Padang(SUMBAR).GP– "Cerita ini bermula dari kakek saya yang lahir pada tahun 1906," ungkap Dato Sohaimi Shahadan dengan nada yang dalam dan penuh kerinduan kepada www.goparlement.com, Senin (27/04/2026).
Dato Sohaimi menceritakan kembali lembaran sejarah keluarga yang telah lama tersimpan rapi. Saat kakeknya masih berusia 6 tahun, orang tuanya membawanya bersama ketiga saudaranya merantau jauh menyeberang laut menuju Malaysia.
"Sayangnya, sejak keberangkatan itu, mereka tak pernah lagi kembali ke tanah air, tepatnya ke Ranah Minang," ujarnya lirih.
Rasa rindu terhadap kampung halaman tak pernah padam. Di tahun 1940-an, hasrat untuk pulang membuncah, namun takdir berkata lain. Saat itu Ranah Minang sedang diduduki Jepang, sehingga niat suci itu harus ditelan kembali. Kemudian di tahun 1960-an, mereka mencoba kembali, namun angin politik belum bersahabat. Peristiwa Konfrontasi Indonesia-Malaysia kembali memisahkan mereka dari tanah leluhur. Berkali-kali usaha kandas di tengah jalan, membuat jejak asal usul mereka semakin samar dan sulit dilacak oleh waktu.
"Bertahun-tahun lamanya saya mencari, bertanya ke sana-sini, namun petunjuk tak kunjung didapat. Hingga pada suatu ketika, takdir mempertemukan kami dengan Ustad H. Efendi Syamsuar yang sedang membangun sebuah Pondok Pesantren Tafis Ibnu Hajar di Nagari Lawang Sumatera Barat," ceritanya.
Orang baik itu berasal dari Nagari Lawang dan juga sekaligus ketua Pondok Pensantre. Anehnya, meski sudah lama merantau di Malaysia dan logat bicaranya pun sudah menyerap budaya setempat, namun cinta dan ingatannya terhadap kampung halaman tak pernah pudar. Karena merasa senasib sepenanggungan sebagai sesama perantau, ia pun bersedia membuka jalan dan memberikan informasi berharga itu.
"Dari sanalah terungkap bahwa asal usul keluarga kami ini berasal dari Nagari Lawang, bersuku Sikumbang. Informasi itu menjadi kunci pembuka gerbang sejarah yang selama ini tertutup rapat," kata Dato Sohaimi, yang juga menjabat sebagai Presiden Dewan Perdagangan & Industri ASEAN.
Air mata kerinduan akhirnya terbayar lunas. "Kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang kampung. Sesampainya di sana, kami disambut dengan hangat oleh para sesepuh, tokoh masyarakat, dan pengurus pesantren setempat," ungkapnya.
Berkat kolaborasi dan bantuan dari teman-teman di Kuala Lumpur serta para pemangku adat di kampung halaman, barulah sejarah yang sempat salah catat itu bisa diluruskan. Setelah puluhan tahun terpisah, akhirnya nama keluarga itu kembali tertulis dengan benar di tanah asalnya.
#GP | Ce

.jpg)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar