Jakarta(DKI). GP– Jenazah anak buah kapal (ABK) Arupadhatu I, Surakman, yang hilang bersama rombongan lima jurnalis saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu. BMKG menjelaskan bagaimana jenazah tersebut dapat terbawa hingga ratusan kilometer dari lokasi terakhir kapal terdeteksi.
Kepala BMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati mengatakan kondisi arus laut di sekitar perairan Selat Sunda bagian barat Pandeglang menjadi salah satu faktor utama yang menjelaskan perpindahan jenazah tersebut.
Menurut Ana, berdasarkan informasi cuaca yang diberikan BMKG untuk mendukung operasi SAR sejak 10 September 2026, arus di wilayah tersebut secara konsisten bergerak ke arah barat. Kecepatan maksimum arus tercatat mencapai 1,5 meter per detik atau sekitar 5,4 kilometer per jam.
“Arus di sekitar perairan Selat Sunda Barat Pandeglang secara konsisten hingga akhir masa operasi mengarah ke barat dengan kecepatan maksimum mencapai 1,5 m/s,” kata Ana, Kamis (24/9/2026).
Setelah terbawa keluar dari Selat Sunda dan memasuki Samudra Hindia, pola arus berubah. Analisis BMKG menunjukkan arus laut kemudian bergerak ke arah barat laut, termasuk menuju wilayah perairan Bengkulu.
Kondisi tersebut membuat BMKG melihat adanya indikasi kuat jenazah Surakman terbawa arus laut hingga akhirnya terdampar di Pulau Enggano. Pulau tersebut berada di Bengkulu Utara dan terletak di kawasan Samudra Hindia, sebelah barat daya Pulau Sumatera.
Jarak Pulau Enggano dengan lokasi terakhir kapal rombongan jurnalis terdeteksi mencapai sekitar 345,05 kilometer berdasarkan pengukuran Google Earth. Kapal tersebut diketahui terakhir terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, wilayah Selat Sunda yang masuk Kabupaten Lampung Selatan.
Surakman merupakan satu dari delapan orang yang hilang setelah kapal Arupadhatu I yang membawa lima jurnalis dan tiga kru tidak diketahui keberadaannya pada 7 September 2026. Rombongan tersebut sebelumnya hendak menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan erupsi.
Jenazah pria ditemukan di Pulau Enggano pada 12 September 2026. Setelah ditemukan, jenazah dievakuasi dan proses identifikasi dilakukan oleh tim kepolisian dengan mencocokkan data antemortem dan postmortem keluarga delapan korban.
Proses pemeriksaan DNA kemudian memastikan jenazah tersebut merupakan Surakman, salah satu kru kapal Arupadhatu I. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kecocokan dengan DNA anak kandung Surakman.
Kapolda Banten Irjen Hengki menjelaskan proses identifikasi membutuhkan waktu sekitar 10 hari sejak sampel pemeriksaan dilakukan. Polisi menyebut proses tersebut dilakukan untuk memastikan identitas korban secara akurat sebelum hasilnya diumumkan kepada keluarga dan publik.
Selain analisis BMKG, penelitian mengenai pergerakan korban di laut juga dilakukan tim Ocean Climate Research Group (OCRG) dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN. Pemodelan menggunakan data arus, gelombang, serta angin untuk melihat kemungkinan jalur hanyut di perairan Selat Sunda hingga Samudra Hindia.
Peneliti BRIN Widodo Setiyo Pranowo mengatakan gelombang juga berpengaruh terhadap pergerakan objek atau korban di permukaan laut. Dalam simulasi yang dilakukan, ketepatan titik awal menjadi faktor penting karena perbedaan koordinat dapat menghasilkan jalur hanyut yang berbeda secara signifikan.
Sementara itu, proses pencarian terhadap delapan orang yang hilang telah dihentikan. Selain Surakman, lima jurnalis dan dua kru lainnya masih tercatat dalam daftar korban yang hilang dalam insiden kapal tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kondisi arus laut dapat membawa objek yang hanyut hingga sangat jauh dari lokasi awal. Dalam kasus Surakman, kombinasi arus di Selat Sunda dan pola arus setelah memasuki Samudra Hindia menjadi faktor yang membantu menjelaskan mengapa jenazah akhirnya ditemukan di Pulau Enggano, sekitar 345 kilometer dari titik terakhir kapal terdeteksi.
#GP | DF






Tidak ada komentar:
Posting Komentar