DI BALIK KACA MOBIL YANG BERGOYANG - Go Parlement | Portal Berita

DI BALIK KACA MOBIL YANG BERGOYANG

Jumat, Agustus 14, 2026

 


Cerbung — Episode 2: Ketika Pintu Mobil Terbuka


GOPARLEMENT.COM- Pintu mobil itu akhirnya terbuka.


Jaka yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang Sapan spontan mendekat.


Sapan juga mencondongkan tubuhnya.


Namun pemandangan di balik pintu mobil ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh pikiran mereka beberapa detik sebelumnya.


Petruk masih duduk di kursi pengemudi.


Wajahnya terlihat sedikit pucat.


Sementara Melati berada di sisi lainnya.


Keduanya tampak terkejut melihat Sapan dan Jaka berdiri di dekat kendaraan.


Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.


Hanya suara kendaraan yang melintas di halaman rumah sakit.


"Ada apa, Dok?" tanya Sapan.


Petruk mengusap wajahnya.


"Enggak apa-apa."


"Yakin?"


Petruk mengangguk.


"Tadi kepala saya pusing."


Jaka memperhatikan Petruk.


Wajah dokter itu memang terlihat tidak seperti biasanya.


Melati kemudian menjelaskan.


"Tadi Dokter Petruk kurang enak badan."


Jaka menatap Melati.


"Terus?"


"Saya bantu."


Jawabannya singkat.


Sangat singkat.


Tetapi bagi Jaka, jawaban tersebut belum sepenuhnya menghilangkan rasa penasaran.


Sebab beberapa saat sebelumnya ia mendengar suara dari dalam mobil.


Dan mobil itu memang terlihat bergoyang.


Sapan kemudian bertanya.


"Terus suara tadi?"


Melati terdiam.


Petruk menoleh kepadanya.


Melati kemudian menjawab.


"Dokter tadi mengeluh pusing."


Jaka dan Sapan saling pandang.


Sapan mengangguk.


"Oh."


Hanya satu kata.


Tetapi suasana belum sepenuhnya cair.


Sebab rasa curiga yang sudah muncul beberapa menit sebelumnya tidak bisa begitu saja menghilang hanya dengan satu penjelasan.


Petruk kemudian turun dari mobil.

Ia berdiri sambil memegang pintu.


"Aku sudah agak baikan."


Melati ikut keluar.


Saat itulah Petruk tiba-tiba memperhatikan wajah Melati.


"Kamu kenapa?"


Melati menggeleng.


"Enggak apa-apa."


"Kamu kelihatan pucat."


"Enggak, Dok."


Petruk masih memperhatikan.


Melati akhirnya mengaku.


"Sedikit pusing."


Petruk tersenyum.


"Nah, sekarang gantian."


Melati tertawa kecil.


"Enggak perlu, Dok."


"Sudah, duduk dulu."


Jaka yang melihat kejadian itu mulai memahami bahwa persoalannya mungkin memang sederhana.


Petruk sebelumnya merasa pusing.


Melati datang membantu.


Setelah Petruk membaik, Melati justru merasa tidak enak badan.


Tidak ada yang aneh.


Namun sebuah kejadian yang sederhana bisa menjadi rumit ketika seseorang datang pada waktu yang tidak tepat.


Dan Jaka menyadari...


dirinya datang pada waktu yang sangat tidak tepat.


Petruk kemudian mengambil perlengkapan medis.


Melati duduk.


"Ini cuma sebentar," kata Petruk.


Melati mengangguk.


Jaka dan Sapan masih berada tidak jauh dari sana.


Keduanya tidak lagi berniat mengganggu.


Tetapi tiba-tiba terdengar suara Melati.


"Ah!"


Jaka refleks menoleh.


Sapan juga.


Melati terlihat meringis.


Petruk berkata.


"Sabar."


Melati mengeluh lagi.


Gerak tubuhnya spontan.


Mobil yang berada di bawah mereka ikut bergerak.


Goyang.


Jaka membeku.


Sapan juga.


Keduanya saling pandang.


Jaka kemudian teringat beberapa menit sebelumnya.


Suara keluhan.


Mobil bergoyang.


Pintu tertutup.


Dua orang berada di dalam.


Pikiran manusia memang aneh.


Ketika sebuah dugaan sudah terbentuk, kejadian berikutnya sering kali terasa seperti pembenaran.


Padahal belum tentu.


Sapan berbisik.


"Jangan berpikir macam-macam."


Jaka menatapnya.


"Aku enggak ngomong apa-apa."


"Tapi wajahmu ngomong."


Jaka tersenyum kecut.


Ia kemudian mengalihkan pandangan.


Namun suara Melati kembali terdengar.


Kali ini lebih jelas.


"Aduh, sakit, Dok."


Petruk menjawab.


"Sebentar."


Jaka dan Sapan kembali saling pandang.


Kemudian Sapan berkata.


"Sudah."


Jaka menoleh.


"Kita pergi."


Mereka berdua mundur beberapa langkah.


Tetapi sebelum benar-benar meninggalkan lokasi, Jaka sempat menoleh.


Petruk masih membantu Melati.


Tidak ada yang aneh.


Tidak ada sesuatu yang bisa membuktikan dugaan macam-macam.


Namun bagi Jaka, pemandangan tadi tetap terasa janggal.


Bukan karena apa yang dilihatnya.


Tetapi karena apa yang ia dengar sebelum melihatnya.


Dan di situlah sebuah persoalan moral mulai tumbuh.


Jaka dan Sapan berjalan menjauh.


"Pan."


"Hmm?"


"Menurutmu tadi bagaimana?"


Sapan tidak langsung menjawab.


"Bagaimana apanya?"


"Ya... mereka."


Sapan berhenti.


"Jaka."


"Iya?"


"Kita tadi tidak melihat sesuatu."


Jaka diam.


"Kita cuma dengar suara."


"Iya."


"Kita lihat mobil bergerak."


"Iya."


"Terus setelah pintunya dibuka, mereka ada di dalam."


Jaka mengangguk.


Sapan kemudian menatapnya serius.


"Jadi jangan bikin kesimpulan sendiri."


Jaka menghela napas.


"Iya."

Namun beberapa langkah kemudian, Jaka berkata.


"Tapi kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa mereka berduaan di mobil?"


Sapan menjawab.


"Dokternya sakit."


"Terus?"


"Perawatnya membantu."


Jaka terdiam.


Jawaban itu sebenarnya sederhana.


Namun pikiran Jaka belum sepenuhnya menerima.


Siang itu mereka berpisah.


Sapan kembali menjalankan tugasnya.


Jaka meninggalkan halaman rumah sakit.


Tetapi sebuah suara masih terngiang di kepalanya.


"Aduh, sakit, Dok."


Jaka tidak tahu suara itu muncul karena apa.


Ia tidak melihat proses sebelumnya.


Ia tidak mengetahui apa yang dilakukan Petruk.


Ia juga tidak mengetahui kondisi Melati.


Namun manusia sering kali merasa sudah mengetahui sesuatu hanya karena mendengar potongan kecil.


Sementara itu, di dalam mobil, Petruk menyelesaikan pertolongannya.


Melati kemudian tersenyum.


"Sudah?"


"Sudah."


"Terima kasih, Dok."


Petruk mengangguk.


"Kamu juga jangan memaksakan diri kalau memang tidak sehat."


Melati tersenyum.


"Iya."


Keduanya kemudian bersiap meninggalkan mobil.


Tidak ada percakapan rahasia.


Tidak ada kesepakatan tersembunyi.


Tidak ada sesuatu yang mereka pikir akan menjadi masalah.


Mereka tidak tahu bahwa beberapa meter dari tempat mereka berada, sebuah dugaan baru saja lahir.


Sore harinya, Jaka bertemu seorang kenalannya.


"Bagaimana tadi di rumah sakit?" tanya orang itu.


Jaka sebenarnya tidak ingin bercerita.

Namun pertanyaan itu terus didesak.


"Ada dokter sama perawat di mobil."

