LPDP Kampus Eropa Turun ke Jalan, Sulit Mendapat Pekerjaan di Indonesia

Jumat, Oktober 30, 2026


Jakarta(DKI). GP– Gelar pendidikan dari kampus ternama di Eropa ternyata tidak otomatis membuka pintu pekerjaan di Indonesia. Persoalan sulitnya mendapatkan pekerjaan justru ikut disuarakan seorang alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang turun dalam demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Kehadirannya menjadi sorotan karena memperlihatkan persoalan ketenagakerjaan yang tidak hanya menghantui lulusan perguruan tinggi dalam negeri, tetapi juga mereka yang telah menempuh pendidikan tinggi di luar negeri.


Alumni LPDP tersebut bergabung dengan mahasiswa Trisakti untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi lapangan kerja di Indonesia. Ia mempertanyakan mengapa lulusan dengan kualifikasi pendidikan internasional masih menghadapi kesulitan ketika berusaha mendapatkan pekerjaan di Tanah Air. Persoalan ini sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan dunia industri dalam menyerap sumber daya manusia berpendidikan tinggi.


Aksi demonstrasi berlangsung di kawasan Patung Kuda dan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Ribuan mahasiswa Universitas Trisakti bersama peserta aksi dari berbagai kelompok menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Persoalan lapangan pekerjaan menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam aksi tersebut.


Keterlibatan alumni LPDP memberikan dimensi berbeda dalam demonstrasi itu. Program beasiswa yang dibiayai negara selama ini diharapkan menghasilkan sumber daya manusia unggul yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan Indonesia. Namun, ketika lulusan dari kampus Eropa mengaku kesulitan mencari pekerjaan, muncul persoalan mengenai hubungan antara investasi pendidikan negara dan kebutuhan nyata pasar tenaga kerja.


Masalah tersebut tidak bisa semata-mata dibebankan kepada para lulusan. Ketersediaan lapangan pekerjaan, kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, serta kemampuan perusahaan menyerap tenaga kerja berkualifikasi tinggi menjadi faktor penting. Pendidikan tinggi seharusnya membuka kesempatan lebih luas, tetapi dunia kerja juga harus menyediakan ruang bagi para lulusan untuk mengembangkan keahliannya.


Keluhan alumni LPDP ini juga mengingatkan kembali perdebatan mengenai nasib penerima beasiswa setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri. Mereka diharapkan kembali ke Indonesia dan memberikan kontribusi kepada negara. Namun, kewajiban tersebut perlu diikuti ekosistem pekerjaan yang memadai agar keahlian yang diperoleh tidak berhenti menjadi gelar akademis semata.


Masalah penyerapan alumni LPDP sebenarnya bukan persoalan baru. Pada Februari 2026, Direktur Utama LPDP Sudarto pernah menjelaskan bahwa lembaganya tidak menjamin setiap penerima beasiswa langsung memperoleh pekerjaan setelah lulus. LPDP mengaku berupaya membangun kerja sama dengan industri agar tersedia ekosistem yang dapat membantu alumni memasuki dunia kerja.


Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi tantangan untuk memastikan investasi besar dalam pendidikan menghasilkan manfaat nyata bagi perekonomian nasional. Tanpa perencanaan kebutuhan tenaga kerja yang jelas, lulusan dengan kemampuan tinggi berisiko tidak terserap secara optimal. Kondisi ini dapat memicu kekecewaan, terutama bagi mereka yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pendidikan dengan harapan bisa berkontribusi bagi negara.


Demonstrasi mahasiswa Trisakti pada 29 Oktober 2026 sendiri membawa berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah, mulai dari persoalan lingkungan, pendidikan, kondisi demokrasi, hingga ketimpangan sosial. Aksi tersebut menjadi ruang bagi berbagai kelompok masyarakat untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi, termasuk sulitnya memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan.


Kini, persoalan alumni LPDP yang kesulitan mencari pekerjaan menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari jumlah penerima beasiswa atau kampus tempat mereka menimba ilmu. Pemerintah juga harus memastikan tersedianya kesempatan kerja, memperkuat hubungan pendidikan dengan industri, serta membangun sistem penyerapan talenta yang lebih terarah.


Jika lulusan terbaik yang dibiayai uang negara saja kesulitan mendapatkan pekerjaan, pemerintah perlu mengevaluasi apakah investasi pendidikan selama ini sudah terhubung dengan kebutuhan ekonomi nasional. Sebab, tujuan akhir beasiswa bukan sekadar mencetak orang bergelar tinggi, melainkan menghasilkan sumber daya manusia yang benar-benar bisa bekerja, berkarya, dan memberikan manfaat bagi Indonesia.


#GP | DEF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS