Jakarta(DKI). GP– Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang membuat mata uang Garuda kembali melemah, mulai dari lonjakan harga minyak dunia, kenaikan imbal hasil obligasi AS, kebutuhan dolar importir, hingga arus modal asing yang keluar dari aset negara berkembang.
Rupiah tercatat berada di level Rp18.012 per dolar AS pada Selasa (29/9/2026) sekitar pukul 11.08 WIB. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 34 poin atau 0,19 persen. Dolar AS juga sempat menembus Rp18.000 pada awal perdagangan hari yang sama.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global. Kondisi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor eksternal dan domestik.
Salah satu pemicu yang disebut BI adalah kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak dilaporkan telah bergerak di atas US$108 per barel di tengah ketidakpastian terkait pembukaan Selat Hormuz. Kenaikan harga energi tersebut kemudian meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Tekanan berikutnya berasal dari imbal hasil surat utang pemerintah AS atau US Treasury. Yield obligasi AS tenor 10 tahun kembali naik hingga sekitar 5,23 persen, level yang disebut menjadi salah satu yang tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield membuat aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor global.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong perpindahan dana dari pasar negara berkembang. Ketika investor mengalihkan portofolio menuju aset dolar atau instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi di AS, permintaan terhadap dolar meningkat dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mendapat tekanan.
BI juga mencatat adanya peningkatan kebutuhan valuta asing dari importir menjelang berakhirnya kuartal III 2026. Permintaan dolar untuk memenuhi kewajiban pembayaran impor turut menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah di pasar.
Selain itu, terjadi arus keluar dana dari aset portofolio di negara-negara emerging markets. Kombinasi kenaikan yield obligasi AS dan meningkatnya ketidakpastian global membuat tekanan terhadap aliran modal ke pasar berkembang semakin terasa.
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi setelah BI mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur September 2026. Di tengah kondisi tersebut, bank sentral tetap menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Gubernur BI Destry Damayanti sebelumnya menjelaskan bahwa strategi intervensi valuta asing kini lebih banyak menggunakan instrumen seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF). Porsi intervensi melalui pasar spot disebut telah dikurangi menjadi sekitar 30 persen karena transaksi spot membutuhkan biaya dan dapat menggerus cadangan devisa.
BI menilai intervensi pasar valuta asing saja tidak cukup untuk menghadapi tekanan terhadap rupiah. Penguatan sektor eksternal juga diperlukan melalui peningkatan ekspor serta masuknya investasi, baik investasi langsung maupun investasi portofolio.
Pergerakan rupiah menuju level Rp18.000 juga terjadi ketika tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia meningkat. Reuters melaporkan rupiah menembus Rp18.000 untuk pertama kalinya sejak awal Agustus, sementara kenaikan yield Treasury AS dan harga minyak menjadi faktor utama yang memperkuat daya tarik dolar.
Dengan demikian, pelemahan rupiah kali ini berkaitan dengan kombinasi tekanan global dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Pergerakan harga minyak, arah yield obligasi AS, arus modal asing, serta kebutuhan dolar importir menjadi sejumlah faktor yang akan terus diperhatikan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
BI memastikan tetap berada di pasar untuk mengelola volatilitas rupiah sekaligus menjaga agar mekanisme pasar tetap berjalan. Kebijakan selanjutnya akan sangat berkaitan dengan perkembangan kondisi eksternal serta kemampuan memperkuat sektor ekspor dan investasi Indonesia.
#GP | DEF






Tidak ada komentar:
Posting Komentar