Sijunjung (SUMBAR).GP- Walaupun tidak mengenyam pendidikan formal, dari kecil menjadi anak yatim piatu, namun tidak pernah menyusahkan siapa pun juga, karena ia memiliki profesi yang bisa menghasilkan uang.
Begitulah kondisi seorang lelaki berusia 45 tahun ini, yang dipanggil dengan nama Bujang Umpuoh, yang sehari-hari berjalan menelusuri kampung-kampung untuk mengumpulkan barang-barang bekas, terutama yang terbuat dari plastik. Bukan itu saja pekerjaannya, namun sekalian juga menjadi tukang angkat barang di pasar-pasar.
Lelaki yang sejak kecil ditinggalkan ibunya, jadilah ia piatu, tak lama kemudian Ayahnya juga meninggal dunia, jadi lah ia yatim dan piatu kini tinggal di rumahnya yang berada di Nagari Bukit Bual, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung.
Ia setiap malam ditemani keponakannya dan soal makan terkadang nasi dibeli dan diberi tetangganya.
Namun tak ada kata "meminta -minta" sama orang lain buat kebutuhannya, karena ia rajin bakureh mencari uang ,walaupun harus berhadapan dengan bau busuk tumpukan
sampah dan semak-semak untuk mengais barang-barang bekas atau barang rongsokan.
Ketika dijumpai Kontributor media Goparlement.com di Tanjung Ampalu, Rabu ( 1/4) Bujang begitu anggilannya, mengatakan disaat ia bayi ibunya meninggal dan kemudian ayahnya, dan lebih menyedihkan lagi , ia tidak punya saudara seayah seibu, hanya hidup sebatang kara dengan keterbatasan dalam segala hal.
Soal pendapatan dari usahanya memungut barang-barang bekas dan menjadi buruh angkat di Pasar Tanjung Ampalu dan Pasar Padang Sibusuk ia pun tidak dapat menyebutkan nominal penghasilannya, sebab ia tidak tahu tulis baca, dan berhitung.
Dalam kesempatan bincang-bincang dengan kontributor media GP Bujang pun sempat memperlihatkan uangnya yang tersimpan dalam plastik di sakunya cukup lumayan juga, ada lembaran seratus ribuan, lima puluh ribuan, dan lembaran lima ribu serta uang kecil lainnya. Namun malangnya ia tidak tahu jumlah uang yang dimilikinya.
Namun baginya, tidak ada kata mengemis untuk keperluan hidupnya.Saban hari ia menenteng beberapa karung dan tas kresek untuk memungut dan membawa hasil jerih payahnya mengumpulkan barang-barang bekas di sepanjang kampung hanya bermodalkan karung dan usaha yang tidak memerlukan modal, namun hanya keletihan dan bau busuk yang harus ia rasakan setiap harinya.
Usahanya murni untuk menyambung hidupnya , ia tidak pernah sakit payah, walaupun setiap hari berhadapan dengan tumpukkan sampah dan bau tidak sedap sekalipun
Begitulah perjalanan hidup lelaki yatim piatu yang juga tidak pandai tulis baca, dan berhitung, namun hidupnya tidak pernah menyusahkan orang lain.
Terkadang ia juga ditawarkan untuk bekerja bersih-bersih di rumah orang dengan imbalan alah kadarnya. Di samping uang, juga diberi makan dan minum kopi dan sebagainya.
#GP | Herman | Can






Tidak ada komentar:
Posting Komentar