Sijunjung (SUMBAR).GP – Komitmen menghadirkan pendidikan usia dini di kawasan transmigrasi terus ditunjukkan di UPT Padang Tarok, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung.
Meski jumlah peserta didik tahun ini hanya empat orang, semangat belajar anak-anak dan dukungan orang tua tetap tinggi.
Kepala UPT Padang Tarok, Poniman, menjelaskan hal itu via WhatsAppnya , Sabtu (14/2/2026) bahwa pada awalnya terdapat dua taman kanak-kanak yang berdiri hampir bersamaan pada tahun ajaran baru 2019.
“Semula ada dua TK, yaitu TK Madani di Blok A dan RA Al Hidayah di Blok D,” ujar Poniman.
TK Madani yang berada di Blok A didirikan secara swadaya oleh masyarakat. Tenaga pengajarnya adalah Susi Maharani Dewi. Untuk menunjang kegiatan belajar, TK Madani mendapat bantuan peralatan sekolah dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sijunjung serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sumatera Barat.
Sementara itu, TK kedua adalah RA Al Hidayah yang berlokasi di Blok D dengan guru Ade Indah Susanti. Operasional sekolah ini didukung dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Kementerian Agama Republik Indonesia.
Setelah kurang lebih tiga tahun berjalan, kedua lembaga pendidikan tersebut akhirnya digabung menjadi satu. Proses belajar mengajar kini dipusatkan di gedung kantor UPT yang berada di Blok C.
“Sekarang menjadi satu, dan kegiatan belajar dilaksanakan di gedung kantor UPT di Blok C. Dana operasional berasal dari BOS Kemenag,” terang Poniman.
Dua tenaga pendidik yang mengajar saat ini adalah Ade Indah Susanti, warga transmigran asal Jawa Tengah angkatan 2018, dan Susi Maharani Dewi, warga transmigran asal Klaten, Jawa Tengah angkatan 2016.
Menurut Poniman, respon dan minat belajar anak-anak di lingkungan UPT Padang Tarok sangat baik. Orang tua dari berbagai blok, mulai dari Blok A, B, D hingga E, tetap bersemangat mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah yang kini terpusat di Blok C.
“Bahkan ada orang tua yang menunggu anaknya mulai belajar sampai pulang sekolah. Mereka sangat antusias meskipun harus antar-jemput ke sekolah,” ungkapnya.
Namun demikian, untuk tahun ajaran ini jumlah anak usia TK di kawasan tersebut memang terbatas, sehingga hanya terdapat empat murid yang terdaftar. Meski jumlahnya sedikit, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung aktif dan penuh semangat.
Keberadaan TK di kawasan transmigrasi ini menjadi bukti bahwa pemerataan pendidikan hingga pelosok tetap menjadi prioritas, sekaligus menunjukkan kuatnya semangat gotong royong dan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan generasi penerus bangsa.
#GP | Herman.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar