Cerbung — Episode 4: Bukan Nara?
Catatan: Cerbung ini sepenuhnya karya fiksi. Nama tokoh, tempat, karakter, dialog, dan rangkaian peristiwa merupakan rekaan. Kemiripan dengan orang atau kejadian nyata adalah kebetulan dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap pihak tertentu.
GOPARLEMENT.COM- Jaka masih memandangi foto itu.
Sudah hampir sepuluh menit.
Foto yang sebenarnya biasa saja, tetapi entah mengapa terasa seperti menyimpan rahasia.
Di bagian depan terlihat Petruk dan Melati.
Di belakang, ada seseorang berseragam tenaga kesehatan.
Wajahnya tidak terlalu jelas.
Namun ada satu hal yang membuat Jaka penasaran.
Lencana di dadanya.
Dua huruf pertama tampak seperti.
NA...
Dan satu nama langsung muncul di kepalanya.
Nara.
Jaka menarik napas.
"Jangan-jangan..."
Ia kembali memperbesar foto.
Tetap buram.
"Ah, sial."
Jaka hampir meletakkan telepon ketika pesan dari Raka masuk.
"Jangan buru-buru menyimpulkan."
Jaka mengernyit.
Seolah Raka bisa membaca pikirannya.
Jaka membalas.
"Kamu tahu sesuatu?"
Tidak lama kemudian balasan masuk.
"Aku tahu kamu sedang mencurigai Nara."
Jaka terdiam.
"Dari mana kamu tahu?"
Raka menjawab singkat.
"Karena kamu bukan orang pertama yang mencurigainya."
Jaka langsung duduk tegak.
Orang Pertama yang Menuduh.
"Siapa?"
Raka tidak menjawab.
Jaka kembali mengirim pesan.
"Raka, siapa?"
Lama.
Kemudian.
"Besok kita bicara."
Jaka menghela napas.
"Orang ini memang hobi bikin penasaran."
Ia meletakkan telepon.
Namun beberapa detik kemudian telepon kembali berbunyi.
Pesan dari Raka.
"Dan satu lagi. Jangan tanya Nara sekarang."
Jaka semakin bingung.
"Kenapa?"
"Karena kalau dia memang tidak terlibat, kamu akan membuat orang yang tidak bersalah merasa bersalah."
Jaka terdiam.
Kalimat itu tepat mengenai pikirannya.
Ia sadar, dirinya mulai melakukan hal yang sejak awal justru ingin ia hindari.
Mencari seseorang untuk dijadikan jawaban.
Keesokan paginya Jaka menemui Sapan.
Sapan sedang duduk sambil menikmati kopi.
"Pan."
Sapan mengangkat kepala.
"Kalau kamu mau tanya soal mobil lagi, saya pulang."
Jaka tertawa.
"Belum apa-apa."
"Saya sudah trauma."
"Trauma?"
"Iya."
"Karena apa?"
"Karena sejak kejadian Jumat, kamu kalau lihat mobil goyang sedikit langsung berubah jadi detektif."
Jaka tertawa.
"Sudahlah."
Ia kemudian menunjukkan foto tersebut.
Sapan melihatnya.
Wajahnya serius.
"Menurutmu ini siapa?"
Sapan memperbesar foto.
"Enggak tahu."
"Mirip Nara?"
Sapan melihat lagi.
"Kalau kamu tanya mirip, banyak orang bisa mirip."
"Jadi?"
"Jadi jangan asal tuduh."
Jaka mengangguk.
Sapan mengembalikan telepon.
Kemudian tiba-tiba berkata.
"Tapi ada yang aneh."
"Apa?"
"Orang ini..."
Sapan menunjuk bagian kaki.
"...memakai sepatu yang berbeda."
Jaka mengerutkan dahi.
"Terus?"
"Kalau Nara yang biasa saya lihat, dia memakai sepatu hitam."
Jaka terdiam.
Sapan melanjutkan:
"Orang di foto ini pakai sepatu putih."
Jaka langsung memperbesar foto.
Benar.
Sepatunya berwarna putih.
Jaka menatap Sapan.
Sapan mengangkat bahu.
"Jadi?"
Jaka tersenyum.
"Berarti bukan Nara?"
Sapan menjawab datar.
"Belum tentu."
Jaka mengeluh.
"Kenapa jawabanmu selalu begitu?"
"Karena saya tidak mau masuk berita."
Jaka tertawa.
Satu Foto, Banyak Tafsir
Mereka kemudian memperhatikan foto lebih teliti.
Sapan menunjuk latar belakang.
"Ini diambil dari arah sana."
"Yakin?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena posisi pohon dan tiang parkirnya."
Jaka mulai memahami.
Jika foto itu diambil dari sisi tertentu, berarti orang yang memotret berdiri tidak jauh dari lokasi.
"Berarti fotografernya dekat."
"Ya."
"Dan orang yang terlihat di belakang juga dekat."
"Ya."
Jaka terdiam.
"Tapi kenapa orang itu tidak terlihat jelas?"
Sapan mengangkat bahu.
"Karena foto bukan kamera CCTV."
Jaka tertawa.
"Pan, sekali-sekali jawabanmu jangan seperti petugas keamanan."
"Memang saya petugas keamanan."
Keduanya tertawa.
Namun setelah tawa reda, Jaka kembali serius.
Ada sesuatu yang mengganjal.
Jika orang tersebut berada cukup dekat, mengapa foto itu diambil dari sudut yang tidak terlalu jelas?
Seolah-olah fotografer sengaja menghindari dirinya sendiri terlihat.
Nara.
Di waktu yang sama, Nara sedang berada di ruang perawat.
Seorang rekannya datang.
"Nar."
"Ya?"
"Ada yang cari kamu."
"Siapa?"
"Jaka."
Tangan Nara berhenti.
"Jaka?"
"Iya."
"Untuk apa?"
"Enggak tahu."
Nara terlihat sedikit gelisah.
"Dia bilang apa?"
"Katanya mau tanya sesuatu."
Nara menarik napas.
Ia tahu kejadian Jumat masih menjadi pembicaraan.
Tetapi ia tidak tahu mengapa Jaka mencarinya.
Beberapa menit kemudian Jaka datang.
"Nara."
"Ya?"
"Maaf mengganggu."
"Enggak apa-apa."
Jaka ragu.
Ia teringat pesan Raka.
Jangan tanya Nara sekarang.
Namun rasa ingin tahunya terlalu besar.
Akhirnya ia bertanya.
"Jumat kemarin kamu ada di mana?"
Nara menatapnya.
"Di rumah sakit."
"Jam berapa?"
Nara mulai heran.
"Kenapa?"
"Enggak apa-apa. Saya cuma memastikan."
Nara tersenyum tipis.
"Memastikan apa?"
Jaka tidak menjawab.
Nara kemudian berkata.
"Kalau kamu mau tanya soal kejadian Petruk dan Melati, saya juga dengar dari orang lain."
Jaka terkejut.
"Kamu tidak melihat?"
"Tidak."
"Jadi kamu tidak tahu apa yang terjadi?"
Nara menggeleng.
"Tidak."
Jaka diam.
Kemudian Nara bertanya.
"Kenapa kamu bertanya kepada saya?"
Jaka hampir menjawab.
Namun ia mengurungkan niat.
"Enggak apa-apa."
Ia kemudian pergi.
Nara memperhatikan Jaka sampai menghilang di ujung lorong.
Wajahnya berubah.
Ia seperti tahu ada sesuatu yang sedang dicari Jaka.
Satu Kesalahan Kecil
Ketika Jaka keluar dari gedung, teleponnya berbunyi.
Raka.
"Sudah ketemu Nara?"
"Sudah."
"Terus?"
"Dia tidak tahu apa-apa."
Raka tertawa kecil.
"Bagus."
"Bagus bagaimana?"
"Berarti kamu belum salah menuduh."
Jaka terdiam.
"Tapi ada sesuatu yang aneh."
"Apa?"
"Di foto, orang itu memakai sepatu putih."
Raka tidak menjawab.
"Raka?"
"Jaka..."
"Iya?"
"Foto yang kamu punya itu versi pertama atau versi kedua?"
Jaka mengerutkan dahi.
"Memangnya ada dua?"
Hening.
Kemudian Raka berkata.
"Nah, itu yang harus kamu cari tahu."
Jaka langsung berhenti berjalan.
"Jadi ada foto lain?"
"Ada."
"Seperti apa?"
"Foto kedua diambil beberapa menit setelah foto pertama."
"Dan?"
Raka menjawab.
"Di foto kedua, orang yang berada di belakang Petruk dan Melati sudah tidak ada."
Jaka terdiam.
"Terus siapa yang berdiri di sana?"
Raka tidak menjawab.
"Raka!"
Suara Raka akhirnya terdengar.
"Tidak ada siapa-siapa."
Jaka membeku.
Jika benar demikian, berarti ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Seseorang terlihat pada foto pertama.
Beberapa menit kemudian hilang dari tempat itu.
Tetapi pertanyaannya.
Ke mana orang itu pergi?
Dan yang lebih penting...
siapa sebenarnya orang tersebut?
Jaka kemudian meminta foto kedua.
Beberapa menit kemudian foto itu masuk.
Jaka membukanya.
Memperbesar.
Memperhatikan.
Kemudian wajahnya berubah.
Sapan yang berdiri di sampingnya ikut melihat.
"Apa?"
Jaka tidak menjawab.
"Kenapa?"
Jaka menunjuk layar.
Di foto kedua, memang tidak ada lagi sosok berseragam tersebut.
Tetapi ada sesuatu yang lain.
Bayangan seseorang terlihat di kaca mobil.
Jaka dan Sapan saling berpandangan.
Sapan berbisik.
"Jaka..."
"Iya?"
"Kalau orangnya sudah pergi..."
Jaka melanjutkan.
"...kenapa bayangannya masih ada?"
Keduanya terdiam.
Lalu Jaka tertawa kecil.
"Pan."
"Apa?"
"Jangan-jangan kita memang butuh libur."
Sapan mengangguk.
"Setuju."
Mereka tertawa.
Tetapi tawa itu segera berhenti.
Karena Jaka kembali memperbesar bayangan tersebut.
Dan kali ini ia melihat sesuatu yang membuat wajahnya berubah serius.
Bayangan itu tidak mengenakan seragam yang sama.
Artinya...
mungkin ada dua orang berbeda di sekitar mobil pada waktu yang hampir bersamaan.
Jaka menatap Sapan.
Misteri yang semula hanya tentang sebuah mobil kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan tanpa mereka sadari...
permainan sebenarnya baru saja dimulai.
Bersambung...
#GP | Goresan Penulis






Tidak ada komentar:
Posting Komentar