Demo Prancis Berubah Jadi Amuk Massa, Balai Kota Limoges Berusia 143 Tahun Hangus Terbakar - Go Parlement | Portal Berita

Demo Prancis Berubah Jadi Amuk Massa, Balai Kota Limoges Berusia 143 Tahun Hangus Terbakar

Minggu, Oktober 18, 2026



Jakarta(DKI). GP- Demonstrasi besar-besaran di Prancis berujung pada kerusuhan dan kehancuran bangunan bersejarah. Balai Kota Limoges yang telah berdiri selama 143 tahun dilalap api setelah sekelompok demonstran bertopeng diduga sengaja membakar gedung tersebut pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kebakaran itu menyebabkan sebagian besar atap bangunan runtuh dan bagian luar gedung mengalami kerusakan parah. Peristiwa ini menjadi salah satu insiden paling mencolok dalam gelombang demonstrasi nasional yang dipicu kenaikan biaya hidup dan persoalan pelayanan publik.


Kerusuhan di Limoges memperlihatkan bagaimana aksi unjuk rasa yang semula menjadi wadah penyampaian aspirasi berubah menjadi tindakan anarkis. Menurut keterangan saksi mata yang dikutip media internasional, sekelompok orang bertopeng terlebih dahulu membakar mobil polisi di luar balai kota. Mereka kemudian memecahkan kaca jendela, menerobos masuk ke dalam gedung, lalu menyulut api. Aksi tersebut mengakibatkan bangunan milik pemerintah daerah itu mengalami kerusakan berat.


Pejabat wilayah Haute-Vienne, Maurice Barate, mengecam keras pembakaran tersebut. Ia menyebut kehancuran balai kota sebagai bencana bagi warisan sejarah setempat. Menurut keterangannya, atap bangunan runtuh menimpa lantai-lantai di bawahnya, kecuali pada sayap barat. Sekitar dua pertiga bagian luar gedung juga dilaporkan telah hancur. Kerusakan tersebut menjadi pukulan besar bagi Limoges karena bangunan itu telah menjadi bagian dari sejarah kota selama lebih dari satu abad.


Petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk mengendalikan kobaran api yang melanda bangunan tersebut. Proses pemadaman dilakukan sejak Sabtu malam hingga api berhasil dikendalikan. Meski demikian, besarnya kerusakan membuat kondisi bangunan menjadi perhatian serius. Pemerintah setempat harus menghadapi persoalan pemulihan gedung sekaligus menjaga agar kerusakan tidak bertambah parah.


Kerusuhan tidak hanya terjadi di Limoges. Di Paris, sejumlah toko dirusak dan dijarah oleh kelompok massa, termasuk toko yang menjual produk kecantikan dan barang bermerek. Di Marseille, puluhan toko dilaporkan mengalami kerusakan, sementara sejumlah gerai mewah menjadi sasaran penjarahan. Di Lille, sekelompok orang dilaporkan membobol Apple Store. Rangkaian insiden tersebut memperlihatkan meluasnya gangguan keamanan di sejumlah kota Prancis.


Di Lyon, kantor pariwisata kota juga menjadi sasaran pembakaran. Sejumlah bangunan publik dan tempat usaha mengalami kerusakan di tengah bentrokan antara kelompok massa dan aparat keamanan. Meski demonstrasi di banyak lokasi berlangsung damai, tindakan kelompok garis keras membuat situasi berubah menjadi kekerasan. Perusakan fasilitas umum dan penjarahan toko akhirnya membayangi tuntutan masyarakat yang sebelumnya disuarakan melalui demonstrasi.


Aksi nasional pada Sabtu, 17 Oktober 2026, diikuti ratusan ribu orang yang menyampaikan keresahan mengenai biaya hidup, kondisi pendidikan, upah, dan pelayanan publik. Laporan Reuters menyebut jumlah peserta demonstrasi diperkirakan mencapai 550.000 hingga 800.000 orang. Namun, tidak semua peserta terlibat dalam kekerasan. Sejumlah kelompok justru turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi secara damai, sementara sebagian pelaku melakukan pembakaran dan penjarahan.


Pemerintah Prancis menghadapi tekanan untuk memulihkan keamanan sekaligus merespons tuntutan masyarakat. Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa pelaku penyerangan, perusakan, dan penjarahan harus diproses secara hukum. Laporan media internasional juga menyebut lebih dari 1.200 orang ditangkap dan sekitar 150 anggota kepolisian terluka dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Angka itu menggambarkan besarnya tantangan yang dihadapi aparat dalam mengendalikan situasi di berbagai wilayah.


Pembakaran Balai Kota Limoges menjadi peringatan serius mengenai dampak kerusuhan terhadap fasilitas publik dan warisan sejarah. Gedung yang telah berdiri selama 143 tahun itu kini mengalami kerusakan berat akibat tindakan pembakaran yang diduga disengaja. Di tengah tuntutan masyarakat mengenai kondisi ekonomi dan pelayanan publik, pemerintah Prancis harus memastikan aspirasi warga tetap dapat disampaikan secara damai. Pada saat yang sama, pelaku kekerasan perlu dimintai pertanggungjawaban agar demonstrasi tidak kembali berubah menjadi aksi yang merugikan masyarakat luas.


#GP | DEF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS