Pandeglang(BANTEN). GP– Pencarian delapan orang yang hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau memasuki hari kelima. Di tengah upaya tim SAR menemukan lima jurnalis dan tiga awak kapal, keluarga para korban juga ikut berusaha mencari keberadaan mereka.
Salah satunya dilakukan Yayat Suryadi, anak buah kapal (ABK) Sukarman (60), yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Yayat bahkan sempat mendatangi kawasan Gunung Anak Krakatau untuk mencari sang ayah.
Yayat mengatakan dirinya berusaha mencari Sukarman pada Kamis (10/9/2026), atau hari ketiga setelah ayahnya dilaporkan hilang. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil.
"Pas hari ketiga itu hari Kamis, saya mencoba mencari bapak saya ke Gunung Anak Krakatau, namun tidak ada," ujar Yayat di Pantai Carita, Pandeglang, Sabtu (12/9/2026).
Upaya pencarian Yayat tidak berjalan mudah. Saat mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau, kondisi cuaca ekstrem serta abu vulkanik yang tebal menjadi kendala.
Menurut Yayat, aktivitas erupsi juga masih terlihat ketika dirinya berada di sekitar kawasan tersebut. Meski demikian, ia menyebut erupsi saat itu tidak sebesar aktivitas sebelumnya.
Yayat mengaku tidak mengetahui bahwa ayahnya berangkat ke kawasan perairan Selat Sunda pada Senin (7/9/2026). Sepengetahuannya, Sukarman baru memiliki jadwal berlayar ke kawasan Ujung Kulon pada Selasa (8/9/2026).
Keberangkatan pada Senin tersebut disebut sebagai perjalanan mendadak. Sukarman bahkan disebut tidak membawa perlengkapan seperti pakaian karena tidak mempersiapkan perjalanan tersebut sejak awal.
"Hari Senin itu trip dadakan, trip kilat, nggak bawa baju, nggak ada persiapan apa-apa. Setahu saya besoknya hari Selasa dia jadwal ke Ujung Kulon," kata Yayat.
Sampai pencarian memasuki hari kelima, belum ada kepastian mengenai keberadaan Sukarman. Selain Sukarman, kapten kapal bernama Warta dan pemandu bernama Heriyanto juga masih dalam pencarian.
Ketiganya diketahui berada dalam satu kapal yang membawa lima jurnalis menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas erupsi. Mereka menggunakan speedboat Arupadhatu I pada Senin (7/9/2026).
Yayat menduga rombongan tersebut kemungkinan terbawa arus hingga ke perairan yang lebih jauh. Dugaan itu muncul karena belum ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun barang-barang yang dapat menjadi petunjuk.
"Misterius, tidak ada tanda-tanda. Kalau trouble di laut, ada barang-barang atuh, serpihan terlihat mengapung, ini kan nggak ada. Kemungkinan terbawa ke laut lepas, sinyal susah," ujarnya.
Meski pencarian menghadapi berbagai kendala, Yayat mengaku masih terus menunggu kabar mengenai keberadaan ayahnya. Ia berharap seluruh orang yang hilang dapat ditemukan dalam kondisi selamat.
"Masih terus menunggu kabar baik, mudah-mudahan pulang dengan selamat," kata Yayat.
Pencarian terhadap delapan orang tersebut terus menjadi perhatian karena kondisi kawasan Anak Krakatau masih dipengaruhi aktivitas vulkanik dan cuaca yang dapat berubah cepat. Tim pencarian dan pertolongan harus mempertimbangkan keselamatan personel ketika menyisir wilayah sekitar gunung api dan perairan Selat Sunda.
Keluarga korban pun masih menaruh harapan agar operasi pencarian segera menemukan titik terang. Bagi Yayat, pencarian tersebut bukan sekadar operasi SAR, tetapi juga upaya untuk membawa pulang ayahnya yang hingga kini belum diketahui nasibnya.
#GP | DF | Sumber DetikNews






Tidak ada komentar:
Posting Komentar