Ikuti Saran AI soal Garam, Pria 60 Tahun Alami Keracunan hingga Halusinasi - Go Parlement | Portal Berita

Ikuti Saran AI soal Garam, Pria 60 Tahun Alami Keracunan hingga Halusinasi

Senin, Agustus 17, 2026

 



Jakarta(DKI). GP – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari informasi kesehatan kembali menjadi perhatian. Seorang pria berusia 60 tahun di Seattle, Amerika Serikat, mengalami gangguan mental serius setelah mengikuti saran chatbot AI mengenai pengganti garam dapur.

Kasus tersebut dilaporkan dalam jurnal medis Annals of Internal Medicine dengan judul A Case of Bromism Influenced by Use of Artificial Intelligence. Pria tersebut sebelumnya mengalami halusinasi pendengaran dan penglihatan disertai paranoia berat hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Awalnya, pasien menduga dirinya sedang diracuni oleh tetangga. Kondisinya kemudian semakin parah dalam 24 jam pertama setelah menjalani perawatan. Ia bahkan sempat berusaha melarikan diri dari rumah sakit akibat rasa takut dan kecurigaan yang dialaminya.

Pemeriksaan dokter menemukan penyebab yang tidak biasa. Kadar bromida dalam darah pasien tercatat mencapai sekitar 230 kali lebih tinggi dari batas normal. Kondisi tersebut dikenal sebagai bromism atau keracunan bromida yang dapat menyerang sistem saraf dan memicu gangguan kejiwaan berat.

Pasien kemudian diketahui mengonsumsi sodium bromida selama kurang lebih tiga bulan. Sebelumnya, ia mencari informasi melalui ChatGPT mengenai alternatif garam dapur berbahan sodium klorida yang dianggap lebih sehat.

Menurut laporan kasus tersebut, chatbot AI memberikan rekomendasi sodium bromida sebagai salah satu alternatif. Pasien kemudian mengikuti saran itu dan mengonsumsinya secara rutin selama beberapa bulan.

Setelah mengetahui riwayat konsumsi tersebut, dokter melakukan pemeriksaan lebih mendalam. Kondisi pasien akhirnya dikaitkan dengan paparan bromida dalam jumlah tinggi yang menyebabkan munculnya gejala psikosis, termasuk halusinasi dan paranoia.

Pasien membutuhkan penanganan medis dan obat antipsikotik selama beberapa minggu. Setelah kadar bromida diturunkan dan kondisinya membaik, gejala halusinasi yang dialaminya juga menghilang.

Tim dokter kemudian mencoba mengajukan pertanyaan serupa kepada chatbot AI. Dalam pengujian tersebut, chatbot kembali memberikan rekomendasi sodium bromida tanpa menyertakan peringatan mengenai risiko kesehatan yang memadai.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa informasi dari AI tidak boleh dijadikan pengganti konsultasi dengan dokter, terutama untuk menyangkut obat, suplemen, bahan kimia, maupun perubahan pola konsumsi tertentu. Jawaban AI dapat terdengar meyakinkan, tetapi tetap bisa mengandung kesalahan atau informasi yang tidak sesuai kondisi medis seseorang.

Para dokter juga menekankan pentingnya mempertimbangkan kemungkinan keracunan ketika seseorang tiba-tiba mengalami perubahan mental seperti halusinasi atau paranoia. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya dan menentukan penanganan yang tepat.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa teknologi AI dapat membantu mencari informasi, tetapi pengguna tetap perlu melakukan verifikasi melalui sumber kesehatan yang terpercaya. Untuk keputusan medis, konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah yang lebih aman.

#GP | DF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS