Netanyahu Kecam Serangan Rudal di Bandara Riyadh, Konflik Saudi-Houthi Kian Memanas - Go Parlement | Portal Berita

Netanyahu Kecam Serangan Rudal di Bandara Riyadh, Konflik Saudi-Houthi Kian Memanas

Senin, Oktober 12, 2026



Jakarta (DKI). GP- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam keras serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Pernyataan Netanyahu menjadi sorotan karena muncul di tengah meningkatnya konflik regional, sementara serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi dari Yaman telah menimbulkan korban jiwa dan mengganggu penerbangan sipil.


Netanyahu menyampaikan kecamannya melalui pernyataan di media sosial X pada Minggu, 11 Oktober 2026. Ia menyebut serangan terhadap bandara di ibu kota Arab Saudi tersebut sebagai aksi teror yang mengerikan. Netanyahu juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berharap para korban luka segera pulih.


Respons tersebut menarik perhatian karena Israel dan Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Meski demikian, serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil di Riyadh mendorong Netanyahu menyampaikan sikap terbuka. Pernyataan itu menunjukkan bahwa ancaman keamanan di kawasan Timur Tengah memiliki dampak yang melampaui hubungan bilateral antarnegara.


Serangan pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dilaporkan menewaskan belasan orang dan melukai lebih dari 300 orang. Bandara King Khalid menjadi sasaran dalam eskalasi serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi, yang didukung Iran. Insiden tersebut menambah tekanan terhadap keamanan Arab Saudi di tengah konflik yang terus berkembang di Yaman.


Situasi belum mereda pada hari berikutnya. Pada Minggu, laporan menyebut adanya serangan lanjutan di sekitar bandara Riyadh yang memicu kebakaran. Koalisi pimpinan Arab Saudi juga menyatakan sistem pertahanan udaranya mencegat sebuah rudal jelajah di sekitar Bandara Internasional King Khalid. Rangkaian insiden ini memperlihatkan bahwa ancaman terhadap fasilitas strategis Saudi masih berlanjut.


Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh aparat keamanan. Penutupan bandara dan gangguan penerbangan membuat perjalanan penumpang, termasuk jemaah umrah, ikut terdampak. Serangan terhadap bandara sipil juga menimbulkan kekhawatiran mengenai keselamatan penumpang dan awak pesawat, serta kelancaran penerbangan internasional yang melewati kawasan tersebut.


Pemerintah Arab Saudi menghadapi tekanan untuk memperkuat perlindungan terhadap infrastruktur penting, termasuk bandara dan jalur penerbangan. Di sisi lain, serangan berulang berpotensi memperluas ketegangan antara kelompok Houthi dan pihak-pihak yang mendukung pemerintah Yaman. Kondisi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.


Kecaman Netanyahu juga muncul ketika sejumlah negara mengecam serangan terhadap bandara Riyadh. Turki, Pakistan, Mesir, dan Arab Saudi menyatakan serangan tersebut merupakan eskalasi berbahaya yang tidak dapat dibenarkan. Mereka meminta serangan dihentikan dan menegaskan dukungan terhadap langkah-langkah sah Arab Saudi untuk melindungi wilayahnya.


Di tengah meningkatnya ketegangan, persoalan utama kini adalah bagaimana mencegah serangan lanjutan dan melindungi warga sipil. Serangan terhadap fasilitas penerbangan tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga mengganggu mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi. Jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya dapat meluas ke sektor penerbangan, perdagangan, dan keamanan regional.


Pernyataan Netanyahu menambah dimensi politik pada krisis keamanan di Riyadh. Namun, kecaman tersebut belum dengan sendirinya mengubah situasi di lapangan. Arab Saudi masih menghadapi tantangan untuk memastikan keamanan penerbangan, sementara masyarakat internasional menunggu langkah konkret guna menghentikan serangan dan mencegah konflik Timur Tengah berkembang menjadi krisis yang lebih luas.


#GP | DEF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS