Gara-gara Sang Adik, Kursi Bupati Sujiwo Ikut Digoyang - Go Parlement | Portal Berita

Gara-gara Sang Adik, Kursi Bupati Sujiwo Ikut Digoyang

Sabtu, Agustus 15, 2026

 


Foto Ai hanya ilustrasi


GOPARLEMENT.COM- Banyak orang ingin hidupnya viral. Terkenal, dipuji, dan dibicarakan netizen dari pagi sampai malam. Tetapi viral juga punya sisi gelap. Sekali kamera merekam, cerita bisa berjalan ke mana-mana.



Itulah yang kini dihadapi Sujiwo, Bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat.



Selama ini Sujiwo dikenal cukup aktif tampil di ruang publik dan kerap menjadi sorotan media sosial. Ada yang menjulukinya “Bupati Konten”, bahkan menyamakannya dengan figur kepala daerah lain yang populer karena aktivitasnya di media sosial.



Namun kamera zaman sekarang memang tidak punya saudara. Ia tidak mengenal jabatan, hubungan darah, apalagi suasana duka. Apa yang terekam, bisa menyebar.



Sabtu, 8 Agustus 2026, nama Sujiwo kembali menjadi perbincangan setelah insiden yang melibatkan adik kandungnya, SU alias GI, di ruang resusitasi RSUD Tuan Besar Syarif Idrus.



Saat itu, adik ipar Sujiwo, Iin Sumirat, tengah dalam kondisi kritis. Persoalan bermula dari aturan ruang resusitasi yang hanya memperbolehkan dua orang keluarga mendampingi pasien. GI disebut tetap berada di dalam ruangan meski telah ditegur.



Situasi kemudian memanas. Insiden tersebut disebut berujung pada dugaan pemukulan terhadap seorang satpam dan seorang dokter perempuan.




Rekaman CCTV kemudian beredar di media sosial


Iin Sumirat selanjutnya dirujuk ke RSUD dr. Soedarso Pontianak. Namun nyawanya tidak tertolong.



Pihak rumah sakit menyatakan persoalan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan melalui mediasi. Pihak keluarga juga menyampaikan permintaan maaf.



Masalahnya, di zaman media sosial, persoalan yang sudah selesai secara kekeluargaan belum tentu selesai di mata publik.



Begitu CCTV beredar, ceritanya bisa berubah. Dari ruang resusitasi, merambat ke media sosial, lalu masuk ke ruang politik.



Sujiwo sendiri mengecam tindakan adiknya. Ia mempersilakan pihak yang merasa dirugikan menempuh jalur hukum dan menegaskan tidak akan melakukan intervensi terhadap proses tersebut.



Di tengah polemik itu, muncul pernyataan yang membuat persoalan semakin menarik secara politik.



Sujiwo menyatakan siap mundur dari jabatan Bupati Kubu Raya apabila memang hal tersebut menjadi kehendak rakyat.



Pernyataan itu sebenarnya bukan hal baru bagi Sujiwo.



Ia mengungkapkan, pada 2015 pernah mengundurkan diri sebagai anggota DPRD. Alasannya, ia merasa sudah tidak nyaman menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.



“Saya pernah lho tahun 2015 mundur dari anggota DPRD. Ketika saya sudah merasa tidak nyaman pada saat itu untuk memberikan pelayanan kepada rakyat, saya memilih untuk mundur.”



Ketika menjabat Wakil Bupati Kubu Raya periode 2019–2024, Sujiwo juga mengaku pernah menyatakan pengunduran diri. Saat itu, ia merasa belum banyak memberikan manfaat bagi masyarakat.



“Waktu wakil bupati saya juga pernah mundur. Ketika saya merasa tidak banyak manfaatnya untuk rakyat, untuk apa saya mempunyai jabatan. Maka saya mundur.”



Dengan demikian, ketika sekarang Sujiwo kembali bicara soal mundur, ia bukan orang yang baru mengenal pintu keluar dari kekuasaan.



Dulu mundur dari DPRD. Pernah menyatakan mundur sebagai wakil bupati. Kini, namanya terseret dalam desakan agar meninggalkan kursi bupati.




Politik memang kadang ajaib.


Kursi kekuasaan bisa terasa seperti kursi musik. Selama musik berbunyi, semua orang menikmati permainan. Tetapi ketika musik berhenti, pertanyaannya sederhana: siapa yang masih duduk dan siapa yang harus berdiri?



Menariknya, tidak semua suara di Kubu Raya meminta Sujiwo meninggalkan jabatannya.



Wakil Ketua DPRD Kubu Raya, Zulkarnain, justru meminta Sujiwo tidak terpengaruh oleh desakan tersebut. Ia menilai kinerja Sujiwo masih baik.



Artinya, polemik ini belum sampai pada satu kesimpulan.



Apakah Sujiwo benar-benar akan mundur?



Ataukah ia tetap bertahan dan membiarkan proses hukum terhadap sang adik berjalan sebagaimana mestinya?



Belum ada keputusan resmi.


Yang jelas, persoalan yang bermula di ruang resusitasi kini telah masuk ke ruang politik.



Ironisnya, Sujiwo selama ini dikenal viral karena aktivitas dan aksinya. Kali ini, namanya viral karena persoalan yang melibatkan sang adik.



Yang ikut bergetar bukan hanya jagat maya.



Kursi Bupati Kubu Raya pun ikut bergoyang.


Inilah salah satu risiko menjadi pejabat yang hidup berdampingan dengan kamera. Ketika prestasi terekam, nama ikut terangkat. Ketika keluarga tersandung persoalan, nama pun bisa ikut terseret.



Kamera tidak punya saudara.



Ia hanya merekam.



Netizen yang menilai.



Publik yang bereaksi.



Sejarah yang kemudian mencatat.


Dan kursi bupati?


Untuk sementara masih diduduki.


Tetapi politik selalu menyisakan satu pertanyaan. 


Akan tetap di sana, atau suatu hari benar-benar ditinggalkan?



#GP | Rosadi Jamani | Red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS