Tangerang(JABAR). GP– Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya memicu sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah, tetapi juga mengganggu aktivitas penerbangan di Indonesia. Salah satu penumpang yang terdampak adalah warga negara Prancis bernama Maxim yang mengaku telah menunggu hampir 24 jam di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten.
Maxim menyampaikan keluhannya saat berada di Terminal 3 Bandara Soetta pada Senin (7/9/2026). Ia mengatakan dirinya bersama penumpang lain masih belum mendapatkan kepastian kapan penerbangan dapat kembali berjalan normal.
Menurut Maxim, kondisi tersebut menjadi situasi yang sulit karena dirinya seharusnya sudah melakukan perjalanan menuju Prancis sehari sebelumnya. Namun, penerbangan yang telah direncanakan harus mengalami penundaan akibat dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
"Kami terjebak di bandara ini selama hampir 24 jam dan kami tidak punya solusi untuk kembali ke Eropa," ujar Maxim, sebagaimana diberitakan detikcom.
Ia mengaku semakin khawatir karena belum mengetahui secara pasti kapan Bandara Soetta akan kembali melayani penerbangan. Penutupan operasional bandara diperpanjang setelah abu vulkanik terdeteksi di kawasan ruang udara sekitar bandara.
Maxim menjelaskan, penerbangannya semula dijadwalkan berangkat pada Minggu malam. Namun, jadwal tersebut kemudian ditunda hingga Senin sekitar pukul 13.00 WIB.
Harapan untuk segera terbang kembali muncul ketika jadwal baru diberikan. Namun, kondisi kembali berubah setelah operasional Bandara Soetta masih dihentikan hingga pukul 18.00 WIB. Situasi itu membuat Maxim belum bisa memastikan kapan dirinya dapat meninggalkan Indonesia.
"Sebenarnya kami seharusnya terbang kemarin malam. Namun ditunda ke hari ini jam 1 siang. Tapi karena bandara ditutup sampai jam 6 sore, kami tidak tahu kapan kami bisa terbang," katanya.
Gangguan penerbangan tersebut terjadi setelah abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk kawasan Jakarta dan Banten. Kondisi abu vulkanik di ruang udara menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan keamanan penerbangan.
Penutupan Bandara Soetta juga berdampak pada jumlah penerbangan dan penumpang dalam skala besar. Laporan terbaru menyebut lebih dari 2.300 penerbangan terdampak di sejumlah bandara Indonesia dan lebih dari 270.000 penumpang terkena dampaknya.
Abu vulkanik memang menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena dapat mengganggu sistem dan mesin pesawat. Karena itu, keputusan untuk menghentikan sementara operasional bandara dilakukan sebagai langkah keselamatan hingga kondisi ruang udara dinilai cukup aman.
Pihak berwenang terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau dan pergerakan abu vulkanik. Sejumlah bandara juga melakukan penyesuaian operasional, termasuk pengalihan maupun penundaan penerbangan.
Bagi penumpang seperti Maxim, kondisi tersebut membuat perjalanan internasional yang seharusnya berlangsung sesuai jadwal berubah menjadi penantian panjang di bandara. Kepastian mengenai pembukaan kembali penerbangan menjadi hal yang paling dinantikan para penumpang yang terdampak.
Sementara itu, masyarakat dan calon penumpang pesawat diimbau terus memantau informasi resmi dari maskapai dan pengelola bandara. Jadwal penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan kondisi keselamatan ruang udara.
Erupsi Anak Krakatau kali ini menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat memberikan dampak luas hingga sektor transportasi udara. Tidak hanya masyarakat di sekitar kawasan gunung api yang terdampak, penumpang dari berbagai daerah dan negara juga harus menghadapi perubahan perjalanan akibat kondisi alam tersebut.
#GP | DF






Tidak ada komentar:
Posting Komentar