Cerbung — Episode 5: Bayangan di Kaca
Catatan: Cerbung ini sepenuhnya karya fiksi. Nama tokoh, tempat, karakter, dialog, dan rangkaian peristiwa merupakan rekaan. Kemiripan dengan orang atau kejadian nyata adalah kebetulan dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap pihak tertentu.
GOPARLEMNT.COM- Jaka masih menatap layar telepon.
Foto kedua terbuka di hadapannya.
Ia memperbesar bagian kaca mobil.
Satu bayangan terlihat samar.
Tidak jelas wajahnya.
Tidak jelas pula siapa pemiliknya.
Namun bayangan itu cukup untuk membuat Jaka kembali penasaran.
"Pan..."
Sapan yang sedang menyeruput kopi menoleh malas.
"Apa lagi?"
"Bayangan ini."
Sapan mendekat.
Melihat layar.
Kemudian berkata.
"Bayangan orang."
"Iya."
"Terus?"
"Menurutmu siapa?"
Sapan menatap Jaka.
"Jaka..."
"Iya?"
"Kalau saya tahu, saya sudah jadi dukun, bukan temanmu."
Jaka tertawa.
"Serius, Pan."
Sapan kembali melihat foto.
"Yang jelas, kita tidak boleh langsung menyimpulkan."
Jaka mengangguk.
Namun beberapa detik kemudian ia berkata.
"Kalau begitu kita cari tahu."
Sapan menghela napas.
"Saya sudah tahu kalimat berikutnya."
"Apa?"
"Kamu mau mengajak saya keliling rumah sakit mencari orang yang pakai sepatu putih."
Jaka tersenyum.
"Betul."
Sapan menepuk dahinya.
"Astaga..."
Mereka mulai memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.
Dokter.
Perawat.
Petugas administrasi.
Petugas kebersihan.
Semuanya memakai pakaian kerja yang hampir sama.
Dan itu justru membuat pencarian mereka semakin sulit.
"Yang itu?"
Sapan menunjuk seorang pria.
Jaka memperhatikan.
"Sepatunya hitam."
"Yang itu?"
"Putih."
Mereka mendekat.
Ternyata pria tersebut membawa kardus.
"Pak, maaf."
Pria itu menoleh.
"Ada apa?"
"Sepatunya boleh kami lihat?"
Pria itu mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
Jaka langsung salah tingkah.
Sapan buru-buru menyela.
"Enggak apa-apa, Pak. Teman saya sedang penelitian."
"Penelitian apa?"
Sapan berpikir cepat.
"Penelitian..."
Ia menatap Jaka.
Jaka menatap Sapan.
"...tentang alas kaki."
Pria itu semakin bingung.
"Alas kaki?"
"Iya."
"Untuk apa?"
Sapan tersenyum.
"Supaya kaki tetap sehat."
Pria itu mengangguk ragu.
"Oh."
Ia kemudian pergi.
Begitu orang itu menjauh, Jaka tertawa.
"Penelitian alas kaki?"
Sapan menjawab.
"Daripada kita dianggap orang gila."
Namun pencarian konyol itu akhirnya menghasilkan sesuatu.
Di dekat ruang perawat, Jaka melihat seorang perempuan mengenakan seragam tenaga kesehatan.
Sepatunya putih.
Ia berhenti.
"Nah."
Sapan menoleh.
"Jangan mulai."
"Sepatunya."
"Putih."
Jaka mengangguk.
"Persis seperti foto."
Sapan menghela napas.
"Jangan langsung tuduh."
"Aku cuma mau memastikan."
Mereka memperhatikan perempuan itu dari kejauhan.
Perempuan tersebut berjalan menuju sebuah ruangan.
Jaka mengikuti dengan pandangan.
Beberapa detik kemudian ia berkata.
"Pan."
"Apa?"
"Itu Nara."
Sapan terdiam.
Jaka juga.
Keduanya tidak lagi tertawa.
Nara masuk ke ruangan.
Jaka menatap pintu.
Ia teringat foto.
Lencana.
Seragam.
Sepatu putih.
Dan sekarang Nara.
Semua seolah cocok.
Tetapi justru karena terlalu cocok, Jaka mulai ragu.
"Pan."
"Hmm?"
"Kalau semua petunjuk mengarah ke Nara..."
Sapan menyela.
"Justru kita harus lebih hati-hati."
"Kenapa?"
"Karena mungkin seseorang memang ingin kita berpikir begitu."
Jaka terdiam.
Benar juga.
Terlalu banyak petunjuk yang mengarah kepada satu orang justru bisa menjadi jebakan.
Sementara itu, di dalam ruangan, Nara sedang mencari sesuatu.
Ia membuka laci.
Tidak ada.
Membuka map.
Tidak ada.
Kemudian ia mengambil telepon.
Mengetik sebuah pesan.
"Aku sudah melihat fotonya."
Pesan terkirim.
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
"Jangan bicara kepada siapa pun."
Nara membaca pesan itu.
Wajahnya berubah.
Ia mengetik.
"Kenapa?"
Balasan datang.
"Karena kamu tidak tahu siapa yang mengambil foto pertama."
Nara terdiam.
Tangannya berhenti di atas layar.
Ia kemudian menghapus pesan yang baru saja diketik.
Tidak jadi mengirim.
Di luar ruangan, Jaka masih berdiri.
Sapan berkata.
"Kita pergi."
"Sebentar."
"Untuk apa?"
"Aku mau tanya langsung."
"Jaka..."
"Aku tidak akan menuduh."
Sapan menatapnya.
"Janji?"
"Janji."
Mereka menunggu Nara keluar.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka.
Nara terkejut melihat Jaka dan Sapan.
"Kalian?"
Jaka tersenyum.
"Maaf, Nar."
"Ada apa?"
Jaka hampir bertanya tentang foto.
Tetapi ia teringat nasihat Sapan.
Jangan menuduh.
Akhirnya ia bertanya dengan cara berbeda.
"Nar, kamu pernah melihat Petruk dan Melati waktu kejadian Jumat?"
Nara diam sebentar.
"Kenapa kamu tanya itu?"
"Karena aku sedang mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi."
Nara mengangguk perlahan.
"Aku tidak melihat mereka di dalam mobil."
Jaka memperhatikan wajahnya.
"Benar?"
"Benar."
"Kalau begitu kamu tahu dari siapa?"
Nara tersenyum tipis.
"Di rumah sakit, cerita berjalan lebih cepat daripada orang."
Sapan tersenyum.
"Betul."
Nara kemudian berkata.
"Kadang orang cuma mendengar satu kalimat."
"Besoknya sudah menjadi cerita panjang."
Jaka terdiam.
Kalimat itu persis seperti apa yang sedang terjadi.
Nara hendak pergi.
Tetapi Jaka tiba-tiba bertanya.
"Nar."
Nara berhenti.
"Ya?"
"Kamu punya sepatu putih?"
Nara menatap Jaka.
Sapan langsung menutup wajah.
"Jaka..."
Nara mengernyit.
"Kenapa?"
Jaka tertawa canggung.
"Enggak apa-apa."
Nara melihat ke bawah.
Kemudian tersenyum kecil.
"Yang saya pakai ini?"
Jaka mengangguk.
"Iya."
"Sepatu kerja."
"Sudah lama?"
"Beberapa bulan."
Jaka tidak tahu harus berkata apa.
Nara kemudian bertanya.
"Memangnya kenapa?"
Jaka menggeleng.
"Tidak ada."
Nara pergi.
Begitu Nara menghilang di ujung lorong, Sapan menatap Jaka.
"Bagus."
Jaka bingung.
"Apa?"
"Pertanyaanmu tadi."
"Kenapa?"
"Kamu sudah hampir membuat saya masuk rumah sakit."
Jaka tertawa.
Namun sebelum mereka pergi, telepon Jaka berbunyi.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
Hanya satu kalimat.
"Kalau kamu mau tahu siapa yang mengambil foto, jangan cari Nara."
Jaka membeku.
Sapan membaca pesan tersebut.
Mereka saling pandang.
Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.
"Cari orang yang pertama kali tahu tentang mobil itu sebelum foto tersebut diambil."
Jaka mengernyit.
"Pan..."
"Iya."
"Berarti..."
Sapan mengangguk.
"Orang yang memotret bukan sumber pertama."
Jaka kembali membuka foto.
Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul.
Kalau begitu, siapa yang pertama kali mengetahui Petruk dan Melati berada di dalam mobil?
Dan mengapa orang tersebut begitu penting?
Sementara itu, beberapa ruangan dari tempat Jaka berdiri, Nara kembali melihat teleponnya.
Pesan tadi masih terbuka.
Ia membaca sekali lagi.
Kemudian menghapus seluruh percakapan.
Tetapi sebelum telepon dimatikan, sebuah pesan terakhir masuk.
"Nara, jangan sampai mereka tahu bahwa kamu juga melihat mobil itu."
Nara membeku.
Ia menatap layar cukup lama.
Karena untuk pertama kalinya...
rahasia yang selama ini ia simpan ternyata diketahui orang lain.
Dan rahasia itu bukan tentang Petruk.
Bukan pula tentang Melati.
Melainkan tentang apa yang sebenarnya Nara lihat pada Jumat siang itu.
Bersambung...
#GP | Goresan Penulis | Red






Tidak ada komentar:
Posting Komentar