"Siapa?"


Jaka menyebut nama mereka.

"Terus?"

Jaka menjawab hati-hati:

"Mereka katanya sedang memberikan pertolongan."


Kawannya tertawa kecil.


"Pertolongan?"


Jaka mengangguk.


"Iya."


"Di mobil?"


Jaka mulai tidak nyaman.


"Iya."


"Berdua?"


Jaka mengangguk.


Kawannya kemudian tersenyum.


Senyum yang membuat Jaka langsung sadar bahwa pembicaraan ini seharusnya berhenti.


"Jangan macam-macam," kata Jaka.


"Aku belum ngomong apa-apa."


"Tapi pikiranmu sudah ke mana-mana."


Mereka tertawa.


Namun Jaka tidak ikut tertawa.


Sebab ia mulai menyadari sesuatu.


Cerita yang baru saja ia sampaikan sebenarnya tidak sama dengan apa yang mungkin akan didengar orang lain.


Ia mengatakan.


"Dokter dan perawat berada di dalam mobil dan memberikan pertolongan."


Tetapi orang lain bisa saja hanya mengingat.


"Dokter dan perawat berduaan di dalam mobil."


Malamnya, Jaka kembali teringat ucapan Sapan.


"Kita tadi tidak melihat sesuatu."

Benar.


Ia tidak melihat.


Ia hanya mendengar.


Ia hanya melihat mobil bergoyang.


Dan ia hanya melihat dua orang berada di dalam.


Selebihnya adalah dugaan.


Jaka mulai merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri.


Apakah rasa curiga tadi benar-benar lahir dari apa yang dilihatnya?


Atau justru dari pikirannya sendiri?


Di tempat lain, seseorang juga sudah mendengar cerita tentang kejadian itu.


Namanya belum perlu disebut.


Ia hanya mendengar satu versi.


Dokter Petruk dan perawat Melati berduaan di mobil.


Ada suara.


Mobil bergoyang.


Pintu kemudian dibuka.


Orang itu terdiam.


Lalu tersenyum tipis.


"Menarik."


Hanya satu kata.


Tetapi sejak saat itulah cerita mulai bergerak ke arah yang berbeda.


Karena orang tersebut tidak mendengar penjelasan Petruk.


Tidak mendengar penjelasan Melati.


Tidak mengetahui kondisi kesehatan mereka.


Ia hanya mendengar cerita dari orang lain.

Dan yang lebih berbahaya...


ia memiliki alasan pribadi untuk merasa tidak senang dengan kedekatan Petruk dan Melati.


Malam semakin larut.


Jaka menerima pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal.


"Kamu tadi melihat mereka di mobil?"


Jaka membaca pesan tersebut berkali-kali.


Ia tidak langsung menjawab.


Kemudian pesan kedua masuk.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


Jaka mengetik.


"Saya tidak tahu."


Beberapa detik kemudian balasan muncul.


"Tapi kamu saksi, kan?"


Jaka terdiam.


Saksi?


Ia tiba-tiba bertanya kepada dirinya sendiri.


Apakah orang yang hanya mendengar suara dan melihat mobil bergoyang bisa disebut saksi atas sesuatu yang tidak pernah dilihatnya?


Jaka meletakkan telepon.


Untuk pertama kalinya ia mulai memahami bahwa persoalan ini mungkin jauh lebih besar daripada kejadian di dalam mobil.


Karena setelah pintu mobil terbuka...


yang bergoyang bukan hanya mobil.


Cerita pun mulai bergerak.


Bersambung...



#GP | Gores Penulis| Red



Disclaimer: Cerbung ini adalah karya fiksi. Nama tokoh, tempat, karakter, dialog, dan sejumlah peristiwa merupakan rekaan serta telah disamarkan. Kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap pihak tertentu. 



Cerita ini dibuat sebagai refleksi moral tentang prasangka, kecemburuan, etika, dan dampak sebuah dugaan yang berkembang menjadi cerita.



Di sebuah kota kecil yang sejuk, perbukitan mengelilingi hampir seluruh penjuru mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS