Padang Panjang(SUMBAR).GP – Pagi itu, 28 Juni 1926, langit di Sumatera Barat tampak cerah dan biasa saja. Warga Padang Panjang dan sekitarnya menjalani aktivitas seperti biasa, tanpa firasat sedikitpun bahwa bencana terbesar dalam sejarah sebelum era modern, gempa sedang mengintai daerah itu .
Sekitar pukul 10.00 pagi, bumi tiba-tiba berguncang hebat. Getaran pertama begitu dahsyat hingga bangunan bergoyang liar, atap runtuh, dan orang-orang berlarian panik. Belum sempat keadaan tenang, beberapa jam kemudian gempa susulan yang tak kalah kuat kembali mengguncang, memperparah kehancuran yang baru saja terjadi.
Gempa berkekuatan sekitar 7,6 – 7,8 Skala Richter ini mencatat sejarah kelam bagi Sumatera Barat. Meskipun dikenal dengan sebutan "Gempa Padang Panjang", episentrum sebenarnya berada di sekitar Danau Singkarak, wilayah Solok, yang merupakan bagian aktif dari Sesar Besar Sumatra atau Sesar Semangko. Guncangan terasa begitu luas, mulai dari Padang Panjang, Bukittinggi, Sawahlunto, hingga Maninjau.
Dalam hitungan menit, kota berubah menjadi puing-puing. Ribuan rumah roboh, stasiun kereta api hancur lebur, jembatan putus, dan tanah retak serta longsor di berbagai titik.
Di Padang Panjang saja, tercatat lebih dari 2.300 rumah hancur total. Ratusan bangunan lain di wilayah sekitar ikut rata dengan tanah. Korban jiwa diperkirakan mencapai lebih dari 350 orang, dengan ribuan lainnya luka-luka.
Yang membuat peristiwa ini semakin mengerikan adalah fenomena langka yang terjadi pascagempa. Guncangan kuat memicu gelombang besar (seiche) di Danau Singkarak, yang sering disebut sebagai "tsunami danau". Air danau meluap dahsyat menghantam pemukiman di tepian, menambah derita dan korban jiwa saat itu.
"Bukan hanya daratan yang hancur, air pun seolah ikut mengamuk," tulis catatan sejarah. Selama berhari-hari gempa susulan terus terjadi, membuat warga hidup dalam ketakutan, banyak yang memilih tidur di luar rumah karena trauma.
Peristiwa ini begitu membekas di hati masyarakat Minangkabau, hingga generasi lama sering menandai usia mereka dengan kalimat sakti: "Saya lahir waktu gempa Padang Panjang."
Gempa Padang Panjang 1926 bukan hanya peristiwa alam biasa. Ini adalah Gempa besar akibat aktivitas Sesar Sumatra (Segmen Sianok/Singkarak).
Mengenang Sejarah, Membangun Kesiapsiagaan.
Gempa 1926 bukan sekadar cerita masa lalu. Ini adalah peringatan keras bahwa Sumatera Barat berada di jalur gempa aktif yang sewaktu-waktu bisa bergerak kembali.
Menyadari pentingnya memaknai sejarah ini, Perkumpulan Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (PJKIP) Padang Panjang bersama Alpha Rescue mengambil langkah konkret akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema "Satu Abad Gempa Padang Panjang".
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni atau upacara pengenang. Lebih dari itu, forum ini dirancang sebagai ruang diskusi serius untuk membahas kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan.
"Kami ingin sejarah ini tidak hanya dikenang, tapi dijadikan pijakan. FGD ini bertujuan mendorong peran aktif pemerintah dalam meningkatkan edukasi kebencanaan kepada masyarakat, mulai dari pemahaman risiko, prosedur evakuasi, hingga mitigasi," ungkap Munafri dibenarkan Eko Susilo saat "Diskusi Wartawan" bersama Nova Indra
di cenel: https://youtu.be/WmwJ01fy_b4
FGD ini akan menghadirkan narasumber kompeten di bidang sejarah dan kebencanaan, forum ini juga membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, jurnalis, dan masyarakat.
Tujuannya FGD ini satu, memperkuat sistem informasi publik agar ketika sejarah kembali berulang, kita sudah siap, bukan hanya pasrah.
#GP| Ce | Referensi: Kompas | Liputan6 | Padangkita.com | Harian Singgalang

.png)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar