Padang(SUMBAR).GP– Keindahan panorama laut dan kota dari ketinggian Gedung Kebudayaan Sumatera Barat membuat Presiden Dewan Perdagangan & Industri ASEAN Malaysia, Dato Sohaimi Shahadan, terpukau sekaligus tertegun. Di matanya, lokasi strategis ini adalah aset berharga yang bisa mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat besar, namun sayangnya saat ini terlihat belum dikelola secara maksimal dan terkesan terbengkalai.
"Lihatlah pemandangan ini, sangat luar biasa. Sayang sekali aset dengan potensi ekonomi sebesar ini tidak dikelola dengan baik. Ini harus diselesaikan. Jangan lihat apa yang kurang, tapi lihat apa yang bisa kita buat agar tempat ini menjadi luar biasa indah dan nyaman bagi setiap wisatawan yang datang," ujar Dato Sohaimi dengan semangat.
Menurut tokoh bisnis lintas negara ini, aset daerah harus dikelola secara profesional, modern, dan berorientasi pada keuntungan. "Itu adalah pandangan kami yang datang dari luar, melihat potensi ini dengan kacamata bisnis. Tempat ini terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja," tegasnya saat melakukan kunjungan silaturahmi dengan Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Syaiful Bahri, SP, MM, Senin (27/04/2026).
Kunjungan Dato Sohaimi bukan sekadar kunjungan biasa. Sebagai putra ranah yang baru menemukan akar sejarahnya di Nagari Lawang, bersuku Sikumbang, ia hadir bukan sebagai orang asing, melainkan "Anak Nagari yang pulang kampung untuk membangun daerahnya."
Baca Tentang: https://www.goparlement.com/2026/04/perjuangan-dato-sohaimi-shahadan.html?m=1
Peluang Emas: Skema Kerjasama 30 Tahun, Siap Dijadikan Hotel Bintang 5
Merespons harapan tersebut, Kepala Dinas Syaiful Bahri langsung membuka peluang seluas-luasnya. Ia mengakui bahwa Pemerintah Provinsi saat ini sedang gencar mencari investor mitra untuk menuntaskan pembangunan aset strategis ini.
"Kami mengajak investor untuk menyelesaikan pembangunan ini dengan skema kerjasama selama 30 tahun. Investor membangun dan mengelola, setelah masa kontrak habis, aset kembali ke pemerintah, atau bisa diperpanjang dengan kontrak tahunan," jelas Syaiful di ruang kerjanya.
Sebagai contoh sukses yang sudah berjalan, ia mencontohkan pengelolaan Hotel Novotel di Bukittinggi yang kini dikelola pihak lain dengan nilai sewa mencapai Rp8 Miliar per tahun. Skema ini terbukti menguntungkan kedua belah pihak.
"Di sini kita tawarkan konsep Hotel Berkonsep Budaya Minangkabau. Lokasi ini sangat strategis, bahkan sudah dirancang khusus untuk Presidential Suite dan kolam renang di lantai atas dengan view laut yang memukau. Sayangnya, anggaran dari pusat untuk menyelesaikannya saat ini sudah tidak ada. Maka dari itu, tangan investor sangat kami butuhkan," tambahnya.
Lokasi Bersejarah, Jantung Pariwisata Kota Tua
Lebih jauh Syaiful menjelaskan, Gedung Kebudayaan ini bukan sekadar bangunan, melainkan bagian dari sejarah besar Kota Padang.
"Wilayah ini dulunya adalah pusat pemerintahan dan kebudayaan yang mencakup seluruh 19 Kabupaten/Kota di Sumbar. Lokasi ini bersebelahan dengan kawasan Kota Tua peninggalan Belanda yang sudah dirancang sebagai kawasan wisata terpadu, mulai dari area museum, ruko-ruko bergaya kolonial dengan selasar terbuka, hingga menyatu dengan keindahan tepi pantai Muara Padang."
Potensi wisata, bisnis, dan budaya di lokasi ini sangatlah masif. Dengan letak yang berada di jalur wisata Kota Tua dan berhadapan langsung dengan laut, pengembangan menjadi Hotel, Pusat Oleh-oleh, atau Pusat Kebudayaan adalah investasi yang sangat menjanjikan.
Kepala Dinas Syaiful Bahri mengakui bahwa Pemerintah Provinsi saat ini aktif mencari mitra investor untuk menuntaskan pembangunan aset strategis ini.
"Siapakah yang akan menjadi orang pertama yang menyulap "permata terpendam" ini menjadi ikon baru Sumatera Barat? Peluang terbuka lebar!," tutupnya
#GP | Ce








Tidak ada komentar:
Posting Komentar