DI BALIK KACA MOBIL YANG BERGOYANG - Go Parlement | Portal Berita

DI BALIK KACA MOBIL YANG BERGOYANG

Sabtu, Agustus 15, 2026

 

Cerbung — Episode 3: Sejak Jumat, Jaka Jadi Curiga pada Mobil


GOPARLEMENT.COM- Sejak kejadian Jumat siang itu, Jaka mengalami perubahan kecil.


Bukan pada pekerjaannya.


Bukan pula pada penampilannya.


Tetapi pada satu hal yang sangat sederhana.


Jaka sekarang gampang curiga kalau melihat mobil bergoyang.


Awalnya ia tidak menyadarinya.


Sampai suatu pagi...


Jaka sedang berjalan di halaman rumah sakit ketika melihat sebuah mobil parkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Mobil itu bergerak sedikit.


Jaka berhenti.


Matanya menyipit.


"Pan..."


Sapan yang sedang minum kopi menoleh.


"Apa?"


Jaka menunjuk.


"Itu."


Sapan melihat mobil tersebut.


Kemudian melihat Jaka.


"Kenapa?"


"Goyang."


Sapan menatap mobil.


Kemudian menatap Jaka lagi.


"Terus?"


Jaka berbisik.


"Ya... goyang."


Sapan menghela napas panjang.


"Jaka, jangan mulai lagi."


"Saya cuma bilang goyang."


"Mobil parkir, kena angin juga bisa bergerak."


Jaka masih memperhatikan.


"Ini bukan angin."


Sapan menaruh gelas kopinya.


"Terus apa?"


Jaka tidak menjawab.


Ia malah berjalan mendekat.


Sapan menggeleng-gelengkan kepala.


"Astaga..."


Jaka semakin dekat.


Mobil itu bergerak lagi.


Kali ini sedikit lebih kuat.


Jaka langsung berhenti.


Sapan yang berada di belakangnya mulai kesal.


"Jaka!"


"Apa?"


"Jangan buka pintunya."


"Saya belum buka."


"Jangan mengetuk kaca."


"Saya juga belum mengetuk."


"Pokoknya jangan melakukan apa-apa."


Jaka menoleh.


"Kenapa?"


Sapan menunjuk kepalanya sendiri.


"Karena saya khawatir kamu belum selesai dengan kejadian Jumat kemarin."


Jaka tertawa.


"Aku cuma penasaran."


"Rasa penasaranmu itu yang bikin kita kemarin berdiri di depan mobil seperti dua orang kehilangan pekerjaan."


Jaka tertawa semakin keras.


"Memangnya kamu tidak penasaran?"


Sapan terdiam.


"Sedikit."


"Nah!"


"Tapi saya masih punya akal sehat."


Jaka mengangguk.


"Baik."


Keduanya kembali melihat mobil.


Tiba-tiba mobil bergerak lagi.


Jaka refleks maju.


Sapan langsung menarik lengannya.


"Jangan!"


"Kenapa?"


"Biarkan."


"Kalau ada orang sakit?"


Sapan terdiam.


Jaka tersenyum.


"Nah."


Sapan akhirnya menyerah.


"Ya sudah. Tapi kalau ternyata cuma orang mencari sandal, kamu yang minta maaf."


Mereka mendekat.


Jaka mengetuk kaca.


Tok... tok... tok...


Tidak ada jawaban.


Jaka dan Sapan saling pandang.


Jaka mengetuk lagi.


Tok... tok...


Tiba-tiba terdengar suara dari dalam.


"Sebentar!"


Jaka langsung mundur.


Sapan juga.


Pintu terbuka.


Seorang pria keluar sambil membawa sesuatu.


Jaka memandangnya.


Kemudian melihat ke dalam mobil.


Tidak ada siapa-siapa.


Pria itu justru sedang berusaha mengambil sebuah sandal yang jatuh ke bawah kursi.


Jaka membeku.


Sapan menatap Jaka.


Jaka menatap Sapan.


Hening.


Pria tersebut bingung.


"Ada apa, Pak?"


Jaka tersenyum kaku.


"Enggak ada."


"Terus kenapa diketuk?"


Jaka melirik Sapan.


Sapan langsung pura-pura melihat ke arah lain.


Jaka akhirnya berkata.


"Maaf, Pak. Kami kira..."


"Kira apa?"


Jaka tidak sanggup meneruskan.


Sapan akhirnya menyelamatkan keadaan.


"Kami kira mobilnya bermasalah."


Pria itu melihat mobilnya.


"Mobil saya baik-baik saja."


"Oh."


Pria itu masuk kembali.


Pintu ditutup.


Jaka menatap Sapan.


Sapan menatap Jaka.


Kemudian berkata.


"Sudah puas?"


Jaka mengangguk.


"Sepertinya."


Mereka berjalan kembali.


Beberapa langkah kemudian Sapan berkata.


"Mulai sekarang kalau lihat mobil bergoyang..."


Jaka menyela.


"Jangan langsung curiga."


"Bagus."


"Periksa dulu."


Sapan berhenti.


Jaka tertawa terbahak-bahak.


Namun tawa itu tiba-tiba berhenti ketika Jaka teringat kejadian Jumat.


Sebenarnya apa yang terjadi di dalam mobil Petruk dan Melati?


Ia memang sudah mendengar penjelasan.


Tetapi satu hal masih mengganggunya.


Mengapa suara dari dalam mobil bisa terdengar seperti sesuatu yang lain ketika didengar dari luar?


Jaka mulai memahami bahwa suara tanpa konteks bisa sangat menyesatkan.


Seseorang bisa mengeluh karena sakit.


Seseorang bisa mengaduh karena mendapat pertolongan.


Seseorang bisa berteriak karena terkejut.


Tetapi orang yang mendengar dari luar tidak selalu mengetahui penyebabnya.


Dan ketika suara itu bertemu dengan prasangka...


cerita bisa berubah.


Siang itu Jaka kembali bertemu Petruk.


Dokter tersebut sedang berjalan menuju ruang pelayanan.


Jaka menyapa.


"Dok."


Petruk berhenti.


"Ya, Jaka?"


Jaka ragu sebentar.


Kemudian bertanya.


"Dok, waktu Jumat itu sebenarnya kondisi dokter bagaimana?"


Petruk memandangnya.


"Kenapa?"


"Enggak apa-apa. Saya cuma ingin memastikan."


Petruk tersenyum.


"Waktu itu kepala saya memang pusing."


"Parah?"


"Cukup mengganggu."


"Melati membantu?"


"Iya."


Jaka mengangguk.


Kemudian Petruk berkata.


"Setelah saya agak membaik, malah Melati yang kurang enak badan."


Jaka terdiam.


"Jadi saya bantu dia."


Jaka kembali mengangguk.


Sederhana.


Tidak ada cerita lain.


Namun sebelum Petruk pergi, Jaka memberanikan diri bertanya.


"Dok."


"Ya?"


"Dokter tahu kalau waktu itu ada orang yang melihat?"


Petruk berhenti.


Senyumnya menghilang.


"Melihat apa?"


Jaka terdiam.


Pertanyaan itu justru membuatnya sadar.


Petruk sendiri mungkin tidak mengetahui bagaimana kejadian itu terlihat dari luar.


Petruk kemudian bertanya.


"Memangnya ada apa?"


Jaka menggeleng.


"Enggak ada."


Petruk menatapnya beberapa detik.


Kemudian pergi.


Tetapi langkahnya terlihat lebih lambat.


Seolah pertanyaan Jaka telah menimbulkan sesuatu dalam pikirannya.


Sore harinya, Jaka kembali bertemu Sapan.


"Pan."


"Apa lagi?"


"Tadi aku bicara sama Petruk."


Sapan menoleh.


"Terus?"


"Dia bilang memang sakit."


"Kan sudah dijelaskan."


"Iya."


"Terus?"


Jaka menghela napas.


"Dia tidak tahu ada yang melihat."


Sapan diam.


Kemudian berkata.


"Nah."


"Apa?"


"Kadang orang yang menjadi bahan cerita justru orang terakhir yang tahu ceritanya."


Jaka terdiam.


Kalimat itu terasa dalam.


Malamnya Jaka kembali membuka telepon.


Ia masih menyimpan foto Petruk dan Melati yang pernah dikirim kepadanya.


Jaka memperbesar gambar.


Sekali lagi ia memperhatikan latar belakang.


Seseorang terlihat samar.


Seragam tenaga kesehatan.

Jaka kemudian memperbesar bagian wajah.


Tidak jelas.


Ia mencoba lagi.


Tetap tidak jelas.


Jaka hampir menyerah ketika tiba-tiba ia melihat sesuatu.


Lencana kecil di dada orang tersebut.

Ada tulisan.


Tidak terbaca seluruhnya.


Tetapi dua huruf pertama terlihat jelas.


"NA..."


Jaka langsung teringat seseorang.

Nara.


Namun ia buru-buru menggeleng.

"Jangan."


Ia teringat nasihat Sapan.


Jangan menganggap sesuatu benar hanya karena kelihatannya benar.


Jaka meletakkan telepon.


Tetapi beberapa detik kemudian teleponnya berbunyi.


Pesan masuk.


Dari Raka.


"Sudah lihat fotonya lagi?"


Jaka membalas.


"Sudah."


"Lihat bagian belakang?"


Jaka terdiam.


Kemudian mengetik.


"Ada orang berseragam."


Raka membalas.


"Ada sesuatu yang lebih penting."


Jaka: "Apa?"


Raka: "Perhatikan siapa yang berdiri paling dekat dengan mobil."


Jaka kembali membuka foto.


Ia memperbesar.


Satu per satu.


Sosok Petruk.


Melati.


Mobil.


Kemudian sosok samar di belakang.


Jaka mendadak berhenti.


Sebab baru kali ini ia menyadari sesuatu yang selama ini terlewat.


Orang yang berada di belakang itu bukan sedang berjalan melewati mobil.


Posisinya menghadap ke arah Petruk dan Melati.


Seolah...

sedang memperhatikan mereka.


Jaka menelan ludah.


Pesan baru dari Raka masuk.


"Sekarang coba ingat, siapa yang paling sering memperhatikan Petruk belakangan ini?"


Jaka tidak menjawab.


Nama itu kembali muncul, "Nara"


Tetapi kali ini ada satu persoalan yang jauh lebih besar.


Apakah Nara benar-benar orang di dalam foto?


Atau Jaka hanya sedang melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


melihat sesuatu yang samar, lalu mengisinya dengan prasangka sendiri?

Jaka menatap layar.


Dan untuk pertama kalinya ia sadar...

mungkin misteri terbesar bukan siapa yang memotret.


Melainkan siapa yang ingin Jaka percaya bahwa Nara adalah pelakunya.


Bersambung...



#GP | Gores Penulis| Red



Disclaimer: Cerbung ini adalah karya fiksi. Nama tokoh, tempat, karakter, dialog, dan sejumlah peristiwa merupakan rekaan serta telah disamarkan. Kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap pihak tertentu. 



Cerita ini dibuat sebagai refleksi moral tentang prasangka, kecemburuan, etika, dan dampak sebuah dugaan yang berkembang menjadi cerita.



Di sebuah kota kecil yang sejuk, perbukitan mengelilingi hampir seluruh penjuru mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS