Sijunjung (SUMBAR).GP- Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, serta kesempatan untuk menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan hingga akhirnya kita dipertemukan dengan hari kemenangan, hari yang fitri, yaitu Idul Fitri.
Demikian Ustadz Aprinaldi, Khatib Idul Fitri mengawali khotbahnya di masjid Istighfar Nagari Lubuk Tarantang Kecamatan Kamang Baru, Sabtu (21/3/2026).
Shalawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, suri teladan sepanjang zaman, yang telah membimbing umatnya menuju jalan yang penuh cahaya, jalan yang diridhai Allah SWT.
Selanjutnya, khatib Aprinaldi mengungkapkan, "Kita baru saja melewati bulan Ramadhan, bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Bulan yang di dalamnya Allah SWT membuka pintu rahmat seluas-luasnya, melipatgandakan pahala amal ibadah, serta memberikan kesempatan kepada setiap hamba-Nya untuk kembali mendekat kepada-Nya".
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan madrasah ruhani yang mendidik kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih peduli terhadap sesama. Di bulan itulah kita dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, serta meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita.
Maka, ketika kita sampai pada hari ini, hari Idul Fitri, sesungguhnya ini adalah hari kemenangan. Kemenangan bagi mereka yang mampu memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Kemenangan bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam ibadah, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dihadapan para jemaah yang penuh khusuk mengikuti pencerahannya, Aprinaldi menegaskan, Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni, sehingga ia kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan ke dunia.
Namun, demikian lanjutnya,
Kesucian itu bukanlah sekadar simbol, bukan hanya ucapan “minal ‘aidin wal faizin”, tetapi harus tercermin dalam sikap dan perilaku kita setelah Ramadhan berlalu.
Apakah kita akan tetap menjaga shalat kita? Apakah kita akan tetap gemar bersedekah? Apakah lisan kita akan tetap terjaga? Apakah hati kita akan tetap bersih dari iri dan dengki? Jawabannya tentu kembali kepada kekuatan dan kemampuan iman kita masing masing.
Jika nilai-nilai Ramadhan masih kita pertahankan, maka itulah tanda bahwa kita termasuk orang-orang yang meraih kemenangan sejati.
Momentum Idul Fitri ini juga menjadi waktu yang tepat untuk mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan menghapus segala kesalahan di antara sesama. Karena tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain hati yang bersih, hubungan yang harmonis, dan kehidupan yang penuh dengan keberkahan.
#GP | Herman.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar