Hidup Sebatang Kara, Nasiruddin Bertahan Mengamen dari Kota ke Kota - Go Parlement | Portal Berita

Hidup Sebatang Kara, Nasiruddin Bertahan Mengamen dari Kota ke Kota

Kamis, Juli 23, 2026

 


Sujunjung(SUMBAR).GP– Keterbatasan fisik tak pernah menyurutkan semangat Nasiruddin (56), seorang penyandang tunanetra asal Kota Payakumbuh, untuk bertahan hidup. Meski hidup sebatang kara, ia tetap berjuang mencari nafkah dengan menjadi pengamen keliling dari satu kota ke kota lain, bahkan hingga ke luar Provinsi Sumatera Barat.


Berbekal sebuah pengeras suara aktif dan mikrofon, Nasiruddin menyusuri jalanan demi menghibur masyarakat sekaligus mengais rezeki. Profesi itu telah ia jalani sejak masih berusia sekitar lima tahun.


Saat ditemui awak media ini di Tanjung Ampalu beberapa waktu lalu, Nasiruddin menuturkan bahwa dirinya merupakan anak tunggal yang lahir dalam kondisi tunanetra. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia, sehingga kini ia menjalani kehidupan seorang diri di rumah tua peninggalan keluarga di Payakumbuh.


Dalam perjalanan hidupnya, Nasiruddin pernah dua kali membina rumah tangga. Dari pernikahan pertamanya dengan seorang perempuan asal Palembang bernama Simah, ia dikaruniai seorang anak perempuan. Namun rumah tangga tersebut berakhir dengan perceraian, dan hingga kini ia mengaku tidak pernah lagi bertemu maupun berkomunikasi dengan anaknya.


Pernikahan keduanya pun tidak bertahan lama. Menurut pengakuannya, hubungan itu berakhir karena persoalan ekonomi dan kurangnya keharmonisan dalam rumah tangga.


"Yang paling saya rindukan adalah anak saya. Sampai sekarang saya tidak tahu lagi bagaimana kabarnya," ujarnya lirih.


Nasiruddin mengaku telah menjelajahi berbagai daerah untuk mengamen, mulai dari hampir seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat hingga ke Muaro Bungo (Jambi) dan Palembang.


Dahulu ia pernah menggunakan jasa pendamping ketika bepergian. Namun kini ia memilih berjalan sendiri setelah mengalami pengalaman kurang menyenangkan terkait kejujuran pendampingnya.


Selama berada di perantauan, ia kerap menginap di berbagai tempat. Bahkan, pernah berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tidak pulang ke kampung halamannya demi mencari penghasilan.


"Kalau pulang, saya tinggal sendiri di rumah tua. Tidak ada lagi orang tua maupun saudara. Begitulah kehidupan saya sekarang," tuturnya.


Meski demikian, Nasiruddin mengaku tetap bersyukur atas setiap rezeki yang diterimanya. Dalam sehari, hasil mengamen yang diperolehnya bervariasi, bahkan pada hari-hari tertentu bisa mencapai sekitar Rp700 ribu, meski tidak selalu demikian.


"Kalau sedikit tetap disyukuri. Rezeki itu Allah yang mengatur. Tugas kita hanya berusaha, berdoa, dan yakin bahwa setiap usaha yang baik akan diberi keberkahan," ucapnya sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kota Payakumbuh.


Kisah Nasiruddin menjadi potret keteguhan seorang penyandang disabilitas yang memilih tetap mandiri dan bekerja keras di tengah keterbatasan. Dengan suara dan semangatnya, ia terus melangkah dari kota ke kota, berharap setiap langkah membawa rezeki dan harapan untuk menjalani hidup yang lebih baik.


#GP | Herman | Can


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS